Cerita Jemaah Haji Kakinya Melepuh karena Kehilangan Sandal di Masjid Nabawi

Merdeka.com - Merdeka.com - Seorang jemaah asal Tuban menderita kaki melepuh seperti luka terbakar. Penyebabnya, dia kehilangan sandal saat keluar dari masjid di Nabawi.

Dia akhirnya nekat pulang ke hotel tempatnya menginap dengan kaki telanjang di saat suhu panas di kawasan tersebut mencapai hingga 50 derajat celcius.

Cerita adanya seorang jemaah yang kakinya melepuh akibat berjalan bertelanjang kaki alias tidak menggunakan alas kaki ini dibenarkan oleh Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, Husnul Maram di Hall Mina Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES).

Dia menyebut, informasi dari petugas haji kloter terkait, ada jemaah yang alas kakinya hilang sehingga terpaksa berjalan dengan kaki telanjang.

"Informasi dari petugas kloter, ada jemaah kita yang kehilangan sandalnya saat keluar dari masjid. Akhirnya terpaksa jalan tanpa alas kaki sehingga telapak kakinya melepuh," ujarnya, Selasa (14/6).

Ia menambahkan, saat ini suhu cuaca di tanah suci sangatlah tinggi, berkisar pada 50° C.

"Suhu di sana saat ini 50 derajat celcius. Jika Bapak Ibu keluar dari kamar, jangan lupa untuk memakai alas kaki, sandal ataupun sepatu," katanya saat memberikan pesan pada jemaah calon haji (JCH) kloter gabungan dari Pasuruan, Gresik, dan Kota Malang ini.

Dia kembali berpesan, jika saat masuk masjid nantinya para jemaah diminta untuk tidak lupa membawa sandalnya dengan dimasukkan ke dalam kresek saat memasuki masjid nantinya. Selain itu, ia juga meminta pada para jemaah agar tak lupa banyak meminum air putih untuk menghindari dehidrasi disaat cuaca panas saat ini di tanah suci.

"Jadi jangan lupa, kalau masuk masjid, sandalnya dimasukkan kresek. Misal kalau urine bapak ibu berwarna kuning, mohon untuk tidak keluar kamar dulu. Panjenengan (anda) perbanyak minum air putih dulu sampai air kencingnya bening kembali, agar tidak terjadi dehidrasi," pesannya.

Maram menjelaskan, saat ini telah terdapat 6.719 jemaah haji dari 15 kloter yang sudah bertolak menuju Madinah. Dia lantas memberikan catatan evaluasi hingga 10 hari pertama keberangkatan jemaah embarkasi Surabaya.

Belajar dari barang bawaan koper dan tas tenteng kloter sebelumnya, perlu mendapatkan perhatian dari jemaah haji yang akan berangkat ke tanah suci.

Menurutnya, tas bagasi yang dibawa maksimal memuat 15 kg, dan tas tenteng yang dapat diisi maksimal 5 kg.

"Jangan sampai overweight kopernya, pasti nanti dibongkar disuruh ngeluarin barangnya, biar tidak lebih dari 15 kg," ujarnya.

Kelebihan muatan tersebut, tambah Kakanwil biasanya karena jemaah memasukkan bahan makanan seperti beras, mie instan, snack, bumbu masak secara berlebihan.

"Tadi malam, ada jemaah kloter 16 yang kopernya overweight, ternyata dalamnya ada teko sama kopi yang banyak. Akhirnya, jemaah memilih mengeluarkan tekonya daripada barang yang lain," tutur Kakanwil.

Ia juga mengingatkan jemaah yang akan berangkat haji paham penempatan barangnya.

"Powerbank maximal kapasitas 20.000 mAh bisa ditempatkan di tas tenteng, jangan di koper. Sedangkan benda tajam seperti silet, gunting, pisau, alat cukur letakkan di koper besar, jangan di tas tenteng," tambahnya.

Adapun rokok, jelas Maram maksimal 200 batang saja yang bisa dibawa. "Cairan dan gel yang boleh dibawa dalam pesawat tidak boleh lebih dari 100 ml," tambahnya. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel