Cerita penjaga warung depan stadion saat tragedi Kanjuruhan Malang

Seorang saksi mata yang juga penjaga warung di depan Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menceritakan detik-detik kerusuhan yang terjadi di luar stadion pada Sabtu (1/10) malam.

"Sekitar pukul 11 malam suporter yang tidak terlibat kericuhan masuk ke warung kami, kebanyakan wanita sama anak-anak," ujar penjaga warung depan Stadion Kanjuruhan, Rehan di Malang, Ahad.

Pada saat terjadi pembakaran mobil di depan stadion, Rehan mengaku depan warung yang ia jaga menjadi tak kondusif. "Ricuh banget suasananya, saya juga takut," ujar dia.

Usai terjadi pembakaran sejumlah mobil tersebut aparat menembakkan gas air mata di depan warung tersebut. Para pengunjung langsung berhamburan.

Baca juga: Manajer Arema FC: PT LIB tolak pengajuan "kick off" lawan Persebaya

Baca juga: Bupati Suprawoto hadiri pemakaman Aremania Magetan korban Kanjuruhan

"Ada yang nangis, teriak-teriak, mata perih soalnya," kata Rehan.

Terhitung hingga tiga kali gas air mata ditembakkan aparat di depan warung yang menjual makanan dan minuman tersebut.

"Sempat saya tanyakan ke polisi pagi tadi, katanya kemungkinan itu salah tembak kalau sampai masuk warung, tapi iya masak salah tembak sampai tiga kali," ujar dia.

Rehan berharap tragedi ini tak terulang kembali di Indonesia khususnya di Malang.

"Saya ga pengen lihat kayak gitu lagi mas, ngeri, apalagi pas lihat tangisan perempuan dan anak-anak," katanya.

Berdasarkan data terakhir, korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya bertambah menjadi 130 orang.*

Baca juga: Ketua DPR minta investigasi menyeluruh tragedi Kanjuruhan

Baca juga: Mia Beutik soroti pengamanan perempuan dan anak di tragedi Kanjuruhan