Cerita Jamrawi, Jadi Kapten Arema Era Galatama Berkat Kalimat Menyentuh Acub Zaenal

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Makassar - Sosok Jamrawi sebagai stoper tangguh era Galatama tak bisa dilepaskan dari perjalanan awal kiprah Arema Malang (kini Arema FC) di kompetisi sepak bola tanah air. Ia tercatat sebagai kapten tim yang berdiri pada 11 Agustus 1987 itu.

Sebelum ke Arema, Jamrawi adalah pilar Niac Mitra yang pernah memperkuat tim nasional Indonesia pada sejumlah turnamen internasional. Dalam channel youtube Omah Balbalan, Jamrawi mengungkap sepenggal cerita pilu dibalik proses dirinya menjadi bagian dari Arema.

Kala itu, pada awal 1987, Jamrawi beserta sejumlah pemain Niac Mitra jadi sorotan publik sepak bola Indonesia karena dituding terlibat suap pada satu laga bersama tim asal Surabaya itu.

"Saya jadi pesakitan oleh perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. Saya pun tidak pernah menerima satu sen pun dari kasus itu. Tapi, dulu kan pemain selalu dalam posisi sulit," kenang Jamrawi.

Menurut Jamrawi, sejatinya ia sudah berusaha melakukan pembelaan diri ketika dipanggil komisi disiplin PSSI. "Saat itu, saya bilang, jangankan diberi sanksi, ditembak pun saya siap bila ada bukti saya terlibat suap," kata Jamrawi.

Tapi, karena kasus itu terlanjur jadi berita besar di media, Jamrawi pun akhirnya dijatuhi skorsing selama enam bulan.Sanksi itu jelas sangat memukul mental Jamrawi yang saat itu masih berusia 23 tahun.

Beruntung pada momen itu, Acub Zaenal, Administratur Galatama yang juga mantan Gubernur Irian Jaya (kini Papua) ingin membentuk klub Galatama di Malang bersama tokoh sepak bola Jawa Timur, Dirk Sutrisno. Jamrawi yang saat itu masih menjalani skorsing diajak Acub Zaenal untuk mengikuti latihan persiapan tim.

Jamrawi pun masih mengingat kalimat menyentuh dari Acub Zaenal yang kemudian membuat motivasinya bangkit. "Saat itu itu Pak Acub bilang, kalau kamu ingin jadi pemain besar harus menghadapi tantangan besar. Saya pun memutuskan bergabung di Arema yang kala itu masih minim fasiltas dan dana. Saya ingin membuktikan kemampuan sebagai pemain."

Asal Mula Julukan Singo Edan

Jamrawi, mantan stoper Niac Mitra dan Arema. (dok. Tangkapan layar YouTube/Omah Balbalan)
Jamrawi, mantan stoper Niac Mitra dan Arema. (dok. Tangkapan layar YouTube/Omah Balbalan)

Sebagai pemain angkatan pertama di Arema, Jamrawi tentu paham dengan proses awal berdirinya tim kebanggaan Aremania itu. Menurut Jamrawi, untuk memperkuat status klub, saat dirasa perlu menentukan tanggal lahir klub. Maka ditentukan tanggal 11 Agustus 1987 jadi hari lahir resmi Arema. Gambar singa jadi disertakan jadi logo klub karena tanggal pendirian klub di zodiak Leo. "Tambahan kata Edan dimaksudkan sebagai penyemangat dan motivasi tim," terang Jamrawi.

Meski berstatus tim bar yang hanya bermodalkan semangat dan kebersamaan, Arema langsung mencuri perhatian di edisi perdana mereka. Dimata Jamrawi, hal itu tak lepas dari peran dan totalitas Aremania dalam mendukung tim kesayangannya. "Setiap hendak berlaga, Aremania itu berpawai mendatangi mes pemain untuk memberikan semangat dan kemudian berlanjut di stadion. Itu yang membuat kami selalu termotivasi tampil kesetanan di lapangan," kenang Jamrawi.

Berkat dukungan suporter itu pula, para pemain mengenyampingkan kondisi minor tim pada awal kiprah Arema. Di antaranya, gaji yang tidak semuanya terbayar pada waktu sama.

"Gaji diberikan menunggu hasil penjualan tiket. Itu pun harus diundi dulu. Biasanya ada lima pemain yang namanya naik, itu yang lebih dulu mendapatkan gaji."

Jamrawi jadi bagian Arema sampai 1992. Ia pun memutuskan pensiun sebagai pemain meski usianya saat itu masih 28 tahun. Cedera pada kedua lututnya membuatnya dirinya berpikir akan sulit tetap berada di level terbaik. Kebetulan pada saat bersamaan ada tawaran menjadi asisten pelatih di Arema.

Jadi Pelatih SSB

Sebagai asisten pelatih, selain di Arema, Jamrawi pernah menjadi bagian dari Persela Lamongan dan tim sepak bola Jawa Timur yang meraih medali emas di PON 2004 Palembang.

Belakangan, Jamrawi kini fokus pada pembinaan pemain usia dini dengan melatih di sekolah sepak bola (SSB) Juanda. "Saya berharap bisa memunculkan pemain lewat pembinaan mulai dari bawah. Lewat SSB, saya bisa mengajarkan teknik sepak bola dasar kepada para pemain usia dini," ungkap Jamrawi.

Ia pun berharap suatu saat sepak bola di Sidoarjo kembali menggeliat seperti dulu. "Saat ini, warga Sidoarjo praktis hanya sebagai penonton pertandingan nasional dan internasional karena memiki Stadion Gelora Delta," pungkas Jamrawi.

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel