Cerita Nadiem Makarim, GoJek, dan Filsafat Marhaenisme

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim mengaku begitu tertarik dengan aliran pemikiran yang kerap disematkan dengan Soekarno, yakni Marhaenisme. Sebab, menurut Nadiem, Marhaenisme berfokus pada upaya-upaya untuk memerdekakan rakyat kecil dari beragam belenggu.

"Saya sangat tertarik dengan filsafat Marhaenisme yang mengenai rakyat kecil dan potensi dari rakyat kecil pada saat kita memerdekakan mereka," ujar Nadiem dalam sebuah acara pada Selasa (29/6/2021).

Filsafat itulah yang mendorongnya untuk mendirikan Gojek Indonesia serta menjadi menteri dalam Pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi yang bagi Nadiem merupakan sebuah bentuk pengabdian.

Ia memandang saat ini instrumen kemerdekaan bukan lagi soal kemerdekaan fisik. Namun juga soal kemerdekaan ekonomi dan merdeka dari keterbatasan.

"Saya setiap hari sebelum memulai Gojek itu, setiap kali mengambil ojek, saya berbincang-bincang dan nongkrong sama pangkalan ojek setiap hari, dan baru dengan diskusi itulah saya menemukan pada saat kita dekat seperti halnya dengan rakyat. Baru kita menyadari potensi rakyat itu seperti apa," ucap dia.

Mula-mula saat memulai mendirikan Gojek Indonesia, Nadiem bilang banyak yang memberikan maklumat kepadanya bahwa para ojek itu tidak profesional dan tak bisa dipercaya. Namun pernyataan itu terbantahkan kala dirinya bersentuhan langsung dengan para tukang ojek pangkalan.

Di sana menteri yang senang dipanggil Mas Menteri itu menemukan jiwa keprofesionalan para tukang ojek.

"Semuanya itu mencerminkan suatu profesionalisme, suatu motivasi, dan kemauan kerja keras yang luar biasa, dan itu yang menjadi rahasia saya, kenapa saya tiga tahun mau terus, gak ada yang mau danain (Gojek). Saya danain sendiri, sampai saya pun hampir bokek sendiri untuk percaya bahwa dengan adanya dukungan instrumen generasi kami adalah teknologi," ujarnya.

Akrab dengan Perjuangan

Menurut Nadiem dirinya cukup familier dengan semangat perjuangan. Bagaimana tidak ia mengaku kerap dicekoki semangat itu dari leluhurnya.

"Perjuangan itu adalah suatu hal yang memang dari kecil, kakek saya dan nenek saya berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Juga kenal baik Bung Karno dan Bung Hatta dan orang tua saya adalah aktivis di bidang hukum, di bidang antikorupsi dan di jurnalisme dan demokrasi," jelasnya.

Bahkan saat pertama kali dirinya masuk ke sektor swasta. Nadiem mengaku diancam oleh ayahnya bahwa ia tak banggan dengan jalan yang dipilih anaknya itu.

"Orang tua saya selalu menyebut bahwa 'saya nggak akan bangga sama kamu Nadiem, kalau kamu hanya mencari duit saja'. Itu tidak masuk kriteria kesuksesan di dalam sistem penilaian keluarga saya. Kakek saya, waktu almarhum selalu bercerita mengenai Bung Karno. Bercerita mengenai Konferensi Asia-Afrika, bercerita mengenai proklamasi kemerdekaan," katanya.

Semua cerita-cerita itulah yang menurut Nadiem benar-benar sudah masuk dan mendarah-daging di kehidupan orang tua. Hal itu juga secara tidak langsung juga amat mempengaruhi hidupnya.

"Dan itu menjadi landasan dari berbagai macam jenis keputusan saya itu di dalam hidup ini," dia memungkasi.

Saksika Video Terkait Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel