Cerita Heryadi, si pengrajin perahu asal Cilincing

MERDEKA.COM. Himpitan ekonomi membuat warga pinggiran Kali Cakung terus berputar otak untuk menyambung hidup. Seperti yang dilakukan Heryadi (28), yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat perahu.

Heryadi merasa beruntung punya keahlian itu. Dengan keahlian yang dia miliki, Heryadi bangga bisa menyediakan perahu-perahu untuk orang-orang yang hobi memancing.

Biasanya, ada dua bentuk perahu yang dikerjakan. Yakni bentuk dua kepala dan satu kepala.

"Jadi ada dua kapal yang biasa ada di nelayan sini, kapal dua kepala dan satu kepala," kata Heryadi saat berbincang dengan merdeka.com, di pinggiran kali Cakung Drainese, Jakarta, Selasa (30/7).

Heryadi menjelaskan, untuk perahu kepala dua biasanya memakai mesin diesel yang diletakkan di dalam kapal. Sedangkan perahu satu kepala memakai mesin tempel, yang diletakkan tepat di belakang kapal laut.

"Yah bedanya cuma di posisi mesin saja, tapi untuk para penghobi mancing milihnya kebanyakan pakai kapal satu kepala," beber Heryadi.

Untuk proses pembuatannya, lanjut Heryadi, ada lima tahapan yang harus dilalui hingga perahu menjadi bentuk utuh dan bisa dioperasikan. Hal menarikan dari proses pembuatan perahu ini saat membentuk lengkungan di bagian badan perahu. Caranya, pengrajin membakar kayu hingga bisa mengikuti lekuk bodi kapal itu sendiri.

"Pertama kali kepala kapal yang biasa disebut serang, terus lunas untuk menghubungkan kemudi kapal. Habis itu bodi kapal, tulang kapal, Gading berdiri, papan samping, dan paling terakhir papan penutup bodi," jelas Heryadi sambil menunjukkan proses pembakaran kayu.

Heryadi menambahkan, pembuatan perahu akan lebih sulit jika bahan yang digunakan terbuat dari kayu jati. Selain harganya mahal, kayu jati yang diterimanya masih berbentuk gelondongan kayu bulat.

"Yang paling susah ya kayu jati, masih berbentuk pohon soalnya. Kalau kayu yang lainnya sudah berbentuk papan," ujarnya.

Jika sepi pesanan, Heryadi dan belasan pengrajin kapal laut yang berada di Cilincing biasanya hanya menerima reparasi perahu.

Karena penghasilan tak tetap, Heryadi dan pengrajin perahu lainnya berharap ada perhatian khusus pemerintah dan instansi lain pada nasib pekerjaan tradisional seperti mereka.

"Kalau tiga bulan engga ada 'nukang' bikin kapal laut yah, biasanya kita cuma terima reparasi kapal yang sudah ada saja. Kita sih berharap ada perhatian khusus pemerintah dalam pekerjaan kita ini, seperti apa yah biar lebih terkenal, biar ordernya makin banyak," katanya sambil tertawa.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.