Cerita Roni Tri Prasnanto, Eks Kiper Timnas Indonesia U-23 yang Terinspirasi Kesuksesan Hendro Kartiko

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Makassar - Aksi Roni Tri Prasnanto sebagai penjaga gawang pernah mewarnai kompetisi sepak bola Tanah Air. Pesepak bola kelahiran Banyuwangi, 12 Desember 1985, ini tercatat berkostum Persekabpas Pasuruan, Persiba Bantul, Persitara Jakarta Utara, Persija Jakarta, Persela Lamongan dan Persebaya Surabaya. Ia pun pernah menjadi bagian skuad Timnas Indonesia U-20 dan U-23.

Dalam channel Youtube Omah Balbalan, Roni Tri Prasnanto tanpa sungkan mengakui perjalanan kariernya di sepak bola terinspirasi oleh satu sosok legendaris, yakni Hendro Kartiko, kiper terbaik Indonesia pada pertengahan 1990 sampai awal 2000-an.

"Rumah saya tak jauh dari rumah Mas Hendro. Dulu, saya dan orang sekampung sangat bangga melihat aksi Mas Hendro di televisi. Kami biasa nonton bareng karena waktu itu memang hanya orang-orang tertentu yang memiliki televisi," kenang Roni Tri.

Tekad dan semangat Roni Tri kian bergelora untuk berkarier di sepak bola saat Hendro menyempatkan diri pulang kampung saat jeda kompetisi. Biasanya, warga berkumpul untuk menyaksikan Hendro berlatih dan bermain bersama di lapangan desa.

"Mas Hendro juga kerap memberikan masukan yang membuat saya makin bersemangat mengikuti jejaknya. Memang saya tak bisa menyamai prestasinya. Tapi, setidaknya mencoba untuk bisa mendekati," papar Roni Tri Prasnanto.

Menempuh Jarak Jauh untuk Latihan

Roni Tri Prasnanto (Tangkapan channel youtube Omah Balbalan)
Roni Tri Prasnanto (Tangkapan channel youtube Omah Balbalan)

Pada awal kariernya sebagai pesepak bola, nama Roni Tri Prasnanto lekat dengan Persekabpas meski ia berasal dari Banyuwangi. Terkait hal ini, Roni punya cerita sendiri.

Saat mengikuti turnamen antar-SMP di Banyuwangi, bakat Roni terpantau oleh Abdul Khamid, pencari bakat yang kemudian mengajaknya bergabung di SSB Naga Gempol Pasuruan. Khamid mempertemukannya dengan Hamid Asnan, eks bek Niac Mitra Surabaya yang mejadi pelatih di SSB itu, di Pasuruan.

Namun, karena jarak Banyuwangi ke Pasuruan terbilang jauh, Hamid menyarankan Roni hanya berlatih sekali dalam sepekan saja. Jadi tiap pekan, Roni datang ke Pasuruan dengan menggunakan jasa kereta api dan turun di Stasiun Bangil.

"Karena tibanya subuh, saya istirahat dulu di stasiun. Setelah matahari terbit saya naik angkutan umum ke lokasi latihan. Itu yang rutin saya lakukan selama setahun," terang Roni Tri.

Peruntungan di dunia sepak bola Roni Tri mulai terkuak setelah menjadi bagian tim Pasuruan muda yang berkiprah di turnamen Piala Jawa Pos U-15. Dari turnamen itu, namanya masuk dalam daftar pemain yang tergabung di Diklat 10 November Surabaya.

Kemampuan Roni Tri sebagai kiper kian terasah setelah berlatih rutin di Lapangan Persebaya yang lokasinya berselebahan dengan Stadion 10 November Tambak Sari.

Roni hanya enam bulan berlatih, karena Diklat 10 November dibubarkan. Merasa sudah terlanjur basah, Roni memutuskan tak pulang ke Banyuwangi.

Roni Tri Prasnanto pun menelepon Sokib, pembina SSB Gempol yang kemudian menawarkan Roni tinggal di rumahnya dan meneruskan pendidikannya di Pasuruan seraya meneruskan kariernya di sepak bola.

Jadi Bagian Skuad Garuda Muda

Bakat dan talenta yang dimiliki Roni Tri Prasnanto mengantarnya jadi bagian Persekabpas yang menjadi juara Divisi dua PSSI pada 2003. Karena usianya masih yang masih 18 tahun, Roni juga masuk di Persekabpas Junior.

Dari tim ini, namanya terpantau masuk dalam daftar panggil Timnas Indonesia U-20 yang menjalani pemusatan latihan jangka panjang di Stadion Bea Cukai Rawamangun, Jakarta. Ketika itu Roni satu angkatan dengan sejumlah nama familiar, seperti Tony Sucipto, Atep, dan Boaz Solossa. Berada di bawah mistar gawang, Roni bersaing dengan Wahyu Tri Nugroho dan Dede Sulaiman.

Selepas dari Timnas U-20 dan U-23, Roni sempat memperkuat Persiba Bantul. Ia pun kembali ke Persekabpas dan menjadi bagian dari tim ketika menembus semifinal Liga Indonesia 2006.

Jelang musim 2008, Roni memulai petualangannya di Ibukota dengan menerima tawaran Persitara Jakarta Utara. Selepas dari Persitara, Roni kemudian bergabung dengan tim bertabur bintang Persija Jakarta jelang musim 2009/2010.

Saat itu, Persija dihuni sejumlah nama beken seperti Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Aris Indarto, Abanda Herman (Kamerun), Baihakki Khaizan, Mustafic Fahrudin (Singapura), Firman Utina, Emalue Serge (Kamerun), M. Ilham, dan Aliyudin.

Dari Persija, dengan alasan ingin dekat keluarga, Roni Tri memutuskan untuk menerima tawaran Persela Lamongan pada 2011. Ia sempat memperkuat Persebaya Divisi Utama sebelum kembali ke Persela Lamongan. Bersama klub ini, Roni Tri mengakhiri karienya sebagai pemain pada 2016.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel