Cerita RS Moewardi Ketika Gandeng Penjahit Solo Bikin APD 'Baju Astronot'

Liputan6.com, Solo - Meningkatnya kebutuhan alat pelindung diri (APD) untuk penanganan pasien virus corona Covid-19 menyebabkan RSUD dr Moewardi Solo berinisiatif untuk membuat sendiri pakaian khusus tersebut. Hasilnya, kini RS Moewardi, Solo tak perlu mencari APD 'baju astronot' dari luar untuk mencukupi kebutuhan penanganan Covid-19.

Latar belakang RSUD dr Moewardi Solo membuat sendiri perlengkapan tersebut lantaran semakin sulitnya mencari APD di tengah wabah virus Corona Covid-19 yang semakin merebak. Permintaan APD dipastikan meningkat karena banyak rumah sakit yang membutuhkan alat kelengkapan tersebut.

"Kami membuat sendiri APD karena kita mencari APD itu sekarang sudah dan kalau ada pun harganya mahal," kata Direktur Utama (Dirut) RSUD dr Moewardi, Cahyono Hadi ketika ditemui wartawan di Balai Kota Solo, Senin, 23 Maret 2020.

Atas dasar itu, tim RS Moewardi Solo mengakalinya dengan membuat APD 'baju astronot' yang sesuai standar dan dengan harga yang murah. Setelah muncul ide tersebut, tim langsung bergerak cepat dengan membuat contoh. Lantas sampel APD itu pun diujicoba dan ternyata hasilnya baik.

"Tim dari Moewardi mengakali bagaimana supaya kita bisa mandiri dan tidak tergantung. Hasilnya kita bisa membuatnya dan dipakai bisa sesuai standar," ucapnya.

Menurut Cahyono, APD hasil buatan RSUD dr Moewardi Solo itu terbuat dari jenis bahan polypropilane sponbound. Bahan tersebut diklaim bebas dari bakteri dan tentu, aman dari paparan virus Corona Covid-19. Mencarinya juga tidak sulit lantaran dijual bebas dan di Solo banyak ditemukan di toko-toko kain.

"Bahan ini memang kita pakai waktu dulu penanganan flu burung. Jadi ini sudah sesuai dengan standar kita," ungkapnya.

Produksi APD Dikomersilkan?

Ganjar Pranowo pamerkan APD 'baju astronot' yang diproduksi oleh RS Moewardi Solo. (Foto: Liputan6.com/Humas Pemprov Jateng/Felek Wahyu)

Untuk memproduksi APD, RS Moewardi menggandeng sejumlah UMKM penjahit. Hasil produksi itu per harinya bisa mencapai maksimal 100-200 APD per hari.

APD produksi RS Moewardi itu juga tidak dikomersialkan, sedangkan jika tersisa akan dikirimkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

"Memang kita ini rumah sakit bukan pabrik konveksi jadi untuk produksinya menggandeng UMKM penjahit. Terus nanti jika ada sisa selain kita kirimkan ke dinas juga kita akan membantu rumah sakit lain yang memerlukanya," kata dia.

Sementara itu untuk biaya produksinya, ia menyebutkan antara Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per satuan APD. Meski demikian produksi itu hanya untuk kebutuhan internal bukan untuk dijual. Namun jika pemerintah provinsi memerlukan, pihak rumah sakit bakal mensuplai kebutuhan APD.

"Tapi nanti terserah pada pemerintah daerah, kalau memang itu dikembangkan untuk kebutuhan kota di masa mendatang. Ya, kita siap untuk asistensinya," ujarnya.

Sedangkan terkait kebutuhan APD selama penanganan wabah corona, ia menyebutkan tergantung jumlah pasien yang terpapar corona. Pasalnya, satu pasien itu membutuhkan sebanyak 15 APD per harinya.

"Kalau pasiennya 1 orang berarti kita butuh 15 APD karena satu tim ada dokter dan perawat. 15 APD itu untuk tiga kali shift," ujarnya.

Simak juga video pilihan berikut ini: