Cerita Jokowi soal Joe Biden 'My Senior', Jinping 'Kakak Besar', Putin 'My Brother'

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) sukses menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, 15-16 November 2022. Apresiasi datang dari sejumlah kepala negara sahabat mengenai penyelenggaraan KTT G20 tahun ini.

Salah satu hasil dari KTT G20 adalah deklarasi pemimpin G20 atau dikenal dengan 'G20 Bali Leaders Declaration'. Poin utama mengenai penyikapan perang Rusia-Ukraina. Para pemimpin negara G20 sepakat bahwa perang berdampak terhadap ekonomi dunia. Terdapat 52 poin yang tertuang dalam Deklarasi Pemimpin negara G20. Poin-poin tersebut mencakup permasalahan mengenai ketegangan geopolitik global, isu krisis pangan, perubahan iklim, kesehatan global, hingga transformasi digital.

Jokowi mengungkap pembahasan deklarasi ini berlangsung alot, Namun berhasil dicapai melalui konsensus. "Sampai tengah malam kita berbicara mengenai ini dan akhirnya deklarasi Bali dicapai melalui konsensus," kata Jokowi.

Ada cerita menarik di balik lahirnya deklarasi itu. Diplomasi pujian yang dilakukan oleh Jokowi kepada para pemimpin negara. Khususnya Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Seperti Joe Biden saya dipanggil my senior, Xi Jinping kakak besar, Putin my brother," ungkap Jokowi saat bertemu dengan sejumlah pemimpin redaksi pada Kamis (17/11/2022).

Menurut Presiden, ini adalah diplomasi pujian untuk pendekatan kepada para pimpinan negara-negara di dunia agar tercipta situasi kondusif.

Deklarasi ini juga memunculkan sikap yang mengutuk invasi Rusia ke Ukraina. "Sebagian besar anggota sangat mengutuk perang di Ukraina dan menekankan hal itu menyebabkan penderitaan manusia yang luar biasa dan memperburuk keadaan yang ada kerentanan dalam ekonomi global," tertulis dalam poin ketiga Leaders' Declaration di KTT G20 Bali.

Deklarasi ini juga mendorong jalur diplomasi dalam penyelesaian konflik. "Penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir tidak dapat diterima. Penyelesaian konflik secara damai, upaya penanganan krisis, serta diplomasi dan dialog, sangat penting. Zaman sekarang tidak boleh perang."

Jokowi dan Para Sahabat

Sebelumnya, dalam wawancara dengan The Economist, Jokowi menyebut semua negara sebagai sahabat Indonesia. Kepala Negara berharap Indonesia bisa menghadirkan solusi damai bagi konflik di dunia.

"Amerika adalah sahabat Indonesia, Tiongkok (China) juga adalah sahabat Indonesia. Teman Indonesia semuanya, mitra penting Indonesia. Mungkin dengan situasi Bali yang sejuk, yang damai ini menjadi peluang Indonesia menjadi kepemimpinan Indonesia di tingkat dunia untuk memperjuangkan selesainya problem yang ada di dunia," ujar Jokowi dilihat dalam tayangan YouTube The Economist, Minggu (13/11).

Jokowi menegaskan, keberpihakan Indonesia sudah jelas. Yaitu menjaga perdamaian dunia. Menurut Jokowi, kompetisi atau rivalitas antar negara adalah hal normal. Tetapi, jangan sampai menjadi konflik terbuka.

"Saya sangat khawatir mengenai itu. Kompetisi itu hal yang normal. Rivalitas itu juga hal yang biasa antarnegara. Tetapi yang paling penting adalah jangan menjadi sebuah konflik terbuka. Indonesia ingin dunia yang damai jadi jangan sampai perang di Ukraina belum selesai, menambah masalah lagi di kawasan yang lain. Ini menambah ruwet kita semua, pusing kita semuanya," kata Jokowi. [noe]