Cerita Jemaah Indonesia Laksanakan Ibadah Umrah saat COVID-19

Bayu Nugraha, Syaefullah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama, Arfi Hatim, mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah umrah di tengah pandemi COVID-19 ini ada beberapa persyaratan dan ketentuan, khususnya protokol kesehatan yang harus diikuti dan dipatuhi seluruh pihak.

“Mulai dari Tanah Air, selama perjalanan, sampai di Arab Saudi termasuk tadi melaksanakan ibadah umrah dan terakhir sampai kembali ke Tanah Air,” kata Arfi Hatim dalam acara dialog “Perkembangan Terkini: Umrah Aman Saat Pandemi” melalui siaran YouTube BNPB, Jakarta, Rabu, 11 November 2020.

Sebelum Indonesia memberangkatkan jemaah umrah pada 1 November 2020, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan beberapa kebijakan aturan, khususnya protokol kesehatan penyelenggaraan ibadah umrah, terutama pada waktu pelaksanaan umrah di Masjidil Haram.

“Betul diatur, ditata sedemikian rupa, physical distancing artinya penerapan protokol kesehatan sangat ketat. Ada pemandu yang mendampingi untuk memastikan bahwa pelaksanaan ibadah umrah di Masjidil Haram mulai dari thawaf, sya’i, sampai selesai itu betul-betul sesuai dengan protokol kesehatan,” tuturnya.

Sehingga, lanjut dia, ada petugas khusus yang ditugaskan memastikan hal tersebut. Mengingatkan serta membimbing jemaah mulai dari pengambilan miqot kemudian masuk ke Masjidil Haram dengan tertib, diatur sedemikian rupa.

“Sehingga ini semata-mata untuk memberikan jaminan bahwa protokol kesehatan dapat diterapkan,” ujarnya.

Arfi melihat, kondisi sejauh ini proses pelaksanaan ibadah umrah di Mekkah, Arab Saudi berjalan lancar. “Perlu diingat, kesempatan yang diberikan di luar warga negara Arab Saudi sejak tanggal 1 November ini adalah dalam konteks uji coba, dan tentu dari uji coba ini akan ada beberapa evaluasi-evaluasi,” tuturnya.

Bahwa, di lapangan ada beberapa hal dinamika dari kebijakan pemerintah Arab Saudi yang telah disampaikan sebelum 1 November, tentu harus dipahami dan mematuhi. Dalam konteks ini untuk pencegahan serta perlindungan terhadap warga negara yang melaksanakan ibadah umrah, termasuk warga negara Indonesia.

“Sehingga dinamika-dinamika itu kita pahami sebagai satu bentuk pencegahan, yang perlu diambil dalam konteks bahwa memberi kepastian terhadap kesehatan, keselamatan, dan keamanan jemaah ibadah umrah itu sendiri di Arab Saudi,” katanya.

Pengalaman Jemaah Umrah Terapkan Protokol Kesehatan

Seorang jemaah umrah, Nana Sudjana Gaido menceritakan soal proses perjalanan ibadah umrah ke Tanah Suci pada saat pandemi wabah Corona ini.

Yang pertama, pada saat 20 Oktober ia dihubungi dengan adanya kegiatan ibadah umrah. Persiapan dari awal adalah ketika calon jemaah umrah diberi tahu bahwa akan ada keberangkatan pada 1 November 2020.

Dari langkah itulah ia diurus dari mulai persyaratan-persyaratan sesuai dengan yang dibutuhkan umrah di massa pandemi. Karena, beda umrah saat masa normal.

“Salah satunya, ketika kita sudah diterbitkan visa tanggal 30 Oktober kalau tidak salah, tanggal 31 sudah di bawah jam 7 pagi, di salah satu lokasi yang ada di Jakarta wilayah Sentral Park untuk dilaksanakannya protokol kesehatan swab, PCR sebagai salah satu syarat untuk naik ke pesawat,” kata Nana dalam acara sama.

“Setelah itu kita diinformasikan, setelah swab, kita tidak diperbolehkan ketemu dengan keluarga ataupun siapa pun yang mengantar, jadi kita harus clean and clear karena sesuai dengan permintaan Arab Saudi seperti itu,” kata dia.

Setelah itu, lanjut dia, pagi pukul 04.30 WIB sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta dan pada saat pukul 08.00 WIB, semua persyaratan dokumen sudah dinyatakan lengkap, seperti adanya visa, adanya bukti PCR, terus juga ada dokumen penunjang lainnya. “Maka, boarding kita bisa dikeluarkan, Alhamdulillah kita pada jam 10 sudah masuk ke pesawat,” katanya.

Setibanya di Jeddah, para jemaah Indonesia diatur, datangnya harus jaga jarak satu meter. Setelah itu, yang ditemui konternya yaitu konter Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Di situ diminta bukti PCR-nya dan para jemaah pun memberikan dokumennya.

“Ternyata, kita di sana harus mengisi disclaimer, kita tanda tangan, isian dari disclaimer ini harus tunduk dan patuh kepada peraturan yang ada di Saudi. Sehingga setelah kita mengikuti di sana, maka kita dievakuasi untuk menuju hotel,” tuturnya.

Setelah di hotel, para jemaah ini diistirahatkan. Kata dia, setelah dua hari, para jemaah di-swab kembali sebelum melaksanakan ibadah umrah. Setelah di-swab mendapatkan hasilnya negatif, barulah jemaah bisa melaksanakan ibadah umrah yaitu, thawaf, syai, dan tahalul. Selama pelaksanaan ibadah umrah, jemaah didampingi oleh petugas kementerian Saudi.

Baca juga: Polisi Beberkan Kesulitan Ungkap Kematian Pendeta Yeremia