Cerita Jagung dan Diplomasi Gus Dur Lindungi Minoritas di Amerika

Mohammad Arief Hidayat, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadiri secara virtual acara haul Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur di kantor Nahdlatul Ulama setempat di Surabaya pada Rabu malam, 30 Desember 2020. Di forum itu, Khofifah bercerita pengamalannya saat mendampingi Gus Dur kala menjadi presiden RI.

"Saya merasakan bahwa saya di hadapan Gus Dur, saya hanya ngawulo (mengabdi). Tugas saya hanya—Gus Dur ini paling suka jagung rebus—saya bagian ngupas. Kalau buah, Gus Dur suka salak dan langsep, saya tukang ngupas (buah) itu. Saya tidak merasa punya tugas lebih dari itu. Tidak ada testimoni saya berikan kecuali pada haul kelima," kata Khofifah memberikan testimoni.

Khofifah baru memberikan testimoni tentang pengalamannya bersama Gus Dur ketika acara haul kelima di dekat makam Gus Dur di Pesantren Tebuireng Ireng, Jombang. Saat itu ia menyampaikan wasiat Gus Dur yang disampaikan dua tahun dan diulang kembali dua bulan sebelum meninggal kepada Khofifah.

Baca: 5 Guyonan Gus Dur Paling Kocak, Coba Tahan Tawa!

Wasiat itu ialah permintaan Gus Dur agar dituliskan kalimat 'The Humanist Died Here' di batu nisan makamnya jika meninggal. Ada pokok pikiran Gus Dur dari wasiat itu bahwa kemanusiaan lebih tinggi dari pada pluralisme, sebagaimana diidentikkan banyak orang pada perjuangan Gus Dur semasa hidup.

"Humanis itu di atas pluralisme, karena toleransi itu ada bila sisi kemanusiaan lebih dominan. Ketika berkunjung ke Amerika Serikat, Gus Dur pernah bilang bahwa 'Di negeri saya, saya lindungi minoritas, maka negara Anda tolong lindungi minoritas’,” cerita Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Syafiq Syauqi menilai haul Gus Dur momentum untuk mengingat dan meneladani pemikiran Gus Dur bahwa kemanusiaan adalah di atas segalanya dalam tatanan kehidupan. "Maka kami berharap sahabat-sahabat FPI, yang merupakan juga anak bangsa, untuk bersama-sama menjadikan momentum ini untuk mempererat persaudaraan," ujarnya.

Spirit kemanusiaan seperti digaungkan Gus Dur, kata Syafiq, dalam implementasinya tidak hanya memperkuat persaudaraan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah maupun wathaniyah. "Tapi juga ukhuwah basyariyah, yang merupakan level tertinggi dari ukhuwah. Jadi, sekali lagi, FPI juga anak bangsa yang perlu kita rangkul.”