Cerita IKM Lokal Jualan Sepatu Seharga Rp 6 Juta, Lebih Mahal dari Produk AS

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) produsen alas kaki agar bisa meningkatkan daya saingnya.

Apalagi, sebagai negara pusat produksi alaskaki terbesar ke-4 dunia, Indonesia memiliki potensi menjadi produsen sepatu lokal yang kompetitif dikancah global, dengan kualitas yang setara dengan merek-merek ternama dunia. Adapun dua merek sepatu lokal yang terbukti mampu merambah ke pasar global, di antaranya Sagara Boots dan Pijakbumi.

Keduanya merupakan mitra Badan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia(BPIPI) Sidoarjo, unit pelaksana teknis di bawah binaan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah danAneka (IKMA) Kemenperin.

“BPIPI menggandeng Sagara Boots dan Pijakbumi masuk ke dalam ekosistem pelaku industri alas kaki nasional lantaran berhasil menjadi contoh pelaku IKM alas kaki yang berkualitas. Kisah sukses kedua IKM ini diharapkan mampu membangkitkan semangat IKM lainnya untuk lebih lihai membaca peluang dipasar dalam dan luar negeri,” kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita di Jakarta, Kamis (30/12/2021).

Saat bertemu dengan para pendiri Sagara Boots dan Pijakbumi, Reni mengapresiasi prestasi Sagara Boots dan Pijakbumi yang telah mampu mematahkan stigma negatif produksi sepatu negara berkembang berkualitas buruk, dengan material jelek, dan desain yang kuno.

“Sagara Boots bahkan telah tembus menjadi sepatu boots kulit tier satu, yang setara dengan sepatu asal Jepang, Inggris, danAmerika Serikat. Sedangkan, produk Pijakbumi telah diekspor ke 20 negara di dunia,” ungkapnya.

Menurut Reni, kedua IKM alas kaki tersebut telah membuktikan bahwa brand sepatu lokal semakin inovatif, dengan desain yang mengikuti selera pasar terkini serta tetap memerhatikan produksi ramah lingkungan dan berkesinambungan. Bahkan, mereka mampu melayani permintaan secara custom atau sesuai selera konsumen.

“Dengan kualitas yang terbaik, kami optimistis brand lokal bisa lebih keren dan punya nilai jual tinggi dibanding brand luar yang ada di retail besar,” tuturnya.

Hingga kuartal III tahun 2021, total nilai ekspor alas kaki (kulit dan non-kulit) Indonesia mencapai USD 4,3 miliar. Sementara itu, total PDB industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai Rp 20 triliun atau tumbuh 7 persen (y-o-y) sampai pada kuartal III-2021.

Pendiri sekaligus pemilik Sagara Boots, Bagus Satrio mengungkapkan, semakin banyak media asing yang mengekspos kemampuan industri sepatu Indonesia dalam menghasilkan boots yang berkualitas, yang bisa bersaing dengan produk kelas dunia. Oleh karenanya, produk sepatu lokal bisa dikenal masayarakat dunia.

“Kami tidak sembarangan memilih bahan baku, harus menggunakan bahan kulit yang terbaik. Selain itu,dengan kualitas kulit dan sol terbaik, sehingga harga boots kami bahkan lebih mahal dari produk Amerika. Kami menjual dengan harga sekitar Rp 6 juta,” sebut Bagus.

Sagara Boots bisa menerima pesanan secara custom, dan seluruh produksi sepatunya dilakukan secaramanual dengan tangan. Tim Sagara pun menerapkan sistem waiting list sampai empat bulan lantarantenaga kerja yang terbatas dan pesanan yang semakin membludak.

“Dalam sebulan kami hanya bisamenghasilkan 40-60 pasang sepatu. Di luar negeri, Sagara Boots diminati karena handmade, custom, dankualitas kulitnya tinggi,” imbuhnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Eco Friendly

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita. (Dok. Kementerian Perindustrian)
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita. (Dok. Kementerian Perindustrian)

Sedangkan Pijakbumi merupakan brand sepatu asal Bandung yang berciri khas eco friendly dengan bahan dari kulit natural dan ekstrak tumbuhan, salah satunya adalah dari serbuk kayu.

Pijakbumi didirikan oleh Rowland Asfales dengan konsep orisinalitas desain, kearifan lokal, dan bahan material ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon. Dengan memadu padankan bahan baku pilihan, Pijakbumi mampu menghasilkan produk sepatu berkualitas.

Dalam produksi dan pemasaran, seringkali Sagara Boots maupun Pijakbumi terkendala oleh akses bahanbaku impor dan modal untuk ekspor. Selain itu, Pijakbumi juga sedang berupaya mengkalkulasi bahaneco friendly sebagai bahan utama sepatunya, agar bisnisnya lebih berkelanjutan.

“Kami berharap ada cara untuk mengkalkulasi penggunaan bahan ramah lingkungan untuk perusahaaninovatif, dan bisa mendapatkan pengurangan pajak terkait pengolahan industri yang berkomitmenmengurangi emisi karbon,” kata Rowland.

Platform digital IFNDirjen IKMA menegaskan, melalui BPIPI, pihaknya berkomitmen untuk terus membantu para pelaku IKMalas kaki untuk mencari solusi dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kemudahan akses ke pasarekspor.

“Untuk memecahkan masalah-masalah terkait ekspor produk alas kaku ini, kami akan memfasilitasimereka untuk bisa mengakses fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan akses pembiayaanuntuk ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI),” ujar Reni.

Sementara itu, terkaitkalkulasi penggunaan bahan material ramah lingkungan, Ditjen IKMA mempertemukan IKM alas kakidengan Pusat Industri Hijau Kemenperin.

Lebih lanjut, guna mendukung para pelaku bisnis persepatuan untuk tumbuh bersama, BPIPI membuat sebuah platform digital bernama Indonesia Footwear Network (IFN) yang bisa diakses melalui lamanhttps://ifn.bpipi.id/. IFN ini bertujuan sebagai solusi atas perubahan tatanan industri alas kaki nasional sejak pandemi Covid-19.

“Di platform ini, beragam pelaku dan komunitas industri alas kaki nasional dapat berkolaborasi sebagaimitra bisnis untuk melakukan sharing value,” ujarnya.

Reni menambahkan, melalui IFN, BPIPI akan dapatmemberikan informasi yang relevan bagi pasar domestik dan global terkait potensi industri alas kakiIndonesia dari sektor hulu hingga hilir.

Kepala BPIPI Edi Suhendra menyampaikan, sebagai fasilitator industri alas kaki nasional, BPIPI memilikiperan untuk menguatkan kembali beragam komunitas industri alas kaki di Indonesia. Dengan demikian,IFN akan didorong untuk melengkapi dan mengumpulkan informasi industri yang selama ini ada dimasing-masing komunitas.

BPIPI juga terus mendorong program kemitraan di industri alas kaki agarekosistem industri khususnya IKM alas kaki mampu lebih mandiri, menghasilkan kualitas produk lebihbaik dan potensi go global.

“Sebagai salah satu manufaktur alas kaki terbesar global, Indonesia perlu mengambil inisiatif untukmengintegrasikan informasi dari produsen, supplier, sumber material, merek lokal, dan organisasi yangbergerak di sektor industri alas kaki,” papar Edi.

Oleh sebab itu, IFN yang digawangi BPIPI ini hadirsebagai penyedia informasi yang relevan bagi pasar potensial industri alas kaki dari hulu ke hilir, baikdomestik dan global.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel