Cerita Penggali Kubur Jenazah COVID-19: Tak Ada Waktu Santai

Bayu Nugraha, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Matahari mulai terbit di Kota Jakarta Timur, itu merupakan penanda bagi Adang untuk segera berangkat ke Tempat Pemakaman Umum Pondok Ranggon. Pria yang merupakan seorang penggali makam ini harus sudah berada di TPU tersebut pada pukul 07.00 WIB.

Beberapa bulan terakhir, Adang merasa pekerjaannya sebagai penggali makam menjadi super sibuk. Sejak pandemi COVID-19 menyerang, hampir tak ada waktu bersantai bagi dirinya yang harus terus bekerja menguburkan jenazah korban COVID-19.

"Iya sudah rutin sekarang dari pagi-pagi. Mulai sekitar pukul tujuh lah kita udah di sini. Udah siap untuk kerja. Gali makam," kata Adang memulai perbincangan.

Baca juga: Mengenal Emmanuel Macron, Orang yang Paling Dibenci Umat Islam

Pria yang sejak tahun 2008 sudah menjadi penggali makam ini menuturkan, sebelum virus COVID-19, pekerjaannya masih normal. Namun ketika pandemi dan mulai muncul banyak korban jiwa, dirinya harus bekerja ekstra keras.

"Saya masuk kesini sebagai tukang gali makam tahun 2008 sampai sekarang. Biasanya kami bertugas di tempat biasa, di tempat reguler. Selama musim pandemi ini saya ditugaskan di sini kerjanya ya jadi agak ekstra," ujar Adang.

Menjadi penggali makam COVID-19 bagi Adang, bukanlah hal yang mudah, karena selain tenaga, emosionalnya juga ikut terkuras. Terkadang dia merasakan perasaan sedih yang mendalam karena melihat banyaknya manusia yang meninggal dalam satu hari.

Jenazah tersebut ada yang dibawa dengan diiringi isak tangis keluarga, namun ada juga yang dibawa tanpa didampingi keluarga. Ada sebagian keluarga yang tak ingin mengantar karena takut terinfeksi COVID-19.

Adang juga menegaskan, tidak sembarangan dalam menguburkan jenazah COVID-19. Dia tetap memperlakukan jenazah dengan baik sebagaimana mestinya. "Kalau kami di sini tugasnya hanya saat datang jenazah, Kami langsung kebumikan dan sebagai manusia harus memanusiakan manusia," ujar Adang

Adang mengaku, sejak menjadi penggali kubur khusus COVID, dirinya tidak bisa sembarangan dan harus betul-betul menerapkan protokol kesehatan. Seperti saat pulang ke rumah, Adang tidak bisa langsung bertemu keluarga harus melakukan sejumlah proses pembersihan diri agar tidak ada virus yang menempel.

"Saya pribadi kalau pulang dari sini tidak masuk ke rumah dulu. Diam di luar dulu, di luar rumah ngademin badan dulu. Biar agak kering tidak berkeringat kalau sudah di rumah kita langsung mandi air hangat saja, biar rileks dan kita jauhi keluarga dulu," ujar Adang

Adang mengatakan, pada awal masa pandemi, banyak korban berjatuhan. Tak tanggung-tanggung, dalam satu hari Adang bisa menguburkan 20 jenazah dan hal itu bukanlah tugas yang mudah.

"Setiap hari kami menguburkan kurang lebih 20 jenazah yang kami kuburkan. Sebenarnya kami di sini sudah lelah dari pagi jam 7 sampai dengan sore jam 5 kami harus terus gali lobang. Jadi untuk masyarakat harus ditaati aturan pemerintah jaga jarak, jangan berkerumun, pakai masker jangan keluar rumah," ujar Adang