Cerita Mereka yang Memilih Hidup Tanpa Media Sosial

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketika Gayle Macdonald berhasil sampai di salah satu puncak gunung di Sierra Nevada, Spanyol awal tahun ini, dia tidak hanya berhenti dan menikmati momen itu. Namun, perempuan 45 tahun itu mencari titik terbaik untuk berswafoto, yang akan diunggah di akun media sosialnya. Bahkan Gayle membahayakan nyawanya, dia menuju tepi puncak gunung saat berswafoto.

Dia lalu diomeli suaminya dan tak lama memutuskan berhenti menggunakan media sosial.

"Saya bilang begini, 'ini harus dihentikan,'" ujar ekspatriat Inggris yang tinggal di kota Grenada, Spanyol ini.

"Foto-foto awalnya hal pertama yang saya pikirkan ketika keluar mobil," lanjutnya, dikutip dari BBC, Senin (7/11).

"Memikirkan sepanjang waktu bagaimana membuat konten, dan mengkhawatirkan saya harus ngomong apa, sangat membuat kepala saya penuh dan membuat saya lemah."

Sepekan kemudian, Gayle lalu membuat pengumuman di akun Instagram dan Facebooknya dia berhenti main media sosial.

"Orang-orang komentar 'saya juga berharap bisa melakukannya' dan 'kamu sangat berani'."

Gayle biasanya menghabiskan rata-rata 11 jam dalam sepekan berselancar di media sosial. Dia mengatakan berpikir untuk meninggalkan media sosial jauh lebih menakutkan daripada benar-benar berhenti memainkannya.

"Ketika awal-awal saya berhenti, saya tidak punya keinginan," ujarnya.

"Cukup melegakan. Saya sekarang sudah lebih dari enam bulan tanpa media sosial, dan saya mendapatkan kembali rasa bebas dan damai yang saya alami ketika saya berhenti minum alkohol."

Gayle juga mengaku lebih bahagia tanpa media sosial.

"Sangat melegakan duduk dan minum teh tanpa khawatir soal foto, keterangan foto, dan apakah harus dibikin jadi story, reel, atau unggahan. Sungguh lebih hidup," kata dia.

Salah satu penelitian global pada Juli memperkirakan, rata-rata seseorang menghabiskan waktu dua jam dan 29 menit per hari main media sosial dan internet. Lima menit lebih lama dari penelitian setahun sebelumnya.

Sebagian orang menganggap ini kebiasaan buruk yang harus dihentikan, dan ada juga yang menganggap ini sebagai kecanduan yang perlu bantuan untuk menghentikannya.

Addiction Treatment Inggris (UKAT), organisasi yang menjalankan pusat perawatan ketergantungan atau kecanduan media sosial mengatakan, ada 5 persen peningkatan jumlah orang yang mencari bantuan agar bisa keluar dari kecanduan media sosial dalam tiga tahun terakhir.

Rusak kualitas tidur

tidur rev1
tidur rev1.jpg

Urvashi Agarwal berhenti menggunakan Instagram pada 2014, tapi hanya bertahan setahun. Agustus lalu, dia menghapus akun pribadinya untuk kedua kali, dan dia keukeuh dia tidak akan kembali lagi menggunakan media berbagi foto dan video tersebut.

"Seratus persen (berhenti). Tidak hanya buang-buang waktu, tapi rasanya privasi di dunia ini semakin berkurang. Apapun yang kamu lakukan bisa dilihat di sana."

Urvashi juga berhenti menggunakan Twitter maupun Facebook dan menurutnya itu sangat melegakan dan membebaskan.

"Saya menyukainya. Saya sekarang membaca 15 halaman buku setiap malam," ujarnya.

Psikoterapis dan penulis buku The Phone Addiction Workbook, Hilda Burke mengatakan banyak kliennya yang mengungkapkan adanya korelasi antara penggunaan media sosial, kurang tidur, dan meningkatnya kecemasan.

Kashmir, perempuan 27 tahun yang bekerja sebagai eksekutif Public Relation mengaku berhenti menggunakan Instagram sejak 10 bulan lalu dan sebelum itu dia juga berhenti main Snapchat.

"Dorongan utamanya adalah kesehatan mental saya," ujarnya.

"Saya biasanya main sosial media malam hari, lalu kualitas tidur malamku buruk, dan pas bangun enggak merasa segar." [pan]