Cerita Ngeri Puluhan Anak Buah Jenderal TNI Luhut Mati Demi NKRI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Setelah mendengar cerita Sersan Mayor (Serma) TNI Durman, ada kisah lain yang diungkap oleh Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan. Purnawirawan Perwira Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat ini pernah merasakan pilu saat puluhan anak buahnya tewas dalam pertempuran hanya dalam waktu empat bulan.

Mengutip catatan Luhut yang diunggah di akun Facebook pribadinya, VIVA Militer sebelumnya menceritakan bagaimana sosok seorang Serma Durman membuat Luhut begitu salut.

Ya, Durman adalah anak buah Luhut anggota Kompi A Grup 1 Para Komando Kopassandha (Komando Pasukan Sandhi Yudha), yang kini menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pengalaman tempur Luhut dan anak buahnya terjadi pada Operasi Seroja di Timor-Timur, yang dimulai pada 7 Desember 1975.

Saat itu, sejumlah pasukan elite Kopassus diterjunkan ke Timor-Timur untuk bertempur melawan anggota Front Revolusi Kemerdekaan Timor-Leste (Fretilin) yang punya ideologi komunis.

Meski pada akhirnya TNI menjadi garda terdepan yang berhasil membuat Timor-Timur masuk dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), prajurit tempur seperti Luhut tetap takkan lupa bagaimana kengerian perang saat itu.

Luhut mengingat betul bagaimana Operasi Seroja dimulai. Tak hanya itu, Luhut juga tahu persis berapa jumlah personel Kompi A Para Komando Kopassandha yang dipimpinnya.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, mengakui bahwa Operasi Seroja adalah misi yang sangat berat. Buktinya, pasukan Luhut yang tadinya berjumlah 110 orang pada awal diterjunkan, hanya tersisa 80 orang saja.

"Operasi yang kami jalankan adalah operasi yang cukup berat dan banyak merenggut korban. Kami di Kompi A mengawali operasi ini pada tanggal 7 Desember 1975 dengan kekuatan 110 orang prajurit. Tapi pada Maret 1976, jumlahnya bersisa menjadi 80 orang saja," bunyi pernyataan Luhut di Facebook.

Kalah jumlah, dan pengetahuan medan yang minim, jadi kendala yang sangat berarti bagi Luhut dan anak buahnya. Apalagi saat itu, Luhut dan pasukan Kopassus harus bertempur setiap hari. Luhut mengakui, pasukan Fretilin memiliki kemampuan tinggi dalam menghadapi pertempuran.

Tak hanya itu, dengan pengetahuan soal medan dan kondisi fisik yang lebih maksimal, pasukan Fretilin dianggap Luhut mampu menyulitkan ia dan pasukannya.

"Selama 5 bulan operasi, kompi kami melakukan pertempuran setiap hari. Fierce battle istilahnya. Pertempuran berhadapan dengan pasukan Fretilin yang mempunyai motivasi tempur tinggi, kemampuan serta disiplin menembak prima, dan menguasai medan dengan sempurna," tulis Luhut.