Cerita Nyata Nasabah Bank, Setor Rp2 Juta Masuknya Rp20 Juta

Ezra Sihite, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 3 menit

VIVA – Kasus salah transfer akibat human error oleh petugas Bank Central Asia (BCA) cabang Citraland Surabaya berbuntut panjang. Kekeliruan itu sampai membuat nasabahnya, Ardi Pratama, warga Manukan Lor, Surabaya, Jawa Timur jadi pesakitan di pengadilan menyedot perhatian. Ternyata perihal human error seperti itu tidak hanya kali ini terjadi di sebuah bank. Kejadian mirip pernah pula terjadi di bank lain sebelumnya yang kemudian dikisahkan oleh seorang nasabah.

Adalah Azril Farih yang pernah mengalami hal itu. Namun kata dia bukan salah transfer. Pria asal Kabupaten Gresik itu mengaku pernah menerima uang dalam jumlah yang lebih besar dari nominal uang yang disetorkannya ke sebuah bank pelat merah. Beruntung, kekeliruan itu tidak berbuntut perkara hukum karena ia mengembalikan uang tersebut.

Farih menceritakan pengalamannya tersebut di akun Facebook pribadinya pada Minggu malam, 28 Februari 2021. Ia berbagi pengalaman setelah membaca kasus salah transfer BCA yang membelit Ardi Pratama.

"Beberapa tahun lalu saya setor tunai di bank BRI Unit Jemursari Surabaya Rp2 juta," tulis Azril Farih membuka cerita.

Rupanya lanjut Farih, petugas keliru melakukan input data nominal uang yang disetorkan. Di kertas bukti setoran warna kuning yang diterima, tertulis nominal setoran sebesar Rp20 juta bukan Rp2 juta. Untuk memastikan itu, ia kemudian mengecek ke ATM.

"Dan ternyata betul, ada dana masuk sebesar Rp20 juta," kata dia.

Tak percaya, Farih kemudian mencoba menarik tunai sebesar Rp5 juta dan bisa ditarik. Tak lama kemudian ia coba mengecek lagi saldo di rekeningnya di ATM yang lain. Ternyata, saldonya langsung berubah tersisa Rp50 ribu.

"Tak lama kemudian ada telepon dari pihak BRI dan mengatakan ada kekeliruan dalam pencatatan tunai," tulis Farih.

Pihak BRI lalu meminta bertemu dengannya. Sempat berpikir ia akhirnya memutuskan untuk bersedia.

"Kira-kira harus ditemui atau tidak, ya? Karena konsekuensinya kalau ditemui uang tersebut harus saya kembalikan. Sebaliknya kalau saya tidak temui, apa mungkin saya akan dijerat hukum. Akhirnya saya putuskan saya temui saja," kata dia.

Singkat cerita, Farih pun bertemu pihak BRI di sebuah kantin kantor tempat dia bekerja di Surabaya. Ia diminta menandatangani bukti setoran ulang Rp2 juta dan mengembalikan uang alias duit yang ditarik di ATM sebesar Rp5 juta. Ia juga diminta datang ke kantor BRI Surabaya pada keesokan harinya.

"Dan begitu saya datang keesokan harinya, saya pun disambut hangat dan diberi beberapa suvenir sebagai bentuk rasa terima kasih telah menyadari adanya kekeliruan dalam salah setoran tersebut dan mau mengembalikan dana," lanjut Farih.

Kepada VIVA, Farih membenarkan pengalaman yang ia ceritakan di akun Facebook itu. Hal itu terjadi sekitar tahun 2008 atau 2009.

Saat itu, ia mengaku di rekeningnya tersisa saldo Rp600 ribu. Ia kemudian menyetor duit tunai Rp2 juta. "Waktu itu setor sekitar pukul dua siang dan jelang closing teller. Nasabahnya cuma saya satu dan enggak pakai antre," ceritanya melalui pesan singkat pada Senin, 1 Maret 2021.

Saat itu, lanjut Farih, ia dilayani langsung oleh kepala unit BRI menggantikan teller yang tengah istirahat, salat dan makan (isoma). Belajar dari hal itu, kepada nasabah lain dia berpesan jika menerima duit nyasar ke rekening agar segera mengkonfirmasi ke pihak bank.

"Dan yang perlu diingat, kenapa waktu setor tunai itu harus nyantumkan nomor telepon karena suatu saat ketika ada kekeliruan pihak bank langsung menghubungi," kata dia lagi.