Cerita penjual mi ayam jujur kembalikan BlackBerry pelanggan

MERDEKA.COM,

Ridwan, penjual mi ayam di Taman Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kisah yang patut dijadikan contoh di zaman yang serba modern ini. Salah satu kisah teladannya adalah saat mengembalikan  BlackBerry milik pelanggannya yang tertinggal.

Bapak beranak tiga itu berjualan di depan Joglo Sriwedari. Pria yang tampil bersahaja ini mengaku pernah menemukan BlackBerry, saat dia mau menutup warungnya.

"Kira-kira dua tahun lalu, di bawah kursi panjang tempat duduk para pembeli, saya menemukan HP. Saya tidak tahu milik siapa, dan harganya berapa. Tapi kelihatannya bagus," kata Ridwan.

Ridwan mengisahkan terpaksa membawa pulang handphone tersebut karena memang saat itu sudah tidak ada satu orangpun selain dirinya.

"Semua sudah pulang mas. Saya tunggu setengah jam juga tidak ada yang mengambil. Akhirnya saya bawa pulang saja," katanya.

Ridwan mengaku, saat itu sempat berfikir untuk memiliki handphone tersebut, karena memang sejak lama memimpikan untuk membeli handphone. Apalagi handphone yang bagus dengan fasilitas kamera dan musik.

Namun niat buruk itu tak berlangsung lama dibenak Ridwan. Usai salat Magrib dan berdoa dia segera membuang jauh niat tersebut. Dengan dukungan istri dan ketiga anaknya, Ridwan pun berniat mengembalikan handphone tersebut pada sang empunya.

"Saya sudah lama ingin punya HP, melihat HP itu saya jadi kepingin memiliki. Tapi saya segera sadar, itu bukan hak saya. Saya takut dosa," ujarnya.

Keesokan harinya Ridwan kembali berjualan seperti biasa. Gerobak dan tenda berwarna pink selalu setia menemaninya. Tepat pukul 09.00 Wib, Ridwan mulai membuka lapaknya. Mi ayam, dilengkapi ceker, kepala, telur rendang dan jeroan ayam, menjadi daya tarik dagangannya.

Pelanggan mi ayam Ridwan memang beragam, dari masyarakat biasa, pelajar, instansi pemerintah, swasta, perbankan, mahasiswa hingga kalangan perhotelan. Saat pembeli mulai menyerbu, tak lupa Ridwan mengumumkan bahwa dia telah menemukan sebuah handphone. Namun hingga 3 hari diumumkan, tak satupun pembeli yang mengaku sebagai pemilik handphone tersebut.

"Sudah 3 hari saya umumkan, tapi nggak ketemu juga siapa pemiliknya. Saya sempat berfikir mau saya pakai saja. Tapi saya urungkan lagi niat saya," tambahnya.

Sempat bingung mencari pemilik handphone, di hari berikutnya, ada serombongan pembeli dari perhotelan yang datang. Saat diumumkan pada mereka, ada salah satu yang merasa kehilangan. Seorang wanita muda, dirinya merasa kehilangan BlackBerry 3 hari lalu.

Menurut Ridwan, wanita tersebut tak ingat handphonenya tertinggal di mana. Bahkan wanita tersebut tak pernah berfikir handphonenya tertinggal di warungnya.

"Menurut Mbak Retno (nama pemilik HP) mungkin terjatuh, karena saat itu tasnya sempat jatuh dari meja," imbuhnya.

Saat akan mengembalikan handphone tersebut, Ridwan juga menanyakan nomor yang digunakan dan ciri-ciri handphone tersebut. Apakah cocok atau tidak dengan nomor pemiliknya. Sempat kesulitan saat akan dilakukan pengecekan, karena setelah 3 hari handphone tersebut dalam kondisi lowbat. Namun hal tersebut bisa diatasi, setelah dilakukan pengisian batre.

Menurut Ridwan, setelah dikembalikan sang empunya handphone merasa sangat senang dan berterimakasih. Atas jasanya tersebut Ridwan mengaku akan diberi imbalan uang yang cukup besar, namun ditolaknya.

"Saya tidak tahu ternyata itu mahal harganya. Dibenak saya hanya ada satu, HP itu harus saya kembalikan. Karena bukan hak saya," tegas Ridwan.

Ridwan menuturkan, tak hanya kejadian tersebut yang dialaminya. Menurutnya, sudah beberapa kali barang-barang pelanggannya tertinggal di warung. Namun semua selalu ia kembalikan ke pemiliknya.

"Sering mas yang ketinggalan, tas, buku, jaket, topi dan lain-lain. Tapi semua saya kembalikan. Selain itu bukan hak saya, saya juga ingin pelanggan saya nyaman dan aman di sini," pungkasnya.

Itulah sepenggal kisah kejujuran yang dimiliki anak bangsa. Sebuah kata yang sangat sederhana namun di zaman yang serba maju ini kejujuran menjadi barang langka dan sangat mahal harganya.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.