Cerita Mantan Menteri BUMN, Garuda Indonesia Ternyata Pernah Hampir Bangkrut

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sugiharto menceritakan Garuda Indonesia sudah pernah diambang kebangkrutan. Hal tersebut terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Waktu itu, Presiden SBY meminta agar Garuda Indonesia tak sampai dipailitkan. Dia meminta seluruh pihak membantu maskapai pelat merah tersebut tetap terbang meski kondisi sulit.

"Saya pernah diperintahkan dalam rakortas, saat itu saya bawa ke sidang kabinet. Di sidang kabinet, saya bawa Garuda ini mau diselamatkan atau di let go (dipailitkan)?" katanya, dalam diskusi online, Jakarta, Selasa (8/6).

"Lantas Pak SBY mengatakan, Garuda Indonesia harus tetap terbang, Garuda harus diselamatkan," sambung Sugiharto.

Usai pertemuan tersebut, Presiden SBY menunjuk Boediono sebagai Menteri Koordinator yang kemudian berkoordinasi mencari dan menjalankan solusi di rakortas. Pilihannya, biarkan kreditur masuk dan memberikan bantuan dana.

"Setelah itu ditunjuk Pak Boediono sebagai Menko untuk melakukan koordinasi, solusi di rakortas waktu itu let the creditors termasuk dari ECA (Export Credit Agency) yang terdiri dari Jerman, Prancis dan Inggris yang menyewakan menjual airbus A320 6 unit yang kemudian menimbulkan unsustainable debt sebanyak 200 juta dollar waktu itu. Saya diperintahkan untuk let them sharing the gain, but also sharing the pain," jelasnya.

Kemudian, Sugoharto, pergi menemui ECA menawarkan sejumlah solusi. Salah satunya memberikan Garuda Indonesia kesempatan untuk bernafas mencari pinjaman membayar utang yang menumpuk. Kemudian dana diperoleh dari penjualan tiket dengan pembayaran didepan serta adanya Penyertaan Modal Negara (PMN).

"Garuda selamat dengan adanya PMN yang susah-susah, gampang Rp500 miliar karena harus menghadapi DPR, tahun pertama. Dan Rp500 miliar tahun kedua. Itu berhasil merestrukturisasi Garuda Indonesia sehingga utang jangka pendek semua diperpanjang," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Ini Penyebab Keuangan Garuda Indonesia Memburuk hingga Terlilit Utang Rp 70 T

Pesawat Terbang Garuda Indonesia (Liputan6.com/Fahrizal Lubis)
Pesawat Terbang Garuda Indonesia (Liputan6.com/Fahrizal Lubis)

Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Toto Pranoto membeberkan penyebab keuangan PT Garuda Indonesia terus memburuk dalam beberapa bulan belakangan. Bahkan, kini keuangan maskapai pelat merah tersebut mengalami tekanan yang luar biasa dengan adanya penumpukan utang hingga mencapai Rp 70 triliun.

Toto menjelaskan, keuangan Garuda Indonesia sebelum dan sesudah pandemi masuk ke Indonesia. Sebelum ada Covid-19, keuangan Garuda Indonesia masih bisa menghasilkan revenue. Sementara setelah ada Covid-19, revenue ada tapi terus merosot.

"Dari laporan keuangan Garuda yang ada di kuartal III-2019 dan kuartal III-2020, setelah dan sebelum Covid masuk. Revenue saja, 9 bulan 2019 mereka masih bisa menggenerate USD3,5 billion. Kemudian 9 bulan 2020 hanya bisa generate USD1,1 billion sehingga revenue mereka turun hampir 67 persen," kata Toto dalam diskusi online, Jakarta, Selasa (8/6).

Pengeluaran dan biaya operasional mengalami penurunan selama pandemi. Di mana pada tahun lalu, Toto mencatat angka pengeluaran dan biaya operasional turun hampir mencapai 31 persen.

"Problemnya, cost structure mereka di 3 bulan pertama 2019 capai USD3,2 billion tahun lalu angkanya turun juga di 3 bulan pergama 2020 menjadi USD2,2 billion. Jadi cost structurenya turun 31 persen, sementara revenue turun anjlok 67 persen. Ini yang menyebabkan tekanan kepada keuangan Garuda Indonesia luar biasa besarnya," paparnya.

Adapun cost structure paling besar untuk membiayai leasing pesawat sebesar 75 persen. Sisanya kemudian, terdiri dari utang jangka pendek dan jangka panjang. Dengan demikian, keputusan melakukan negosiasi dengan lessor dinilai menjadi pilihan tepat.

"Kalau kita ihat, sumbangan yang paling besar cost structure biaya Garuda Indonesia adalah short term debt, factoring liabilities. Itu adalah short term debt atau utang jangka pendek, utang jangka panjang dan leasing pesawat 75 persen," jelasnya.

"Sehingga langkah Garuda Indonesia dan KemenBUMN melakukan negosisasi dengan lessor pesawat, saya kira memang yang utama karena bebannya ke keuangan garuda sangat besar," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Terlilit Utang Rp 70 Triliun, Garuda Indonesia Masih Bisa Selamat?

Garuda Indonesia meluncurkan livery khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo yang merupakan livery masker pesawat pertama yang ada di Indonesia.
Garuda Indonesia meluncurkan livery khusus yang menampilkan visual masker pada bagian depan (hidung) pesawat Airbus A330-900 Neo yang merupakan livery masker pesawat pertama yang ada di Indonesia.

Maskapai nasional Garuda Indonesia tengah berada dalam kondisi kritis. Perseroan diketahui memiliki utang mencapai Rp 70 triliun atau sekitar USD 4,5 miliar dollar AS.

Restrukturisasi menjadi pilihan untuk menyelamatkan BUMN ini. Dalam kondisi sulit, seluruh karyawan Garuda Indonesia dinilai harus memiliki pola pikir mandiri yang kompetitif.

Menurut pengamat penerbangan California State University Fresno Hendra Soemanto, pola pikir atau mindset dari para people management internal Garuda Indonesia harus ikut bertransformasi, bukan hanya perusahaan secara keseluruhan.

"Selama ini, telah terpola dalam mindset mayoritas karyawan BUMN bahkan level top management bahwa pemerintah, sebagai pemegang saham terbesar perusahaan akan menyelamatkan perusahaan dengan kebijakan dan hal ini sedikit banyak memengaruhi budaya dan iklim kerja. Pola pikir tersebut menghasilkan SDM yang manja dan cenderung berada di comfort zone dalam waktu lama," ujar Hendra dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Senin (7/6/2021).

Lanjut Hendra, sudah saatnya Garuda Indonesia memikirkan sistem atau model manajemen yang strategis dan lebih ideal dengan pemimpin yang mampu memotivasi semua karyawan untuk berkompetisi dan berpikir inovatif.

Harapan ke depannya, Garuda Indonesia dapat memperbaiki kinerja dan semua proses kegiatan perusahaan, yang di dalamnya terdapat insan dengan integritas tinggi, produktif dan komersial untuk menghasilkan kinerja yang sempurna, yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan industri.

Hendra juga berpendapat, insan Garuda Indonesia harus membangun sense of crisis, karena siapapun pemimpin kedepannya nanti, sehebat apapun langkah-langkah strategis untuk pemulihan disusun, tidak akan sukses dengan tidak adanya dukungan dari internal.

"Seluruh karyawan Garuda Indonesia harus mendukung semua program recovery dengan membangun semangat sebagai tim yang solid dan mengedepankan kepentingan perusahaan," kata Hendra.

Pangkas Komisaris

Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)
Desain masker baru pesawat Garuda Indonesia pada armada B737-800 NG (dok: GIA)

Sementara, Langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk memangkas jumlah komisaris dinilai sangat tepat. Langkah ini, menurutnya, seharusnya tidak berhenti pada level komisaris saja.

Restrukturisasi organisasi harus diimplementasikan top down, beberapa direktorat dalam organisasi Garuda Indonesia dapat di-merger, begitupun halnya dengan karyawan pada middle level. Hal ini jika dilakukan akan berdampak kepada penghematan biaya tunjangan bagi posisi atau jabatan yang tidak optimal.

"Penawaran pensiun dini harus dijadikan langkah terakhir dalam usaha restrukturisasi SDM karena jika hal ini dilakukan tentunya akan menambah beban pengeluaran bagi Garuda Indonesia dengan jumlah nominal pesangon yang harus dibayarkan dan ada kemungkinan salah sasaran," katanya.

Harapannya, lanjutnya, karyawan yang mengajukan adalah yang mendekati usia pensiun, karena jika yang mengajukan adalah karyawan dengan usia produktif dengan pertimbangan dan rencana yang kurang matang, tentu akan ada peningkatan pengangguran.

Adapun, wacana penerbangan domestik tanpa rute internasional dinilai dapat dilakukan selama masa pandemi.

"Tetapi untuk selanjutnya, secara berkesinambungan, selain Garuda Indonesia harus melakukan proses transformasi menjadi perusahaan yang lebih akuntabel, professional, dan transparan, juga menjalankan bisnis penerbangan sesuai dengan visi dan misi perusahaan untuk memperkenalkan dan mengantarkan Indonesian Culture ke seluruh dunia," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel