Cerita Gibran Naik Pitam, Gara-Gara Tukang Parkir dan Paspampres

Merdeka.com - Merdeka.com - Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka tidak dapat menyembunyikan kemarahannya saat mengetahui sesuatu hal yang melenceng dari aturan. Setidaknya terdapat dua momen yang membuat Gibran marah.

Kejadian tersebut terjadi saat momen Car Free Day (CFD) yang diselenggarakan di Jalan Slamet Riyadi. Dia marah besar lantaran mengetahui tarif parkir di area tersebut naik. Tarif pada hari biasa hanya Rp2.000, namun pada hari Minggu lalu naik menjadi Rp3.000. Meskipun tak seberapa, kenaikan tersebut mulai meresahkan para pengunjung.

Gibran pun menunjukkan kemarahannya dan mengancam akan mencabut izin yang dimiliki para juru parkir nakal.

"Pokokmen nek ono sing nakal-nakal ojo dibayar (pokoknya kalau ada yang nakal jangan dibayar). Opo meneh sing diurek-urek itu saya enggak suka yang kaya gitu (apalagi dicoret-coret saya enggak suka)," tegas Gibran.

Meski tidak semua pengunjung CFD mempermasalahkan hal tersebut, Gibran akan tetap menindak para juru parkir nakal. Sebagian warga bahkan mengaku tidak dibolehkan parkir jika tidak membayar parkir sesuai tarif yang diminta juru parkir.

"Kalau enggak boleh parkir yo difoto saja. Nanti kita cabut id-nya," jelasnya.

Putra sulung Presiden Joko Widodo itu memastikan jika tindakan yang dilakukan juru parkir itu adalah bentuk pelanggaran. Dalam peraturan karcis parkir yang dikeluarkan Dinas Perhubungan Kota Solo, sudah jelas mengatur tentang tarif parkir. Namun masih saja ada juru parkir yang mengakalinya dengan mencoret tarif tertera dan menggantinya dengan angka lain.

"Pokoknya jangan dibayar. Itu wis pasti penyimpangan," tandasnya.

Gibran menegaskan tengah menggencarkan penertiban aturan ini. Dia merasa perlu ada ketegasan agar tidak ada penyimpangan tarif parkir. "Kalau meresahkan masyarakat yo seperti itu. Kemarin wis ono aturane. Nanti kita cek satu satu. Nek ono sing koyo ngono fotonen," tandasnya.

Pada bulan Agustus lalu, Gibran emosi terhadap salah satu anggota Paspampres lantaran melakukan pemukulan terhadap sopir truk di simpang empat Girimulyo, Manahan. Terlebih, korban merupakan warga Solo yang sedang bekerja.

"Saya enggak terima warga saya digituin, dia enggak salah kok. Paspampresnya juga tidak dalam posisi mengawal siapa-siapa," kata Gibran.

Meskipun telah berdamai, Gibran tetap mengkhawatirkan kondisi psikis korban yang mungkin merasa tertekan atau terintimidasi.

"Itu urusanku, tanggung jawabku," tegas Gibran.

Namun menurut penilaian Gibran, permasalahan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Apalagi permintaan maaf baru dilakukan setelah video pemukulan tersebut viral di media sosial.

"Nek ora viral ora minta maaf dan ngembaliin SIM," ujar Gibran.

Gibran menegaskan, akan bertanggung jawab dengan kasus yang menimpa warganya itu. Dia pun enggan untuk menyampaikan berapa jumlah pelaku pemukulan, tetapi Ia mengaku sudah menyimpan video rekaman CCTV saat kejadian.

"Ngakunya satu. Pokokke wis tak simpen, nanti kalau ngerti-ngerti (tahu-tahu) ilang, aku wis nyimpen," tandasnya.

Sementara terkait ganti rugi terhadap korban, Gibran menyatakan sudah ada yang mengurusnya. Hal tersebut juga sudah dibicarakan dengan sopir, pemilik truk dan Komandan Paspampres.

"Wis diurus, wis ono sing ngurus, tenang wae. Tadi bapaknya, drivernya sama pimpinannya kan dua-duanya di sini," katanya.

Gibran juga sempat memanggil pelaku pemukulan bernama Hari Misbah yang merupakan anggota Paspampres ke Balai Kota, juga korban yang merupakan sopir truk, dan pemilik mobil rental serta sopir yang digunakan anggota Paspampres.

Usai pertemuan tersebut, anggota Paspampres Hari Misbah mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada korban maupun masyarakat Kota Solo.

"Saya salah, saya minta maaf atas kesalahan saya dan tidak akan mengulangi kesalahan saya. Saya minta maaf kepada bapak yang saya pukul dan keluarganya. Karena perbuatan saya, mungkin menyakiti hati dan keluarganya," ujarnya.

Emosi Gibran kembali memuncak saat itu. Saat Hari Misbah menyampaikan permintaan maaf di hadapan wartawan, dia tiba-tiba menarik masker yang digunakan hingga terputus talinya dan jatuh ke lantai.

Setelahnya, Gibran kemudian berdiri di belakang Hari dengan kedua tangan bersedekap didada. Raut muka Gibran terlihat marah memandangi Hari yang sedang memberi keterangan pers.

Hari kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada korban, keluarga dan masyarakat Solo. Ia mengaku khilaf sehingga bertindak arogan melakukan pemukulan terhadap sopir truk yang berserempetan dengan mobil yang ditumpanginya.

"Saya salah, saya minta maaf atas kesalahan saya dan tidak akan mengulangi kesalahan saya. Saya minta maaf kepada bapak yang saya pukul dan keluarganya. Karena perbuatan saya, mungkin menyakiti hati dan keluarganya," ujarnya.

Gibran menilai permintaan maaf tersebut belum cukup dan belum menyelesaikan permasalahan. Apalagi permintaan maaf disampaikan setelah beberapa hari peristiwa terjadi dan viral di media sosial.

"Bagi saya belum cukup. Mereka minta maaf kan karena beritanya viral. Kalau enggak viral mereka enggak mungkin minta maaf. Saya enggak terima warga saya digituin, dia enggak salah kok. Paspampresnya juga tidak dalam posisi mengawal siapa-siapa," ujar dia.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]