Cerita Penyintas COVID-19 Alami Perbedaan Kondisi Paru-paru

Adinda Permatasari, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pandemi COVID-19 di Tanah Air membuat masyarakat semakin banyak mencari informasi terkait penyakit ini. Bukan tanpa sebab, penyebaran virus corona yang semakin luas membuat mereka ingin melakukan langkah tepat untuk memutus rantai penyebaran virus ini.

Tak sedikit juga masyarakat yang khawatir akan dampak COVID-19 pada organ seperti paru-paru. Banyak informasi yang mengatakan bahwa COVID-19 bisa merusak paru-paru pasien yang sudah negatif. Namun, benarkah demikian?

Baca juga: Penyintas COVID-19: Diisolasi di Wisma Atlet Ternyata Tak Seseram Itu

Salah satu penyintas COVID-19 Tanpa Gejala, Inata Lori, mennceritakan kondisi paru-parunya usai dinyatakan negatif COVID-19 dalam acara diskusi online Voxpp Shout, I Will Survive. Dia sempat mencoba olahraga intensitas berat untuk mengetes kondisi paru-parunya. Hasilnya, dia mengaku ada perbedaan.

"Kalau di Wisma Atlet saya jogging, pas pulang saya coba olahraga cukup berat untuk tahu gimana kondisi paru-paru saya. Ngos-ngosan," jelas dia.

Inata merasakan ada perbedaan saat dia melakukan olahraga sebelum dinyatakan positif COVID-19 dan sesudah dinyatakan positif COVID-19. Menurutnya, sebelum terindikasi COVID-19, dia tidak merasa lelah usai berolahraga dan dapat melakukan sejumlah pekerjaan rumahnya.

"Sesudahnya ngerasa beda, sebelum terindikasi positif masih bisa ngerjain lainnya, setelahnya lebih capek, saya butuh berbaring sebentar itu yang saya rasakan," jelas dia.

Inata menyebut, usai sembuh COVID-19 dia akan membatasi jenis olahraga yang dapat membuatnya kelelahan.

"Saya batasi gak mau terlalu berat. Imbasnya harus berbaring sedikit," jelas dia.

Inata juga sempat melakukan sejumlah tes dan hasilnya tidak ada masalah serius pada tubuhnya.

Baca juga: 3 Cara Alami Cegah Penularan COVID-19 di Rumah

"Cek tubuh aman-aman aja," lanjutnya.

Usai pulang dari Wisma Atlet, Inata memilih untuk berdiam di rumah sebelum melakukan aktivitas keluar.

"Kata petugas di sana boleh aktivitas lagi, tapi harus ikuti protokol. Saya pribadi takut karena cukup lama isolasi, saya ambil tindakan tidak keluar rumah 8 hari," jelas dia.