Cerita Eks Kitman Timnas Indonesia Jadi Penjual Nasi Goreng hingga Kerja di BNN

Bola.com, Gresik - Perjalanan karier dalam dunia sepak bola terkadang sulit ditebak. Ada sejumlah nama yang sempat menjalani karier gemilang sebagai pemain, tapi kemudian mendapat pekerjaan di luar bidang sepak bola.

Hal itulah yang dialami oleh Badrudin. Pria asal Bawean, Kabupaten Gresik, itu pernah menjadi bagian dari Timnas Indonesia U-23. Bukan sebagai pemain atau pelatih, tetapi menjadi bagian perlengkapan atau yang biasa disebut dengan kitman.

Selama bertahun-tahun sejak 1980-an, pria yang akrab disapa Udin itu menjadi kitman. Kini, dia membuka warung makanan yang laris manis di Gresik. Bagaimana kisah awalnya?

Perkenalan Udin dengan dunia sepak bola terjadi pada 1988, saat lahirnya Petrokimia Putra yang berkompetisi di Galatama. Dia direkrut menjadi bagian dari tim yang baru terbentuk saat itu.

“Saya diajak Ronny Pattinasarani (pelatih Petrokimia Putra). Selama bertahun-tahun tetap di Petro sampai juara 2002. Kemudian, degradasi dua tahun dan dimerger dengan Persegres jadi Gresik United pada 2005,” kata Udin dalam wawancaranya di kanal YouTube Pinggir Lapangan.

Saksi Sejarah Petrokimia

Petrokimia Putra - Juara Liga Indonesia 2002 (Bola.com/Adreanus Titus)
Petrokimia Putra - Juara Liga Indonesia 2002 (Bola.com/Adreanus Titus)

Udin menjadi saksi perjuangan klub asal Gresik dalam menggoreskan catatan di sejarah sepak bola Indonesia. Momen paling puncaknya tentu ikut dalam tim yang menjuarai Divisi Utama 2002. Sayang, performa Petrokimia turun di musim berikutnya dan terdegradasi ke Divisi I 2004.

Undian masih berada di klub itu sampai akhirnya Timnas Indonesia U-23 melakukan pemusatan latihan atau TC di Gresik pada 2011. Dia awalnya membantu perlengkapan, tapi kemudian benar-benar dipekerjakan sebagai kitman.

“Saya diajak Widodo Cahyono Putro ke Timnas SEA Games 2011 waktu final lawan Malaysia dengan pelatih kepala Rahmad Darmawan,” ucap Udin.

Kerja di Timnas Indonesia U-23

Badrudin saat menjadi kitman Timnas Indonesia U-23. (Youtube Pinggir Lapangan)
Badrudin saat menjadi kitman Timnas Indonesia U-23. (Youtube Pinggir Lapangan)

Publik menaruh perhatian lebih pada SEA Games 2011 dengan status Indonesia sebagai tuan rumah saat itu. Partai final mempertemukan Indonesia dengan Malaysia dan membuat pertandingan jadi semakin menarik.

Maklum saja, setahun sebelumnya di Piala AFF 2010, timnas senior kedua negara itu juga bertemu di final. Sayang, Indonesia masih belum mengangkat trofi karena kalah dengan skor agregat 2-4 dari Malaysia.

SEA Games 2011 diharapkan bisa jadi ajang balas dendam. Materi pemainnya juga cukup mumpuni dengan muncul nama macam Kurnia Meiga, Andik Vermansah, Patrich Wanggai, Diego Michiels, Ferdinan Sinaga, dll.

Sayang, Timnas Indonesia U-23 masih harus menunda meraih emas setelah terakhir mendapatkannya pada 1991. Saat itu, Malaysia menang babak adu penalti dengan skor 4-3, setelah bermain imbang 1-1 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 21 November 2011.

Timnas Senior, Cafe Widodo

Jersey Persegres Gresik milik Widodo C. Putro. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)
Jersey Persegres Gresik milik Widodo C. Putro. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Udin tetap berada di timnas sampai beberapa tahun kemudian, tapi masuk ke tim senior. Dia pernah bekerja dengan Aji Santoso, Nilmaizar, hingga Jacksen Tiago yang jadi pelatihnya.

Pada momen itu, sepak bola Indonesia sedang diguncang dualisme, mulai dari federasi, timnas, hingga kompetisi. Dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Gresik dan menjadi kitman Gresik United.

Hingga akhirnya, Widodo Cahyono Putro, yang kini jadi pelatih Bhayangkara FC, mengajaknya bekerja kembali. Bukan status kitman yang didapatnya, melainkan karyawan kafe yang baru dibuka oleh Widodo.

“Saya ikut bekerja di kafenya selama tiga tahun. Saya juga belajar masak di sana. Akhirnya, saya mencoba memberanikan diri membuka warung makanan sendiri, jualan nasi goreng, ayam geprek, krengsengan, dan lain-lain,” ungkapnya.

“Namanya Kebo Giras, julukan Petrokimia. Saya lengket dengan Petrokimia, saya abadikan julukannya jadi nama warung saya. Banyak teman-teman Ultras Gresik yang kenal saya dan ikut beli di sini,” imbuhnya.

Usaha Kuliner

Tak disangka, warung makanan pria berusia 56 itu ramai pembeli. Dia membuka setiap hari pada 18.00-23.00 WIB. Bahkan, Udin sampai menghabiskan sekitar 10 kilogram beras dalam sehari berjualan.

Pekerjaan yang dijalani Udin belum sampai situ. Dari sepak bola menuju kuliner, Udin juga berkesempatan bekerja di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gresik. Kini apa perannya?

“Kalau pagi saya bantu-bantu, bersih-bersih di kantor BNN Gresik. Sudah dua tahun jadi tenaga lepas,” ucap pemilik nama lengkap Raden Badrudin tersebut.

Yang paling membuat Udin merasa menikmati aktivitas barunya adalah berjualan di warung makanan. Dia mencoba terus masakan-masakan yang mungkin diminati oleh para pelanggannya.

“Ada istri saya (membantu berjualan makanan). Sehari sampai 10 kilogram beras. Buka pukul 6 sampai 11 malam. Setiap hari buka, tidak pernah libur,” ujarnya.