Cerita Kehidupan Keluarga Brigadir J, Ayah Petani Ibu Berprofesi Guru

Merdeka.com - Merdeka.com - Samuel Hutabarat remaja memutuskan mempersunting Rosti Simanjuntak sebagai pasangan hidup. Sekian lama membina bahtera rumah tangga, kedua pasangan ini akhirnya memiliki empat anak. Dua perempuan dan dua laki-laki. Anak pertama bernama Yuni, kedua Nofriansyah Yosua (Brigadir J), ketiga Devi dan keempat Mahareza Putra.

Samuel Hutabarat lahir di tahun 1965, dia asli warga Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Di tahun 1997, Samuel memutuskan menetap di Kecamatan Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Saat ini Samuel Hutabarat, tinggal di Desa Suka Makmur.

Samuel pernah bekerja kantoran. Namun itu tidak berselang lama. Dia akhirnya memutuskan banting setir menjadi petani sawit. Maklum di daerahnya tersebut merupakan penghasil utama sawit.

Sehari-hari, Samuel bekerja sebagai seorang petani sawit. Pekerjaan yang tekun dia geluti ini untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga dengan empat anak. Bahkan dari hasil bertani, Samuel sukses menyekolahkan anaknya. Bahkan mengantarkan Yosua sebagai polisi.

"Kita istilahkan seperti air laut terkadang tinggi dan terkadang rendah," kata Samuel saat ditanya perihal niaga sawit.

Samuel tidak hentinya bersyukur, manakala dia mampu mengantarkan anak-anaknya sukses meraih pendidikan. Dia merasa terberkati, dengan profesinya sebagai petani sawit.

"Saya bilang itu keajaiban dari Tuhan, karena kita manusia biasa dengan keadaan saya begini ya karena ini kehendak dari Tuhan, ya kita tidak tahu karena bukan pemikiran kita," katanya.

Dalam mendidik anak-anaknya, Samuel selalu menekankan pentingnya ilmu agama sebagai bekal menjalani kehidupan. Dia memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk mengejar mimpi, termasuk Yosua, asal jangan sampai meninggalkan agama.

"Saya dekatkan dengan agama agar mudah dibentuk jadi apa, dan dasarnya Agama," tutur Samuel.

Sementara Itu, Rosti lahir di Kecamatan Balige, Tapanuli Utara, pada tahun 1968. Sudah 20 tahun Rosti mendedikasikan hidupnya sebagai pengajar. Dia tercatat sebagai guru di SD 74 Suka Makmur, Sungai Bahar di Unit I.

"Istri saya menjadi guru di sini, itu PNS. Dia mengajar pada tahun 2003, dan terdahulunya di unit delapan dan pindah di sini SD 74 Suka Makmur itu di tahun 2003," cerita Samuel.

Di mata keluarga, Yosua adalah sosok yang dikenal oleh keluarga orang paling ramah dan lembut. Yosua lahir di Kelurahan Tanjung Pinang, Jambi, pada bulan November tahun 1994. Saat kembali ke pangukuan Ibu Pertiwi, Yosua berusia 27 tahun.

Yosua dibesarkan di Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 74 Muaro Jambi, SMP Negeri 12 Muaro Jambi dan SMA Negeri 4 Muaro Jambi. Setelah lulus sekolah, dia mengikuti tes polisi di SPN Polda Jambi tahun 2012, hingga menjadi anggota Korps Brigade Mobil (Brimob).

Mulai berkarir sebagai polisi, khususnya di Korps Brimob sejak 2012. Dia mengikuti pelatihan di Pusat Pendidikan Brimob Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur, selama 7 bulan.

Kemudian ditugaskan di Mako Brimob Batalyon B Pelopor di Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin, Jambi pada tahun 2013, yang terhitung rawan. Karena Yosua dipercaya sebagai penembak jitu atau sniper. Dia juga pernah dikirim ke Papua.

"Ia sudah dikirim di Papua dan saya was-was. Saat ia mau berangkat, bukan duit yang saya kasih, tapi Al Kitab yang saya berikan. 'Tuhan berkati kau nak,' kata saya waktu itu," kata Samuel.

Usai bertugas di Mako Brimob Polda Jambi, Yosua kemudian bertugas pada Provos pada tahun 2016. Kurang lebih tiga tahun Yosua bertugas di sana.

Pada tahun 2019 akhir, Brigadir Yosua ditarik Mabes Polri untuk menjadi ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo. Ini turut membuat keluarga bangga.

"Itu anak kami terpilih menjadi ajudan di Mabes Polri, waktu itu saya keluarga tidak menyangka kalau terpilih. Akan tetapi tiba-tiba menelepon ke kami ia disuruh ke Mabes. Saat itu malam hari anak kami telepon mengabarinya ke mamaknya," kata Samuel.

Keluarga bangga. Karir Yosua terus menanjak hingga dapat diberikan kepercayaan menjadi ajudan Kadiv Propam Polri.

"Dilihat Yosua bagus. Sehingga Pak Ferdy Sambo, Kadiv Propam, menarik Yosua jadi ajudan," jelasnya.

Kebahagiaan itu lantas menjadi duka, manakala keluarga mendapat kabar Yosua meninggal secarat tidak wajar di rumah petingginya.

Kini kasus kematian Yosua terus didalami Polri. Empat orang telah ditetapkan tersangka, termasuk Ferdy Sambo. Keluarga Yosua berharap agar kasus ini tuntas.

"Kita keluarga dan keluarga besar kita serahkan kepada penyidik serta kuasa hukum kita untuk mengawal semua permasalahan ini jangan hanya tumpul ke atas dan tajam ke bawah," tegas Samuel.

Reporter: Hidayat [cob]