Cerita Jawara F1 Latihan Karate Karena Kerap Dipukuli dan Dibully

Zaky Al-Yamani

VIVA – Juara dunia Formula 1 asal Inggris, Lewis Hamilton turut bersuara menyampaikan pendapatnya tentang demonstrasi besar-besaran yang terjadi di AS dan di seluruh dunia, yang menyerukan diakhirinya rasisme.

Seperti diketahui, Amerika Serikat saat ini tengah terjadi gelombang demonstrasi massal di beberapa wilayah imbas dari terbunuhnya warga kulit hitam bernama George Floyd oleh aksi brutal aparat kepolisian. 

Baca: Jelang Balapan F1, Tim Mercedes Jalani Tes di Sirkuit Silverstone

Kematian Floyd telah memicu kembali protes seputar ketidaksetaraan ras dan kebrutalan polisi di AS. Beberapa aksi demonstrasi pun berubah dari damai menjadi rusuh setelah keributan antara demonstran dan penegak hukum.

Dia pun mengenang pengalamannya sendiri saat menjadi korban aksi rasisme. Dan itu dia alami saat masih kecil. Itu sebabnya dia belajar karate untuk membela diri dari orang-orang yang membully-nya.

"Ini (demonstrasi besar-besaran pasca insiden rasisme di Amerika Serikat) membawa kembali begitu banyak kenangan menyakitkan dari masa kecil saya," kata Hamilton seperti dikutip dari Marca, Minggu 7 Juni 2020.

"Saya telah bercerita tentang pengalaman pribadi saya. Saya pernah diintimidasi, dipukuli dan satu-satunya cara saya bisa melawan ini adalah dengan belajar untuk membela diri, jadi saya latihan karate," lanjutnya.

Foto Lewis Hamilton

Perlakuan rasisme yang dia terima saat masih anak-anak menurutnya masih sangat membekas hingga kini. Beruntung dia memiliki figur ayah yang selalu mendukung dan membelanya apap pun yang terjadi.

"Efek psikologis negatif tidak dapat diukur. Puji Tuhan, saya memiliki ayah seorang kulit hitam yang kuat yang bisa saya junjung tinggi, yang saya tahu mengerti dan akan berdiri di sisiku tidak peduli apa yang terjadi."

Baca: Pandemi Virus Corona Bikin Lewis Hamilton Ingin Pensiun