Cerita hidup 70 tahun Taufiq Kiemas

MERDEKA.COM, Memasuki usia 70 tahun, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas telah menyimpan banyak kesan dalam perjalanan hidupnya. Tahun ini, ulang tahun yang berlangsung pada 31 Desember mendatang menjadi lebih berkesan, kisah hidupnya disimpan rapi dalam sebuah buku.

Buku yang diberi judul "Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam" itu diberikan Taufiq kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Boediono.

"Saya membicarakan bahwa saya sudah sehat, dan nanti tanggal 31 saya akan ulang tahun dibikinkan buku dan saya serahkan kepada wapres," kata Taufiq di Kantor Wapres, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Rabu (26/12).

Pria yang akrab disapa TK ini mengaku tidak menyangka bisa mencapai kedudukan sebagai wakil rakyat di kursi MPR. Tidak hanya itu, dia juga duduk sebagai pimpinan di parlemen. Kisah itu lah yang diabadikan dalam buku yang segera dilucurkan tepat pada hari ulang tahunnya ke 70 mendatang.

"Rada aneh juga. Umur 70 bisa berbuat begini, saya rasa sama pak Boedi, apalagi yang dicari?" sahutnya.

Lalu, dari semua kisah yang pernah dijalaninya, mana yang paling berkesan? "Saya paling berkesan hidup di Yogya," jawab TK.

TK menceritakan, selama kecil di Yogyakarta memiliki pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. Di usianya yang masih balita, dia sudah merasakan langsung perjuangan rakyat untuk merebut kemerdekaan.

Tidak hanya itu, orang tuanya yang merupakan pendatang dari Palembang diperlakukan sama dengan penduduk lokal, terlebih mereka sama-sama berjuang untuk mempertahankan proklamasi dari tangan penjajahan.

"Ibu saya Minang, ayah Palembang. Saya di Yogya yang bahasa jawa. Bisa lima tahun aneh lho. Waktu itu enggak ada gaji, ayah saya tentara tapi enggak ada kami hidup dari sokongan orang Yogya. Pluralisme itu dipertontonkan pada saya," kenangnya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.