Cerita Polisi Bermalam di Gubuk Petani demi Cegah Kebakaran Lahan

Lis Yuliawati, Syarifuddin Nasution (Jambi)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Melayani dan mengayomi masyarakat merupakan tugas utama Kepolisian Republik Indonesia. Bekerja bukan hanya menjaga keamanan serta menindak tegas para pelaku kejahatan, namun polisi juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membakar lahan dan lahan demi menjaga ekosistem alam.

Seperti yang dilakukan jajaran Polres Tanjung Jabung Barat Jambi. Mereka rela menginap berhari-hari di gubuk petani yang sering membakar lahannya sendiri, di Kecamatan Pengabuan, Tanjung Jabung Barat.

Pemilik gubuk itu bernama Palile atau sering dipanggil Pak Janggut. Polisi silaturahmi sambil sosialisasi kepada Palile dan kelompok taninya agar tidak membakar lahan sendiri demi mencegah kebakaran lahan.

Kapolres Tanjung Jabung Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Guntur Saputro saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Ia dan jajaran Polres Tanjung Jabung Barat rela tidur berhari-hari di gubuk petani, demi meningkatkan sosialisasi kepada petani agar tidak membakar lahan. Sebab, sebelumnya mereka sering membakar lahan untuk kebutuhan penanaman sayuran, lengkuas, jahe dan lain-lain.

"Kita datang ke lahan Palile dengan baik sambil bersosialisasi agar tidak bakar lahan," ujarnya.

Guntur menceritakan, Palile atau sering dipanggil Pak Janggut, sudah puluhan tahun membakar lahan sendiri saat melakukan penanaman dan itu sudah merupakan turun menurun dari orangtuanya.

Namun Guntur dan jajaran tidak menyerah untuk memberikan cara terbaik, agar tidak membakar lahan karena bisa membahayakan bagi orang banyak.

"Awalnya kita datang sempat tidak percaya dengan Pak Janggut dan kelompok tani namun kita terus melakukan sosialisasi terbaik sampai tidur di gubuk Pak janggut berhari-hari akhirnya diterima solusi," ujarnya, Sabtu, 13 Maret 2021.

Guntur menyebutkan, ada puluhan hektare lahan yang dikelola Pak Janggut. Saat membuka lahan, Pak Janggut selalu membakar lahan dan anggota kelompok tani yang sudah dianggap anak angkat disuruh menjaga api, agar tidak merembet ke lahan warga lainnya. Namun tetap saja apa yang dilakukan Pak Janggut melanggar hukum.

"Saat sosialisasi kita diterima agar tidak membakar lahan, kita langsung beri cara solusi terbaik seperti memanfaatkan lahan menjadi pupuk tanaman dan solusi itu perlahan dikerjakan oleh Pak janggut," ujarnya.

Terpisah, Pak Janggut saat dikonfirmasi mengatakan, sebelum jajaran Polres Tanjung Jabung Barat datang ke lahannya, sudah menjadi budaya bagi dia membakar lahan. Namun sekarang, atas solusi terbaik yang diberikan Kapolres Tanjung Jabung Barat, ia pun menerima solusi itu.

"Saya sadar atas imbauan selama ini namun saya tidak pernah dapat solusi terbaik sehingga saya tetap saja membakar, namun saya sangat berterima kasih banyak atas adanya solusi baik diberikan Kapolres sehingga saya mencoba tidak lagi membakar lahan sendiri saat bertanam," katanya.

Ia menyebutkan, dari dulu saat membuka lahan selalu membakar lahan dan kelompoknya menjaga api. Meskipun pernah diberitahu oleh kelompok tani agar tidak membakar lahan namun dia tidak pernah mengindahkannya dan tetap saja membakar lahan.

"Saya membakar lahan sudah menjadi turunan dari orangtua kandung saya meskipun itu salah namun saya tetap membakar lahan dan saat saya dapat solusi terbaik saya akan proses solusi tersebut dengan baik, agar saya tidak membakar lahan lagi," ujarnya.