Cerita Jenderal TNI Berdiri Tegak di Tengah Serangan Bencana Dahsyat

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Rezeki dan maut adalah sesuatu hal yang sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan takkan bisa dijangkau oleh pemikiran manusia. Dua hal itu lah yang senantiasa disyukuri oleh sosok yang dikenal sangat senderhana, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka.

Usai menghabiskan waktu selama 34 tahun berdinas bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), Pria kelahiran Makassar 11 Maret 1963 akhirnya memasuki masa pensiun.

Lewat pantauan VIVA Militer dari akun Youtube resmi TNI Angkatan Darat, Andi purna tugas usai menduduki jabatan terakhirnya sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV/Hassanudin.

Bisa menduduki Pangdam XIV/Hassanudin adalah rezeki dan pencapaian tertinggi putra asli Makassar ini. Namun demikian, tak mudah bagi Andi untuk menjalankan perannya sebagai orang nomor satu di komando teritorial TNI Angkatan Darat yang meliputi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Andi sebelumnya diangkat menjadi Pangdam XIV/Hassanudin pada 17 Desember 2019, sesuai dengan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1420/XII/2019.

Saat itu, Andi menggantikan posisi Mayjen TNI Surawahadi usai menduduki jabatan sebelumnya sebagai Staf Ahli Bidang Ideologi dan Politik Badan Intelijen Negara (BIN).

Siapa sangka, belum genap tiga bulan menduduki kursi Pangdam Hassanudin Andi sudah harus dihadapkan dengan bencana besar. Ya, tepatnya 2 Maret 2020 Indonesia menjadi satu dari ratusan negara di dunia yang dilanda pandemi Virus Corona (COVID-19).

"Banyak cerita suka dan duka, terutama saat menjadi Panglima Kodam (XIV/Hassanudin). Pada saat saya menjadi Panglima Kodam, dua bulan menjabat Panglima Kodam, COVID-19 sudah melanda Indonesia," ucap Andi.

Tak hanya itu, saat masa jabatannya sudah setahun And juga harus dihadapkan dengan bencana gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Barat, 15 Januari 2021.

Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter menimpa dua kabupaten, Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju. 105 orang tewas, dan 3.369 orang mengalami luka-luka. Tak hanya itu, sejumlah bangunan di dua kabupaten tersebut hancur.

Sebagai Pangdam XIV/Hassanudin, Andi sudah tentu memiliki tugas untuk menanggulangi dampak bencana. Hatinya terketuk untuk menolong masyarakat yang menjadi korban maupun terdampak bencana dahsyat itu

"Dalam perjalanan itu, tidak disangka bahwa ada bencana yang terjadi di Sulawesi Barat . Bencana itu cukup mengagetkan karena kekuatannya 6,2 skala Richter," kata Andi melanjutkan.

"Saya betul-betul merasa pekerjaan itu adalah pekerjaan kemanusiaan. Karena satu, saya berhubungan langsung dengan masyarakat, kedua saya melihat langsung bagaimana tindakan, yang ketiga saya betul-betul seluruh stakeholders yang menangani masalah gempa ada di situ," ujarnya.