Cerita Penemuan Ular Naga Jawa di Pegunungan Sanggabuana Karawang

Merdeka.com - Merdeka.com - Ular Naga Jawa ditemukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak, salah satu air terjun yang ada di Pegunungan Sanggabuana, Sabtu (29/11) malam. Sosok ular ini menjadi misteri dan mitologi di berbagai belahan dunia.

Deby Sugiri dari Divisi Konservasi Keanekaragaman Hayati (DKKH) Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) menjelaskan, Ular Naga Jawa ini memang sudah dicari sejak setahun yang lalu di sepanjang belantara Pegunungan Sanggabuana.

"Ular Naga ini kami temukan di aliran sungai Curug Cikoleangkak pada malam hari saat herping," katanya.

Ular ditemukan ketika SCF melakukan analisis vegetasi bersama Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta dan Sispala Samaru SMA 1 Tegalwaru.

"Kami mencari sejak dari Curug Cipanunda di atas Kampung Tipar, yang ada di wilayah Karawang sampai di Curug Cimata Indung yang hutannya masuk wilayah Purwakarta," jelas pria gondrong yang juga berprofesi sebagai fotografer ini.

Menurut Deby, Ular Naga Jawa yang menyukai tempat lembab dan berbatu, serta merupakan jenis reptil semi akuatik ini merupakan ular unik dan endemik. Ular Naga Jawa masuk kategori ular yang tidak berbisa dan cenderung mudah stres.

Pada saat ditemukan berada di Curug Cikoleangkak di ketinggian sekitar 565 meter di atas permukaan laut. "Kami temukan waktu itu sedang makan anak katak atau kecebong," tutur Deby.

Ular Naga Jawa dalam bahasa latin disebut Xenodermus Javanicus, adalah jenis ular dari family Xenodermidae. Ular dengan ukuran panjang sekitar 50 cm ini merupakan satwa endemik Jawa, dan tidak ditemukan di pulau lain.

Berbeda dengan naga dalam mitologi yang mempunyai sayap dan mampu mengembuskan napas api, Naga Jawa tidak mempunyai sayap dan senjata api dari mulutnya.

Namun, Ular Naga Jawa ini mempunyai sisik yang lebih kasar di banding ular pada umumnya, lebih mirip dengan sisik biawak. Ciri khas lainnya adanya sisik atau duri menonjol yang disebut hemipenial di sepanjang punggung atau bagian dorsal.

Barisan hemipenial di bagian dorsal ini berjajar rapi, mirip dengan tubuh naga dalam mitologi.

Hemipenial di belakang kepala ini pada beberapa individu sangat menonjol hingga seperti membentuk tanduk atau mahkota di bagian belakang kepala.

Ular ini pemakan ikan dan katak atau kodok, serta biasa ditemui di dataran tinggi 1.000 MDPL. Ular Naga Jawa juga merupakan satwa yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Jika iklim atau agroklimat berubah, maka Ular Naga Jawa ini akan gampang stres dan mati. [cob]