Cerita Ibu di Surabaya yang Rawat Bayi Hidrosefalus Sendiri

Liputan6.com, Surabaya - Keluarga Dian Oktavia (21) dan bayinya yang menderita sakit hydrocephalus di Surabaya menyita perhatian publik sejak pekan lalu.

Dian sempat tinggal bersama ibu di rumah kontrakan ukuran 2x6 meter di Jalan Jojoran, Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng Surabaya.

Saat hamil empat bulan, pada saat tidur, ia digigit tikus hingga dua kali dan berdarah. Kemudian langsung berobat ke dokter dan diberi obat sidiadryl. Selanjutnya tidak ada keluhan apa pun.

"Namun, saat usia kehamilan enam bulan, klien periksa kandungan ke dokter dan didiagnosis bayi dalam kandungan terkena penyakit Hydrocephalus. Namun, dokter tidak berani menginjeksi obat dan hanya diberi vitamin untuk bayi," ujar  Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya, Chandra Oratmangon, Senin, 2 Desember 2019.

Selanjutnya pada saat usia kandungan tujuh bulan, ia alami kontraksi palsu dan dibawa ke UGD RSU Dr Soetomo Surabaya dan menjalani rawat inap selama tiga hari.

Pada saat USG (ultrasonografi), baru kelihatan fisik anak tidak sempurna di bagian kepala, wajah khususnya, hidung dan bibir. Kemudian ia melahirkan anak dengan usia kandungan delapan bulan melalui operasi cesar dengan kondisi fisik tidak sempurna.

Berikan Pendampingan

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya, Chandra Oratmangon saat melakukan outreach di rumah klien.

Anak Dian sudah menjalani operasi VP Shunt di bagian kepala dengan dicover menggunakan biaya dari BPJS PBI.

"Sejak Oktober teman-teman Dinsos Surabaya juga memberikan bantuan PSR (Personal Social Responsibility) serta bantuan susu khusus untuk nutrisi anaknya, dan neneknya juga sudah mendapat program permakanan,” kata dia.

Dia menuturkan, selain mendapat bantuan berupa BPJS PBI, klien juga mendapatkan bantuan dari pihak kecamatan untuk pengurusan KK (Kartu Keluarga) anaknya. Bahkan, bantuan juga datang dari PSR atau hasil urunan dari pegawai di lingkungan pemkot. “Pemkot melalui Dinas Sosial juga memberikan intervensi bantuan berupa PKH (Program Keluarga Harapan),” ujar dia.

Sebelumnya, Chandra mengaku, pihaknya juga sudah memberikan tawaran rusun untuk tempat tinggal klien bersama anaknya. Namun, klien sebelumnya sudah mendapat bantuan tempat tinggal rusun dari Jawa Timur.

"Sejak  Juni sebenarnya sudah kita lakukan intervensi. Klien juga sudah diberikan bantuan PSR mulai  Oktober,” imbuhnya.

 

Ingin Berwirausaha

Dian mengaku ke depan ingin bisa berwirausaha sambil menjaga sang buah hati. Oleh karena itu, kemudian Pemkot Surabaya menyiapkan intervensi berupa pemberdayaan ekonomi kepada Dian.

“Adik Dian ini ke depan juga harus mandiri dan kuat secara ekonomi, dia inginnya bisa jualan online, makanya kita siapkan untuk itu,” kata dia.

Selain pendampingan pemberdayaan ekonomi, DP5A juga memastikan terus mengawasi kondisi psikologi Dian. Tim Psikologi dari Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Surabaya beserta pihak Puskemas juga terus mendampingi, mengawal, dan memantau psikologi klien beserta kesehatan sang buah hati.

Mulai Tinggal di Rusunawa

Saat ini Dian sudah mulai pindah tempat tinggal di Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) Gunungsari, kemudian pihak Puskesmas Mojo menyerahkan tugas pendampingan itu kepada jajaran Puskesmas Gunungsari. Tujuannya, agar pendampingan yang dilakukan pihak puskesmas terus nyambung.

"Saat ini kondisi psikologi dari ananda sendiri sudah mulai bangkit, karena juga banyak intervensi bantuan dari berbagai pihak, dan ini modal yang bagus karena ketika dia (klien) sakit ini akan nyambung ke bayi,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu Tim Psikolog dari Puspaga Surabaya, Rahmawati Dwi Anggraini menuturkan, jika dilihat saat ini, kondisi klien sudah lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan, interaksi klien dengan orang lain saat ini juga lebih baik.

"Namun sekilas, ananda (Dian, red) memang terlihat tegar, karena yang namanya sedih atau kecewa itu pasti juga ada,” kata Rahmawati.

Apalagi, Dian juga bakal menempati tempat tinggal dan adaptasi lingkungan yang baru. Karena itu dibutuhkan pendampingan yang berkelanjutan untuk memantau kondisi klien di lingkungan yang baru itu.

Oleh sebab itu, Pemkot Surabaya memastikan ke depan agar terus mendampingi, baik secara psikologi kepada klien maupun kondisi kesehatan sang bayi.

"Kita ndak bisa lepas secepatnya, itu berproses, karena untuk kasus setiap orang itu juga berbeda-beda. Makanya kita akan dampingi terus dan setiap saat akan kita monitor progres per hari atau perminggu, hasilnya akan kita sampaikan ke ibu wali kota,” pungkasnya. 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini