Cerita Kakak Adik Mudik ke Pedalaman Lebak, Lewati Jalan Berbatu dan Rawan Longsor

Merdeka.com - Merdeka.com - Eni (28) dan Rob (25), kakak beradik akhirnya merasa senang bisa kembali mudik dan merayakan Lebaran di kampung halaman, pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keduanya sudah dua tahun tidak mudik karena situasi pandemi Covid-19.

Rabu (27/4), Eni dan Rob yang tiba di Terminal Mandala Rangkasbitung pukul 10.30 WIB dari Balaraja Tangerang tampak bahagia dengan membawa tas koper dan kardus berisi oleh-oleh.

Kedua kakak beradik itu beristirahat dan duduk-duduk sambil menunggu angkutan yang berangkat pada pukul 14.00 WIB.

Kendaraan angkutan menuju kampung halamannya di Desa Jatake, Kecamatan Panggarangan Kabupaten Lebak tinggal satu unit. Kampung halamannya berada di Gunung Gede merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Total pengeluaran satu orang untuk biaya transportasi ke kampung halamannya Rp200 ribu. Perjalanan memakan waktu cukup lama, membuat keduanya diperkirakan tiba pukul 20.00 WIB.

"Kami ikut berbahagia bisa mudik Lebaran dan berkumpul bersama orang tua, juga teman-teman main di kampung," kata Eni saat ditemui di Terminal Mandala Rangkasbitung. Dikutip dari Antara.

Perjalanan ke kampung halamannya cukup menguras tenaga dan melelahkan, karena kondisi jalan berbatu.

Laju kendaraan tentu berjalan lambat dan penuh hati-hati, karena banyak tikungan dan tebing, bahkan jika hujan lebat terjadi longsoran.

Meski melelahkan dalam perjalanan, namun merasa senang dan bahagia bisa mudik ke kampung halaman. "Kami dua tahun lalu tidak mudik dan sekarang bisa kembali dan berkumpul dengan keluarga di rumah," katanya menjelaskan.

Kakak beradik itu bekerja di sebuah pabrik plastik di kawasan Balaraja Tangerang pada tahun 2015. Ia bisa bekerja di pabrik plastik dibawa oleh kerabatnya yang terlebih dulu bekerja di sana.

Penghasilan buruh pabrik itu digaji dengan sesuai upah minimum kabupaten (UMK). Pendapatan per bulan relatif lumayan dan setiap bulan juga disisihkan untuk orang tua di kampung.

"Kami per tiga bulan mampu mengirim uang ke kampung Rp6 juta," kata Rob adik Eni sambil menceritakan bahwa profesi orang tuanya adalah seorang petani.

Rob menyatakan, dirinya bekerja sudah tujuh tahun di pabrik plastik dan cukup sejahtera, karena mendapatkan hak-hak pekerja.

Selain gaji juga mendapatkan tunjangan kerja dan uang lembur serta mendapatkan BPJS Kesehatan. Begitu juga mendapatkan cuti bersama dan menjadi anggota koperasi.

"Kami bisa menerima pendapatan gaji, tunjangan serta uang lembur Rp6,5 juta/bulan," kata perempuan lulusan SMP itu. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel