Cerita Pasien COVID-19 yang Bertahan karena Dukungan Keluarga

Ichsan Suhendra, Isra Berlian
·Bacaan 4 menit

VIVA – Putra merupakan pekerja di bidang transportasi. Kehidupannya berubah setelah ia dan istrinya, Nita Amandita dikaruniai anak pertama. Namun hal itu hanya bertahan dua bulan, Putra dinyatakan positif COVID-19.

Awalnya Putra merasakan demam dan batuk selama satu minggu. Akhirnya ia memutuskan untuk menjalani tes swab. Sehari setelahnya, Putra dinyatakan positif.

Putra tidak tahu dimana dirinya terpapar. Pekerjannya buat Putra bertemu banyak orang. Terlebih menurut sang istri, Putra awalnya tidak

"Enggak tahu ketularannya di mana, tapi mungkin waktu di publik area. Dia juga kurang aware, jarang pakai masker, kalau pulang pun enggak langsung mandi. Dia juga kalau saya tegor bilang, 'kalau kena, ya udah kena aja'," kata Nita kepada VIVA baru-baru ini.

Putra menjalani isolasi mandiri selama dua minggu. Selama itu pula Putra akhirnya sadar dan menyesali banyak hal. Ia merasa bersalah kepada buah harinya. Sang istri tetap memberi dukungan moral kepada sang suami.

Usai menjalani isolasi mandiri selama lebih dari dua pekan, dan menjalani dua kali swab. Pertengahan Oktober lalu, Putra kembali menjalani swab ketiga dan hasilnya dia dinyatakan negatif COVID-19. Dia kini sudah sembuh, namun kondisinya tidak 100 persen seperti dulu. Lantaran dia merasakan gejala batuk pasca dinyatakan sembuh COVID-19.

Tidak hanya Putra dan keluarga saja. Salah satu keluarga di Jakarta Timur yang tidak ingin disebutkan namanya di juga harus menerima kenyataan kurang menyenangkan. Sebab, buah hatinya yang baru saja lahir beberapa bulan lalu dinyatakan positif COVID-19. Sang ibu yang berprofesi sebagai pekerja di sebuah rumah sakit mengaku shock mengetahui hal tersebut. Padahal kata dia, dirinya dan sang suami dinyatakan negatif dari hasil tes swab COVID-19.

"Saya dan suami negatif, saya tidak tau bagaimana anak saya bisa kena," jelas dia.

Dia mengaku sempat down dan tidak tau harus berbuat apa mengingat sang bayi yang masih berumur hitungan bulan. Kini sang bayi diketahui tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit.

Tentu bukan hal yang mudah baginya, dia mengaku bingung. Belum lagi ASI-nya sempat tidak keluar untuk diberikan kepada sang anak. Namun, satu momen ketika dia mengantarkan ASI ke rumah sakit dia sadar untuk segera bangkit agar sang bayi bisa melewati hari-hari itu.

"Kalau saya terpuruk kasian anak saya. Saya yakin dia merasakan apa yang saya rasakan. Kalau saya tidak bangkit pasti juga akan sulit bagi anak saya. Ketika kita merasa positif saya yakin energi itu juga akan dirasakan anak saya dan akan menambaha kekuatan anak saya untuk sembuh," jelas dia.

Pentingnya support sistem

Di sisi lain, Psikolog Klinis, Meity Arianty menjelaskan di tengah pandemi seperti saat ini, bukan hanya obat farmasi saja yang dibutuhkan pasien. Tetapi juga dukungan moril dari pihak keluarga serta lingkungan sekitar juga berpengaruh besar pada kesembuhan pasien.

"Sangat besar karena kita sebagai mahluk sosial tidak bisa lepas dari orang lain. Kita selalu butuh orang lain untuk berbagi hal. Support dari orang lain akan membuat kita jauh lebih kuat dimana mungkin jika kita sendirian merasa kurang mampu atau belum maksimal maka orang lainlah yang melengkapinya," kata dia kepada VIVA, belum lama ini.

Dia juga menjelaskan penting bagi pasien untuk pasien atau anggota keluarga yang dinyatakan positif untuk menguatkan diri. Ini penting untuk membantu proses penyembuhan mereka.

"Hal pertama yang harus dipersiapkan adalah proses penerimaan. Menerima bahwa hasilnya positif, sehingga kita harus itu sebagai bagian yang harus dilewati. Tidak usah pikirkan hal lain dulu, seperti apa kata orang, bagaimana ke depannya, apa yang terjadi pada diri sayam dan pikiran negatif lainnya," kata Meity.

Meity melanjutkan, seorang seseorang yang dinyatakan positif COVID-19 kemudian harus bangkit dan fokus pada apa yang harus dijalani untuk menghadapi kondisi misalnya fokus untuk menjalankan perawatan atau isolasi mandiri, makan makaan sehat, minum vitamin, hingga berfikir positif.

"Lewati prosesnya dengan tetap tenang, tetap semangat dan positif, tetap yakin dan optimis bahwa kondisi ini akan bisa dilewati dan percaya Tuhan akan memberikan kekuatan dam Tuhan paling tau apa yang terbaik bagi kita," jelas dia.

Selain itu, kata dia penting untuk menyiapkan mental, menenguhkan hati dan pikiran untuk mau tidak mau menjalani hari-hari ke depannya dengan kondisi saat ini (menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri) dimana yang harus dipulihkan adalah kondisinya.

"Kita harus sehat dulu sebelum memikirkan hal lain diri kita. Ingat kunci sehat itu dari pikiran, sehingga jika pikiran kita sehat itu sudah membantu tubuh/fisik kita untuk lebih sehat," katanya.