Cerita Leonard Tupamahu Bersyukur Jadi Bocil 90-an dan Perkenalannya dengan Sepak Bola

·Bacaan 2 menit

Bola.com, Jakarta - Bek Bali United, Leonard Tupamahu, satu di antara pemain gaek di BRI Liga 1 2021, memiliki kisah masa kecil yang menarik. Ia bersyukur tumbuh sebagai anak-anak tradisional yang jauh dari gadget.

Leonard Tupamahu merupakan pemain yang kenyang akan pengalaman di sepak bola Indonesia. Pasang surut perjalanan kariernya sudah banyak diketahui publik.

Dia sempat membela klub sekelas Persija Jakarta, Arema FC, Borneo FC hingga Bali United. Namun jarang yang tahu seperti apa masa kecilnya.

Di kanal YouTube Akurasi TV, pemain yang akrab disapa Leo itu menceritakan masa kecilnya. Meski berdarah Ambon, sosok yang lahir di Jakarta itu sudah kompetitif sejak dini.

"Waktu kecil lumayan senang ikut lomba 17 Agustusan. Suka lomba lari. Pokoknya yang ada hubungannya dengan kecepatan. Usia 9 tahun saya mulai senang main bola,” kata Leonard Tupamahu.

Bersyukur Jadi Bocil Jadul

Bek Bali United, Leonard Tupamahu, melakukan protes saat melawan Bhayangkara FC pada laga Piala Presiden 2019 di Stadion Patriot, Bekasi, Kamis (14/3). Bhayangkara menang 4-1 atas Bali. (Bola.com/Yoppy Renato)
Bek Bali United, Leonard Tupamahu, melakukan protes saat melawan Bhayangkara FC pada laga Piala Presiden 2019 di Stadion Patriot, Bekasi, Kamis (14/3). Bhayangkara menang 4-1 atas Bali. (Bola.com/Yoppy Renato)

Cerita masa kecilnya itu yang membuatnya punya fisik tangguh seperti sekarang. Dia bersyukur lahir di era ketika banyak anak kecil main di luar rumah. Karena di era modern, mayoritas anak kecil tumbuh dengan permainan di gadget.

"Saya beruntung hidup di jaman dulu. Ketika masa anak kecil main di luar rumah. Renang di kali, manjat pohon, genting, sepak bola jalanan di depan rumah. Hal itu membuat saya suka dengan olahraga," sambungnya.

Sepak bola bukan satu-satunya olahraga yang sempat digeluti semasa kecil. Leo juga senang dengan olahraga lain. Seperti kasti dan sejenisnya.

Leo mengaku jatuh cinta pada sepak bola usai menyaksikan Piala Dunia 90-an. "Dulu saya senang sepakbola setelah melihat piala dunia (90-an),” lanjutnya.

Ketika kecil, Leo sempat bermain di posisi lain. Dia pernah jadi striker. Sama seperti kebanyakan anak kecil yang suka bermain bola untuk mencetak gol.

"Dulu sempat main striker dan eksplore posisi lainnya. Tapi beranjak dewasa, saya rasa main stoper sesuai dengan karakter saya," kenangnya.

Mantap Jadi Bek

Penyerang Timnas Indonesia, Osvaldo Haay, berebut bola dengan bek Bali United, Leonard Tupamahu, pada laga uji coba di Stadion Madya, Jakarta, Minggu (7/3/2021). Indonesia menang dengan skor 3-1. (Bola.com/ Ikhwan Yanuar Harun)
Penyerang Timnas Indonesia, Osvaldo Haay, berebut bola dengan bek Bali United, Leonard Tupamahu, pada laga uji coba di Stadion Madya, Jakarta, Minggu (7/3/2021). Indonesia menang dengan skor 3-1. (Bola.com/ Ikhwan Yanuar Harun)

Dia melanjutkan jika karakternya sejak muda suka dengan duel dengan lawan. Posisi stoper membuatnya sering melakukan itu.

"Kalau pemain belakang, ibatat kata kita yang tendang striker. Kerja ini sesuai dengan karakter saya. Kalau jadi striker kan justru lebih banyak ditendang," kelakarnya.

Filosofi itu terbawa sampai saat ini. Apalagi sejak muda dia dicekoki intruksi pelatih jaman dulu, 'bola boleh lewat, orangnya jangan'.

Leo mempertahankan karakter ini karena itu jadi kelebihannya. Jika mengubah cara main lebih kalem, dia khawatir tidak bisa menyesuaikan diri dan justru jadi blunder.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel