Cerita Pilu Anak Yatim di Samarinda Diusir Guru dari Kelas

Merdeka.com - Merdeka.com - Dunia pendidikan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, jadi sorotan. Mz, murid perempuan berusia 10 tahun di bangku kelas IV SDN 002 Samarinda Seberang dikabarkan diusir guru dari kelasnya, Selasa (31/5) pagi lalu. Penyebabnya Mz tidak memiliki HP dan seragam sekolah sehingga membuatnya sering absen.

Mz dan adiknya adalah anak yatim. Ibunya telah meninggal dunia. Ayahnya, seorang difabel meski kini bermasalah dengan hukum. Praktis sejak usia 3 tahun, Mz dirawat bibinya, Siti Munawaroh (37).

"Saya merawat enam anak. Dua anak di antaranya keponakan saya ini (Mz) dan adiknya," kata Siti ditemui merdeka.com di kediamannya Jalan Pangeran Bendahara RT 02, Jumat (3/6) sore.

Keseharian Siti, hanya mengandalkan dagangan jajanan anak-anak di teras rumahnya, untuk merawat enam anak. Masalah pendidikan Mz di masa pandemi Covid-19 terjadi di tahun kedua 2021 lalu.

"Ada HP dipakai belajar online, lama-kelamaan HP itu tidak bisa digunakan karena sering hidup mati, hidup mati," ujar Siti.

Siti tentu tidak memiliki dana membelikan HP baru. Gurunya pun dibikin heran, Mz seringkali absen belajar daring hingga sekitar enam bulan. Pun tidak ada satupun guru mencari tahu kendala Mz tidak ikut belajar daring.

Masalah lain muncul jelang Senin (30/5) lalu, dimulainya ujian semester II kenaikan kelas. Sejatinya, tidak ada lagi seragam yang bisa dipakai Mz karena sudah sesak. Padahal Mz ingin bersekolah lagi bertemu teman-temannya.

"Sampai ada relawan membantu mencarikan donatur dan membelikan pakaian seragam. Jadi hari Senin itu yang seharusnya ikut ujian, dipakai waktunya buat beli seragam sekolah di pasar," terang Siti.

Sehari kemudian, Selasa (31/5) pagi, Mz diantar relawan itu, M Qadir Zailani (28) ke sekolah. Mz pun sudah berada di dalam kelas di lantai II, dan Qadir pergi sesaat mencarikan alat tulis. Namun siapa sangka, Mz mendapatkan pernyataan guru yang tidak sepantasnya dia terima di hadapan teman-temannya.

"Kamu turun dulu ke bawah (lantai I), panggil orang tuamu," kata Siti menirukan pernyataan Mz setelah mendengar perkataan gurunya itu.

Keluar pagar sekolah, Mz menangis di pinggir jalan pagi itu. Warga pun menaruh iba saat itu. Kontan, Qadir pun tidak menyangka melihat Mz malah menangis setelah sempat duduk di dalam kelasnya untuk ikut ujian.

"Sempat masuk kembali ke sekolah, tapi keponakan saya sudah tidak mau belajar ikut ujian. Takut dengan gurunya, dan di-bully teman-temannya," ungkap Siti.

Ditemui wartawan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda Asli Nuryadin mengatakan, dia telah memanggil dan mendengar penjelasan Kepala SDN 002 dan guru-guru di sekolah itu.

"Kita mengkoreksi diri juga, kalau keliru tidak ada salahnya minta maaf. Kita akan dengar juga penjelasan dari wali murid, dan perwakilan murid," kata Asli.

Asli mengaku tersentuh dengan kondisi Mz, yang orang tuanya tidak lagi lengkap. "Yang buat saya tersentuh adalah anak itu anak yatim piatu yang harus kita urus, dan tidak boleh kegiatan belajar mengajarnya terganggu," ujar Asli.

Diterangkan Asli, setelah dia berdiskusi dengan pihak sekolah, di mana kesimpulannya pihak sekolah memaklumi, bahkan guru bersangkutan menangis meminta maaf.

"Sebagai manusia adalah tempat salah dan khilaf. Sekolah siap kembali memfasilitasi agar anak itu kembali sekolah. Pada prinsipnya saya sebagai kepala dinas, saya care dengan anak itu dan akan kita jaga jangan sampai putus sekolahnya. Tidak ada yang tahu nanti anak itu jadi orang hebat, dan tidak boleh kita abaikan. Saya sebagai kepala dinas, kalau ada guru salah dan khilaf mohon dimaafkan. Paling tidak itu koreksi bagi kawan-kawan guru, seharusnya tidak perlu emosional menyikapi masalah," demikian Asli.

Guru Usir Murid Minta Maaf

Pihak sekolah berikut guru bersangkutan datang memenuhi panggilan Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Jumat (3/6) kemarin. Dari pertemuan itu menghasilkan tiga poin penting.

"Pertama, saya kan panggil kepsek dan guru yang terlibat. Artinya saya bilang kita koreksi diri. Saya tidak membela si A dan si B. Tapi paling tidak pelayanan kita ini harus humanis harus baik," kata Asli.

"Kedua, saya bilang, saya tegur lah kemarin kan. Saya tegur dia ngaku. Bahwa biasalah emosi segala macam, salah komunikasi segala macam. Dia minta maaf bahkan guru itu menangis, yang ibu itu," ujar Asli.

Berikutnya, lanjut Asli, dia menegaskan proses belajar mengajar anak bersangkutan tidak boleh terganggu sama sekali.

"Itu yang penting karena kalau memang kalau sampai itu tidak diurus, saya bilang, kepala dinas yang akan turun tangan. Karena anak itu kan anak yatim piatu. Terlepaslah dari salah komunikasi, tapi itu tidak boleh terganggu. Nanti saya akan temui si anak ini dan perwakilan orang tuanya," terang Asli.

Dengan begitu, dari sisi pihak sekolah dan guru bersangkutan, permasalahan sudah selesai dan tidak menyoal lagi.

"Tapi nanti saya akan kembali bertanya kepada anak ini dan perwakilan orang tua, khawatirnya saya ada dampak psikologis, walaupun kepala sekolah dan gurunya sudah clear. Siapa tahu dengan suasana lain, seperti teman-temannya di sekolah atau apa," tambah Asli.

"Tapi prinsipnya kalau anak ini kurang nyaman di sana, dia mau ke mana saja akan kita bantu dan fasilitasi. Artinya kita ambil hikmahnya ya," jelasnya lagi.

Asli kembali mengingatkan anak yatim piatu menjadi prioritas dibantu pemerintah untuk memastikan kelanjutan pendidikannya.

"Saya bilang karena itu anak yatim piatu, anak itu justru jadi prioritas untuk kita perhatikan untuk kelanjutan pendidikannya. Yang dari sekolah saya pastikan tidak bermasalah. Tinggal saya bertemu anak itu dan orangtua. Anak itu harus diurus, jangan sampai terbengkalai apalagi sampai terputus sekolahnya. Itu saya bilang tidak boleh," pungkas Asli. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel