Cerita Mourinho Penuh Penyesalan Tinggalkan Inter Milan Demi ke Madrid

Pratama Yudha

VIVA – Jose Mourinho akhirnya buka suara terkait penyesalannya meninggalkan Inter Milan demi melatih Real Madrid. Dia mengaku masa-masanya bersama La Beneamata lebih indah ketimbang di Madrid.

Mourinho menjalani momen bersama Inter Milan selama dua musim mulai 2008-2010. Meski singkat, namun prestasinya sangatlah membanggakan.

Bagaimana tidak, dia berhasil memberikan treble winner di tahun terakhirnya sebelum akhirnya menerima pinangan El Real. Kepergiannya ke Ibu kota Spanyol masih menyisakan segumpal penyesalan bagi pria asal Portugal.

Jadi, isu Mourinho menangani Madrid makin menyeruak saat Inter sedang berkonsentrasi menghadapi Barcelona di semifinal. Bahkan, eks manajer Chelsea itu disebut sudah menandatangani kontrak dengan Madrid.

Faktanya, dia baru mengatakan setuju secara verbal. Meski, pada akhirnya dia memutuskan pindah ke Madrid.

"Jika saya kembali ke Milan usai final di Santiago Bernabeu, mendengar fans menyanyikan nama saya, mungkin saya tak akan meninggalkan Inter," ungkap Mourinho dikutip Marca.

"Saat itu, saya belum menandatangani kontrak dengan Real Madrid. Beberapa mengatakan perwakilan Madrid datang ke hotel kami sebelum final. Tapi, yang mereka bicarakan hanyalah omong kosong," lanjutnya.

Pria yang kini menangani Tottenham Hotspur itu memiliki alasan kuat untuk meninggalkan Nerazzurri. Sebab, dia sebelumnya sudah pernah menolak tawaran Los Blancos.

"Anda tak bisa mengatakan tidak pada Real Madrid sebanyak tiga kali. Mereka sudah mendatangi saya setahun sebelumnya dan mengajukan penawaran pada Presiden Massimo Moratti, tapi dia meyakinkan saya untuk bertahan. Saya juga pernah menolak Madrid saat masih di Chelsea," kata Mourinho.

Kendati demikian, mantan bos Manchester United itu mengaku masa-masanya bersama Madrid terasa sulit meski berhasil menjuarai LaLiga pada 2012. Sebab, dia tak mampu menggeser dominasi Barcelona yang kala itu dipimpin oleh Pep Guardiola.

"Saya memutuskan untuk pergi ke Madrid setelah leg kedua semifinal kontra Barcelona karena saya tahu kami akan memenangkan Liga Champions," ucap Mourinho.

"Moratti sudah tahu. Tak diperlukan kata-kata. Dia tahu terlihat dari bagaimana kami berpelukan di lapangan usai final di Madrid. Moratti mengatakan, 'kamu bisa pergi setelah ini'. Tidak salah melakukan apa yang saya inginkan, tapi untuk bahagia. Faktanya, saya lebih bahagia di Milan ketimbang di Madrid," jelasnya.