Cerita Epidemiolog Hadi Pratomo Tahan Rindu Tak Bertemu Cucu Selama Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Hampir delapan bulan epidemiolog yang juga Dewan Ahli Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hadi Pratomo menahan rindu tak bertemu cucu akibat COVID-19. Ia memilih diam di rumah mengingat mobilitas punya peran dalam transmisi virus SARS-CoV-2.

Menilik berbagai studi yang menunjukkan bahwa penambahan kasus sangat dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat, Hadi berpendapat bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan adalah diam di rumah.

“Paling bagus ya stay home, tidak ke mana-mana. Saya sudah 8 bulan juga tidak bertemu cucu, kita bisa nahan. Artinya, kita harus menjadi contoh. Kadang-kadang kalau lihat berita kan masih ada pejabat yang tidak konsisten, itu saya kira tidak bagus untuk masyarakat. Jadi kita harus memberikan contoh,” ujar Hadi dalam acara bincang-bincang bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sabtu (31/10/2020).

Hadi menambahkan, jika memang terpaksa harus pergi maka orang yang bepergian itu harus tahu tata cara dan protokol kesehatan agar tidak tertular dan menularkan.

Protokol kesehatan tidak hanya harus dilaksanakan oleh orang yang bepergian tapi juga oleh orang yang menerima kedatangan tamu atau keluarga dari luar.

“Kalau dulu harus salaman, sekarang salaman itu berbahaya. Jadi harus sama-sama tahu bahwa bentuk sentuhan, ciuman, pelukan, rangkulan, itu perlu dihindari.”

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Mengobati Rindu dengan Cucu

Untuk mengurangi rasa rindu pada cucu, Hadi memanfaatkan teknologi agar tetap terhubung. Ia mengaku sering menghubungi cucunya melalui gawai dan saluran internet.

“Kalau kita pakai video call saja, saya di rumah dengan istri saya saja kalau ada perlu ya kita telepon. Itu tadi, kita harus memberikan contoh.”

Aturan diam di rumah yang dianjurkan Hadi sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan hubungan erat antara mobilitas masyarakat dengan penurunan kasus dan kematian akibat COVID-19.

Salah satunya, studi dari Yilmazkuday, professor ekonomi dari Florida International University, yang menjelaskan bahwa 1 persen peningkatan masyarakat yang berdiam di rumah akan mengurangi 70 kasus dan 7 kematian mingguan.

Bahkan, 1 persen pengurangan mobilitas masyarakat menggunakan transportasi umum di terminal, stasiun, maupun bandara akan mengurangi 33 kasus dan 4 kematian mingguan.

Infografis COVID-19

Infografis Total Kasus Covid-19, Indonesia Salip China. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Total Kasus Covid-19, Indonesia Salip China. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini: