Cerita Megawati soal Imam Besar Istiqlal Selalu Pasang Badan Saat Dirinya Di-Bully

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri menilai bahwa Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar merupakan sosok yang amat berjasa dalam karier politiknya.

Dia mengungkapkan, bahwa ulama karismatik kelahiran Sulawesi Selatan 62 tahun silam itu selalu berada di belakangnya dan menguatkan kala dirinya di-bully atau dirundung.

Megawati bercerita, perundungan atau bullying itu muncul saat dirinya hendak menduduki jabatan Wakil Presiden dan Presiden RI, lantaran jenis kelaminnya.

"Kalau mengingat, ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena ketika saya akan dijadikan seorang Wapres, seorang Presiden maka beliau lah yang selalu memberi semangat kepada saya. Karena pada waktu itu saya selalu di-bully oleh banyak orang karena saya seorang perempuan," kata Megawati dalam acara Peluncuran Buku Nasaruddin Umar di Jakarta, Jumat (5/11/2021).

Menurut Mega, Nasaruddin selalu memberikan pembelaan terhadap dirinya. Menurut imam besar Istiqlal itu, tidak ada diskriminasi terhadap gender pada kancah perpolitikan Tanah Air.

"Beliau selalu memberikan sebuah pembelaan, bahwa di negara kita ini sebagai warga bangsa tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki," katanya.

Pada kesempatan itu, Megawati juga menyampaikan selamat atas peluncuran sejumlah buku bernafaskan sufistik karya Nasaruddin.

Luncurkan 6 Buku Bertema Islam Sufistik

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar meluncurkan enam buku bertemakan Islam sufistik dalam acara bertajuk Peluncuran Buku dan Doa Bersama untuk Bangsa di Jakarta, Jumat (5/11/2021) malam. (Liputan6.com/Yopi Makdori)
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar meluncurkan enam buku bertemakan Islam sufistik dalam acara bertajuk Peluncuran Buku dan Doa Bersama untuk Bangsa di Jakarta, Jumat (5/11/2021) malam. (Liputan6.com/Yopi Makdori)

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr KH Nasaruddin Umar meluncurkan enam buku bertemakan Islam sufistik. Berbeda dari peluncuran tahun sebelumnya, kali ini buku gagasan Nasaruddin Umar menitikberatkan pada tema feminim.

"Tema buka saya tahun ini adalah lebih feminim. Kalau tahun lalu buku-buku saya itu adalah buku-buku yang bersifat kombinasi, jadi ada sifat politiknya, antropologinya, sosiologinya. Tapi kalau tahun ini kami sengaja me-launching buku yang sifatnya sufistik ya," katanya dalam acara Peluncuran Buku dan Doa Bersama untuk Bangsa di Jakarta, Jumat (5/11/2021) malam.

Nasaruddin bukan tanpa alasan mengusung tema tersebut pada buku-buku yang dia terbitkan tahun ini. Menurutnya di tahun-tahun menjelang pemilu, bangsa Indonesia perlu didinginkan dengan bacaan yang yang jauh dari sifat maskulin.

"Kami melihat bahwa bangsa ini, terutama menjelang pemilu yang akan datang kita perlu penyejukan," katanya.

Nasaruddin memandang hal itu dilakukan dengan melempar bacaan yang sarat akan nilai sufistik. Hadirnya buku-buku itu, kata dia merupakan penyeimbang maraknya buku-buku yang menguras urat saraf.

"Karena sudah terlalu banyak buku berbicara tentang hal-hal yang sifatnya struggle ya, yang maskulin," ucap dia.

Diharapkan dengan bahan bacaan seperti itu akan terbentuk keseimbangan di masyarakat. Menurut Nasaruddin, bangsa yang utuh adalah bangsa yang memberikan tempat hati dan kepalanya untuk saling berkomunikasi.

"Jangan semuanya tumpah berbicara dalam persoalan maskulin, dalam persoalan politik. Tapi juga kita harus menengok diri kita sendiri, siapa diri kita sebetulnya, kita mau ke mana?" katanya.

Buku semacam itu, lanjut Nasaruddin juga untuk menyadarkan bangsa bahwa hidup itu memiliki batas. Bahwa ada kehidupan setelah mati.

"Dengan kesadaran sufistik seperti ini, maka kita akan berpolitiknya santun, berekonominya juga luhur, bisnisnya pun beretika," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel