Cerita Nelayan Gorontalo Utara yang Nyaris Kehilangan Nyawa di Teluk Tomini

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Gorontalo - Seorang nelayan bernama Parmin Lihawa (24), asal Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), nyaris kehilangan nyawa, lantaran peristiwa yang dialaminya di perairan Teluk Tomini.

Warga Dusun Yapi Yapi, Desa Tihengo, Kecamatan Ponelo Kepulauan (Ponkep), Gorut tersebut, mengalami kecelakaan laut sekitar pada Jumat, (16/7/2021) siang sekitar pukul 01.00 Wita.

Parmin bercerita, kala itu, ia sedang berlabuh menuju daratan membawa hasil tangkapan. Namun, di tengah perjalanan, seketika terjadi badai besar yang disertai hujan.

Menurutnya, munculnya cuaca buruk itu sekitar pukul 09.00 Wita pagi. Meihat cuaca yang kian memburuk, ia pun mulai merasakan firasat bahwa akan terjadi peristiwa yang membahayakan dirinya.

Karena khawatir, Parmin kemudian menghubungi rekannya yang sudah lebih dulu kembali ke daratan. Dengan mengunakan ponsel miliknya, akhirnya ia tersambung dengan rekannya dan mengabarkan bahwa cuaca sedang tidak baik.

Badai pun semakin kencang, membuat perasaannya makin tak keruan. Tiba-tiba perahu yang ia tumpangi tak mampu menahan besarnya ombak. Tak menunggu waktu lama, perahu kemudian dimasuki air dan akhirnya tenggelam.

Untung saja, Parmin masih sempat meraih sebuah pelampung. Ia memutuskan berenang menggunakan alat seadanya itu, dan menuju Pulau Lampu yang jaraknya sangat jauh dari lokasi peristiwa.

Kurang dari 5 jam, Parmin terombang-ambing di lautan. Ia harus melawan ganasnya ombak. Waktu menunjukkan Pukul 16.00 Wita, ia masih terus berupaya sekuat tenaga demi menggapai pulau yang ia tuju.

"Saat itu saya memang sudah pasrah. Badan lemas sekali dan dingin," kata Parmin menceritakan kisahnya kepada Liputan6.com

Sekitar pukul 17.00 Wita, kata Parmin, dirinya sudah tidak mampu lagi berenang. Namun, beruntung tiba-tiba ada seorang nelayan yang lewat tidak jauh dari tempat ia mengapung.

Ia pun berusaha dengan sekuat tenaga berteriak meminta pertolongan. Nelayan yang akrab disapa Ka Mini langsung merespon panggilan itu dengan membelokan kemudi perahu menuju arah korban.

Parmin, akhirnya berhasil diselamatkan dan langsung dibawa pulang dengan selamat ke rumahnya di Desa Tihengo.

Kehilangan Pekerjaan

Di samping masih sangat trauma atas peristiwa yang dialaminya tersebut, Parmin juga sudah tidak tahu mau bagaimana lagi. Pasalnya, usaha bagan yang menjadi tempatnya mengais rezeki, sudah tenggelam.

"Saya masih trauma berat, selain itu bagan ikan yang menjadi alat untuk mencari ikan sudah tenggelam," ujarnya.

Ditanya soal kerugian materi, ia menyebut, kurang lebih Rp 80 juta. Selain satu badan perahu bagan hancur, barang-barang berupa satu buah mesin kapal serta peralatan tangkap ikan lainnya, turut tenggelam pada peristiwa tersebut.

"Kalau dirupiahkan kira-kira sekitar Rp80 juta. Bagan hancur bagan dan peralatan lain ikut tenggelam," ia menandaskan.

Simak juga video pilihan berikut:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel