Cerita Risma Tangani Banjir di Surabaya: Saya Cari Penyebabnya Sampai Hampir Hanyut

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengisahkan pengalamannya kala memimpin Kota Surabaya. Menurutnya dalam suatu waktu saat Kota Pahlawan itu direndam banjir, dirinya pernah mencari penyebab banjir hingga larut malam. Sampai-sampai dirinya hampir hanyut.

"Saya cari itu sampai malam. Sampai saya hampir hanyut. Akhirnya ketemu dimana titik penyebab banjir. Sampai sekarang, Surabaya tidak pernah banjir lagi," katanya dalam kuliah umum di kampus Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung pada Kamis (18/3/2021).

Bukan kali itu saja dirinya larut dalam pekerjaan sebagai pengabdi masyarakat. Risma juga mengaku pernah sampai jam 02.00 dini hari menaman bunga dan pohon di sejumlah titik di Kota Surabaya. Saat itu dalam upaya Risma menghijaukan Kota Surabaya.

Hal itu dikisahkan Risma sebagai pemacu semangat bagi para mahasiswa agar tak segan untuk belajar langsung di lapangan.

"Untuk itu, saya meminta mahasiswa lebih banyak belajar langsung dari pengalaman di lapangan. Belajar bisa dimana saja, dengan siapa saja kita tidak perlu takut dari zona nyaman," tegasnya.

Risma juga mengisahkan pengalaman berbincang dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim tentang program Kampus Merdeka. Yakni suatu pandangan baru yang salah satu poinnya mendorong belajar di luar kelas atau di lapangan. Hal ini supaya peserta didik dapat menemukan tantangan di lapangan dan menyelesaikannya di lapangan.

Oleh karena itu, Risma meminta sivitas akademika Poltekesos Bandung menangkap ide ini dan tidak perlu khawatir untuk menjawab tantangan betapa pun beratnya. Ada pertanyaan besar yang menurut Risma perlu dijawab oleh Poltekesos Bandung, yakni mengapa ada banyak orang yang sudah lama menerima bantuan tapi tetap masih miskin.

Berpikir Inovatif

Untuk menjawab tantangan ini, menurutnya, sivitas akademika Poltekesos Bandung harus mencari jawabannya di tengah-tengah masyarakat. Untuk menyelesaikan masalah seperti ini, katanya, tidak selalu harus mencari jawabannya dari bangku kuliah.

"Apakah dengan demikian ilmu kesejahteraan sosial tidak dipakai, tidak. Karena dunia selalu berubah. Kita harus mampu eksis, bisa menjawab perubahan. Soalnya dunia akan selalu berubah. Jadi jangan puas di zona nyaman. Jangan khawatir karena kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya.

Ia menyerukan kepada Poltekesos Bandung agar mampu meyelesaikan masalah dengan berpikir inovatif dan berkolaborasi. "Kalau tidak bisa dijawab sendiri kita bisa bermitra. Saat ini kita kenal era crowd funding," katanya.

Saat ini tantangan dalam pembangunan kesejahteraan sosial sangat rumit dan dinamis. Suatu ketika ia meminta jajarannya untuk mampu menciptakan kursi roda elektronik. Ini untuk membantu Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial yang mengalami disabilitas berat yang tidak bisa dibantu hanya dengan kursi roda biasa.

"Tantangan ini harus dijawab. Untuk bisa menjawab itu, tidak harus dikerjakan sendiri-sendiri. Caranya di abad 21 ini kita tidak harus bekerja sendiri. Kita bisa berkolaborasi," pungkasnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: