Cerita Rumah Ari: Hidup Hemat, Bekerja Lebih Giat, Demi Rumah yang Hangat

·Bacaan 12 menit

Setiap orang punya cara sendiri untuk mewujudkan cita-cita punya rumah sendiri. Seperti cara Ari Wijayanti yang bekerja di bagian finance di Sinarmas Land. Ia rela mengubah gaya hidupnya demi rumah impiannya, hidup hemat dan mencari penghasilan tambahan lebih giat.

Tujuannya agar dapat membeli rumah, rumah miliknya sendiri. Bukan sekadar memilih rumah, ia juga mempertimbangkan bahwa rumah yang dibelinya juga harus nyaman untuk jangka panjang. Rumah yang dapat dihuni bersama anak-anaknya kelak, rumah yang ramah anak.

Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha. Sebuah rumah yang hangat di Cluster Discovery Flamine, Bintaro Jaya Sektor 9, Tangerang Selatan, yang dihuninya sejak Mei 2020 jadi bukti ketekunan Ari bersama pasangannya untuk punya rumah sendiri. Tempat tinggal yang kondusif yang mendukung tumbuh kembang anak-anak mereka kelak.

Tertarik punya hunian di Bintaro yang punya banyak tempat hangout hype dengan harga mulai dari Rp500 jutaan? Cek aneka pilihan huniannya di sini!

Cerita Tak Mau Tinggal di Kamar Kost atau Rumah Kontrakan Selamanya

Cerita Tak Mau Tinggal di Kamar Kost atau Mengontrak Rumah Selamanya
Cerita Tak Mau Tinggal di Kamar Kost atau Mengontrak Rumah Selamanya

Sebagai anak rantau, Ari tidak ingin jika selamanya harus tinggal di kamar kost atau mengontrak rumah.

Meninggalkan kenyamanan rumah orangtuanya di Bandung, Ari bertekad untuk hidup mandiri dengan merantau ke Jakarta tahun 2008. Supaya dekat tempat kerja, ia kost di kawasan bisnis Sudirman. Sesuai penghasilannya, ia memilih kost yang harganya terjangkau.

“Memang gaji saya sangat kecil waktu itu. Kalau dibandingkan dengan uang saku dari orangtua, seperempatnya lah, ha ha ha. Tapi karena tekad ingin keluar dari rumah, in a good way, bukan kabur atau apa, saya hanya berusaha hidup mandiri dengan gaji saya sendiri," jelas perempuan kelahiran tahun 1985 ini.

"Harga kost di sekitar Sudirman juga cukup mahal, saya kost Rp850 ribu per bulan tanpa AC. Kepanasan,sedih banget,” kenangnya. Maklum, kondisi kamar kost yang dihuninya memang tidak senyaman kamar miliknya di rumah orangtuanya.

Setelah menempati kamar kost tersebut sekitar 3 bulan, Ari terpaksa harus pindah ke kost yang lebih murah, Rp550 ribu per bulan, karena gajinya tidak cukup. “Sebenarnya bisa saja saya pulang ke Bandung, tapi saya belum mau. Tahun 2012 akhirnya saya pilih kuliah keluar negeri, ambil jurusan accounting di London,” ujarnya.

Dua tahun kuliah di London, ketika kembali ke Jakarta, ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji berlipat kali. Dengan kenaikan gaji yang didapatnya, wajar apabila ada peningkatan standar gaya hidup dari sebelumnya. Namun ia tetap memilih kost dengan harga cukup terjangkau.

Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah
Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Panduan Mengatur Keuangan untuk Beli Rumah

“Naik sedikit sih dari kost sebelumnya, uang sewanya jadi Rp1 jutaan per bulan, yang penting sudah ada AC. Kalau dilihat teman-teman circle saya, biaya kost mereka sampai Rp3 juta per bulan. Dengan penghasilan baru, sebenarnya bisa saja jika saya mengikuti gaya hidup mereka,” terang Ari.

Keinginan Ari saat itu memang sudah bulat, ia bercita-cita punya tempat tinggal sendiri. Jika ia memilih harga kamar kost yang lebih mahal, tentunya jadi tidak ada dana untuk menabung buat beli rumah. Sebagai anak rantau, Ari tidak ingin jika selamanya harus tinggal di kamar kost atau mengontrak rumah.

Cerita Ari Beli Apartemen dan Suami Beli Rumah Sebagai Antisipasi

Cerita Ari Beli Apartemen dan Suami Beli Rumah Sebagai Antisipasi
Cerita Ari Beli Apartemen dan Suami Beli Rumah Sebagai Antisipasi

Mereka memutuskan masing-masing membeli tempat tinggal sendiri. Jadi kalau ternyata mereka berpisah, properti yang dibeli akan tetap menjadi milik masing-masing.

Impian Ari ternyata disambut oleh Mohan Raj, pria yang ditemuinya saat melanjutkan kuliah S2 di Inggris, yang kini telah menjadi suaminya. “Dia kebetulan perantau juga dari Pekan Baru, Riau. Jadi, orangtua dan keluarga kami sama-sama tidak tinggal di Jakarta,” cerita Ari.

Kesamaan nasib dengan Mohan sebagai perantau di Jakarta, pilihannya kalau tidak mau bekerja keras, ya harus pulang ke kota masing-masing, dan berlindung di rumah orangtua. Ternyata Mohan pun satu frekuensi, mereka sama-sama ingin punya tempat tinggal sendiri, rumah sendiri.

Meskipun telah menjalin hubungan ke jenjang yang serius, namun mereka tetap mengantisipasi apabila rencana menikah tidak terwujud. Mereka memutuskan masing-masing membeli tempat tinggal sendiri. Jadi kalau ternyata mereka berpisah, properti yang dibeli akan tetap menjadi milik masing-masing.

Semasa pacaran, mereka juga sepakat untuk berhemat, bahkan giat mencari penghasilan tambahan agar dapat membeli properti lebih cepat. Ari terkenang, Mohan yang sempat terpikir untuk membeli mobil. Namun, ia menyarankan untuk memakai mobilnya secara bergantian saja, karena ia tidak selalu memakai mobilnya. Bahkan, ia sampai menukar mobilnya dengan merek yang dikenal lebih hemat BBM.

Saat itu Ari memilih apartemen dengan pertimbangan jadi tidak perlu ngekost dan lokasinya juga dekat tempat kerja. Sejak pindah ke Jakarta, sebenarnya ia memang ingin beli apartemen, tapi keuangannya memang belum memungkinkan. Di sisi lain Ari juga memiliki target untuk punya satu aset properti sendiri sebelum menikah.

Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Beli Apartemen
Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Beli Apartemen

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Beli Apartemen

“Sebelum nikah saya targetkan punya satu aset properti. Kalau ada apa-apa nanti, saya punya tempat berlindung. Kalau orang ingin beli tas, saya ingin beli rumah. Saya berpikir jangka panjang ha ha ha,” tuturnya yang membeli apartemen pertamanya pada tahun 2014.

Sedangkan Mohan memilih membeli rumah dengan tujuan sebagai tempat tinggal mereka setelah menikah nanti. Apalagi, orangtua mereka berada di luar kota sehingga kalau ke Jakarta pasti akan menginap di rumah mereka. Untuk itulah, ia melibatkan Ari dalam proses pencarian dan pembelian rumah tersebut. Mohan memang bercita-cita mewujudkan impian Ari.

Cerita Ari Beli Rumah Luas dan Nyaman Demi Tumbuh Kembang Anak

Cerita Ari Beli Rumah Luas dan Nyaman Demi Tumbuh Kembang Anak
Cerita Ari Beli Rumah Luas dan Nyaman Demi Tumbuh Kembang Anak

Ari dan suami memutuskan, kalaupun membeli rumah yang lokasinya jauh dari tempat kerja maka rumahnya dipastikan harus cukup luas dan benar-benar nyaman.

“Saya memang bercita-cita kalau sudah berkeluarga ingin tinggal di rumah dengan lingkungan yang bagus. Kebetulan Mohan, yang sekarang sudah jadi suami, tipikal family minded. Jadi, apa yang saya inginkan direspon dengan baik, tidak dianggap materialistis. Tidak semua laki-laki seperti itu, mungkin kalau yang lain akan menganggap ini cewek nuntutnya banyak banget!” ujar Ari seraya tertawa.

Pertimbangan utama pasangan yang menikah tahun 2019 ini dalam memilih rumah adalah berada di lingkungan yang baik, aman, dan nyaman. Selain itu, tentu saja ditunjang fasilitas yang lengkap, khususnya untuk kebutuhan anak seperti sarana pendidikan dan fasilitas bermain.

“Dari dulu, cita-cita saya kalau membeli rumah tujuannya untuk anak. Saya bisa tinggal di mana saja, di lingkungan padat sekalipun. Tapi saya tidak mau anak saya nanti tinggal di tempat yang tidak kondusif,” ungkap Ari.

Pengalamannya dididik di lingkungan rumah yang baik, membuat Ari ingin anak-anaknya kelak juga dapat hal yang sama. Memberikan lingkungan yang terbaik untuk anak-anaknya kelak adalah prioritas utama Ari.

Dengan keterbatasan dana yang dimiliki, pasangan ini sadar tidak dapat membeli rumah di pusat kota Jakarta, dekat tempat mereka bekerja. Untuk menemukan rumah yang sesuai kriteria, mereka pun mulai berburu, dari menelusuri listing perumahan di Rumah.com, hingga mendatangi pameran-pameran perumahan.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti
Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Kami mikirnya tidak mungkin bisa beli rumah di daerah Sudirman. Kami pun geser pencarian ke daerah Depok sampai Serpong yang sesuai bujet. Bahkan sempat terpikir ke Bogor. Selama ini kami selalu tinggal di kost yang dekat kantor, walking distance, jadi rasanya semua lokasi itu kok jauh sekali ya?!” ujar Ari sambil mengenang pencarian rumahnya.

Dan dari penelusuran yang dilakukan Ari, dapat disimpulkan bahwa rumah yang sesuai bujet seperti yang mereka alokasikan umumnya berukuran kecil dan dikelola oleh pengembang kecil. Akhirnya mereka putuskan, kalaupun membeli rumah yang lokasinya jauh dari tempat kerja maka rumahnya dipastikan harus cukup luas dan benar-benar nyaman.

Cerita Ari Pilih Kawasan Hunian Terpadu yang Dibangun Pengembang Berpengalaman

Cerita Ari Pilih Kawasan Hunian Terpadu yang Dibangun Pengembang Berpengalaman
Cerita Ari Pilih Kawasan Hunian Terpadu yang Dibangun Pengembang Berpengalaman

Melihat teman-temannya banyak yang tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan, mereka pun jadi tertarik mencari rumah di kawasan Bintaro, kawasan hunian terpadu yang dikelola oleh pengebang berpengalaman.

Mengingat harga properti yang terus melonjak naik, Ari mempertimbangkan untuk membeli rumah dengan proyeksi sebagai tempat tinggal jangka panjang, minimal lima belas tahun ke depan. Pertimbangannya juga bukan hanya dari segi luas dan kualitas bangunan rumahnya saja, tapi juga lingkungan dan fasilitas penunjang di sekitarnya, misalnya dekat dengan sekolah anak sampai jenjang SMA.

Kalau membeli rumah hanya untuk ditinggali sementara dan nanti berencana pindah lagi, saya khawatir malah tidak mampu membeli rumah lagi. Selagi sekarang bisa mengusahakan, lebih baik persiapkan dari sekarang,” ujar Ari.

Melihat teman-temannya banyak yang tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan, mereka pun jadi tertarik mencari rumah di kawasan Bintaro, kawasan hunian terpadu yang dikelola oleh pengembang PT. Jaya Real Property Tbk yang menurut mereka aman karena pengembangnya sangat berpengalaman.

“Rumah yang kami beli berbeda dengan rumah yang kami survei. Awalnya setelah menemukan rumah yang kami rasa cocok di listing perumahan di Rumah.com, kami pun langsung survei. Unit tersebut adalah Cluster Piazza yang baru di-launching Bintaro Jaya. Kami tertarik dengan rumahnya yang berkonsep Jepang. Tapi sayang, unitnya kecil, rasanya kurang nyaman, cerita Ari.

Ari pun menambahkan, “Kami naksir juga Cluster Kebayoran, tapi sudah sold out. Staf marketing office yang melayani kami kebetulan sangat aktif menanyakan rumah yang kami butuhkan dan juga kisaran harga yang kami cari.”

Tips Memilih Pengembang Properti yang Baik
Tips Memilih Pengembang Properti yang Baik

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Tips Memilih Pengembang Properti yang Baik

Tak lama berselang, pihak marketing tersebut menghubungi Ari dan memberitahu ada unit di cluster lain yang dibatalkan, tetapi di atas harga yang mereka cari. Unit tersebut berada di Cluster Discovery Flamine, Bintaro Jaya Sektor 9, yang saat itu masih dalam proses pembangunan.

Saat melihat unit tersebut mereka pun langsung merasa cocok. Konsep cluster, lokasi, luas tanah dan bangunan, serta fasilitas penunjang di sekitar yang terbilang lengkap membuat mereka terpikat. “Namun untuk memastikan bahwa kondisi lingkungan cluster benar-benar sesuai keinginan, supaya tidak salah pilih, kami bolak-balik keliling cluster sampai empat kali, ha ha ha,” cerita Ari sambil tergelak.

Cerita Ari Beli Rumah Overbudget dengan DP yang Bisa Dicicil

Cerita Ari Beli Rumah Overbudget dengan DP yang Bisa Dicicil
Cerita Ari Beli Rumah Overbudget dengan DP yang Bisa Dicicil

Renovasi yang fokusnya melebarkan bangunan membuat rumah ini juga dilengkapi dapur bersih yang mendukung hobi Ari yang gemar memasak.

Sayangnya, harga rumah tersebut ternyata melebihi dana yang telah mereka alokasikan. Namun setelah mereka hitung ulang ternyata mereka masih mampu dengan harga rumah yang mereka taksir tersebut. Akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk ambil rumah idaman mereka tersebut.

“Kami bisa dapatkan rumah ini karena ada andil dari staf marketing. Kalau dia pasif, tidak menghubungi kami dan menawarkan unit yang available, meskipun harganya lebih tinggi, mungkin kami tidak akan menemukan rumah ini,” paparnya.

Dengan keputusan memilih rumah tersebut, otomatis mereka harus menambah dana dari yang sudah dialokasikan sebelumnya. Dana yang disimpan untuk kebutuhan tidak terduga seperti sakit misalnya, terpaksa harus dialihkan untuk rumah tersebut.

“Memang overbudget, lebih mahal dari dana rencana awal. Tapi selama kami masih mampu, kenapa tidak?! Tapi bukan berarti kami nekat memaksakan diri. Kalau sampai terjadi sesuatu, seperti sakit yang membuat kami tidak bisa melanjutkan cicilan KPR, ada orangtua kami, pihak yang bisa backup kami. Tapi itu jalan terakhir banget sih,” jelas Ari.

Bagi Ari, demi rumah idaman seluruh upaya harus dilakukan. Bagi mereka, terpenting jangan sampai menerobos risiko tanpa punya pegangan siapa-siapa. Pasangan ini percaya jika ada niat yang kuat, pasti jalannya akan dipermudah.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Dan terbukti jalannya memang mudah, pihak pengembang memberikan kemudahan dengan tidak harus membayar penuh uang muka atau DP senilai 30% dari harga rumah. DP bisa dicicil selama 24 bulan yang kemudian dilanjutkan KPR di bulan ke-25 dan seterusnya. Hal inilah yang membuat mereka merasa tidak terlalu berat.

“Kami sreg sama rumah ini karena masih ada sisa lahan yang bisa kami manfaatkan untuk memperluas bangunan rumah. Dengan total luas tanah dan bangunan, harganya masih terbilang murah dibandingkan yang lain,” paparnya.

Cerita Renovasi Rumah dengan Eksterior Modern Minimalis, Interior Skandinavian

Cerita Renovasi Rumah dengan Eksterior Modern Minimalis, Interior Skandinavian
Cerita Renovasi Rumah dengan Eksterior Modern Minimalis, Interior Skandinavian

Ari menyukai gaya Skandinavian dalam interior rumah, namun tidak terlalu dingin. Untuk itulah ia menggunakan cat dinding berwarna coklat kombinasi coklat tua serta memakai furnitur berbahan kayu agar terkesan lebih hangat.

Setelah unit rumahnya selesai dibangun oleh pengembang pada tahun 2018, Ari dan Mohan sempat ragu apakah ingin melakukan renovasi sebelum menempati rumah tersebut, atau ditunda setelah mereka tinggal di rumah tersebut.

“Saya pikir, sudahlah, renovasi nanti saja, mending uangnya buat mengisi furnitur dulu. Tapi suami meminta renovasi sekarang saja. Kalau ditunda malah tidak jadi direnovasi, karena semakin banyak kebutuhan lainnya. Setelah debat panjang, hampir 3 bulan, akhirnya diputuskan renovasi sebelum kami tempati,” tutur Ari. Renovasi selesai pada April 2020.

Unit yang dibeli pasangan ini memiliki luas bangunan 180 m2 dan luas tanah 225 m2 setelah direnovasi. Rumah berlantai dua tersebut terdiri dari empat kamar tidur dan satu kamar asisten rumah tangga. Renovasi yang fokusnya melebarkan bangunan membuat rumah ini juga dilengkapi dapur bersih yang mendukung hobi Ari yang gemar memasak.

Eksterior rumah ini dibuat oleh pengembang dengan konsep modern minimalis. Pada bagian interior, Ari menerapkan konsep open space dan mengekspos jendela agar dapat mengoptimalkan cahaya matahari yang masih ke dalam rumah sehingga lebih hemat pemakaian listrik.

Tip Rumah

Pilih rumah yang berada di kawasan hunian terpadu. Selain menawarkan fasilitas kawasan yang sangat lengkap, keunggulan kawasan hunian terpadu lainnya adalah dikelola oleh pengembang besar yang sangat berpengalaman.

Ari menyukai gaya Skandinavian dalam interior rumah, namun tidak terlalu dingin. Untuk itulah ia menggunakan cat dinding berwarna coklat kombinasi coklat tua serta memakai furnitur berbahan kayu agar terkesan lebih hangat. Seperti meja makan yang dipilih bahan kayu jati untuk menciptakan suasana hangat, pasalnya ruang makan sebagai tempat berkumpul keluarga yang utama.

Dalam memilih furnitur, Ari mengakui tak kalah berhati-hati. “Saya tipikal orang Jawa yang berprinsip menunggu sampai rusak baru ganti barang. Furnitur pun dipakai untuk jangka panjang. Jadi benar-benar cari yang sreg banget, sesuai keinginan, meskipun risikonya harga lebih mahal,” ujarnya.

Cerita Ari yang Kini Belajar Investasi Properti Demi Hari Nanti

Cerita Ari yang Kini Belajar Investasi Properti Demi Hari Nanti
Cerita Ari yang Kini Belajar Investasi Properti Demi Hari Nanti

Menurut Ari properti adalah produk investasi yang bagus untuk orang yang tidak pernah berbisnis seperti dirinya untuk punya penghasilan tambahan.

Seperti diceritakan di atas sebelumnya tentang Ari yang memilih membeli apartemen, jadi pada tahun 2014 Ari mengambil apartemen Antasari 45 yang rencananya sebagai tempat tinggal pengganti kost, sekaligus untuk investasi properti.

Jadi jika sudah menikah dan pindah tinggal di sebuah rumah bersama suami, apartemennya bisa disewakan. DP sebesar 30% dari nilai apartemen yang dicicil selama tiga tahun juga telah dilunasi Ari. Seharusnya serah terima kuncinya pada tahun 2017 seperti yang dijanjikan pihak pengembang. Namun, status apartemen tersebut ternyata dinyatakan mengalami pailit.

Masalah tersebut tak lantas membuat Ari trauma mencari pengganti apartemen lagi. Menurutnya, membeli properti membuat ketagihan. Namun, belajar dari pengalaman sebelumnya, ia siasati membeli apartemen dengan berbagi risiko bersama teman atau kerabatnya yang biasa disebut konsorsium.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya
Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

“Dengan sistem konsorsium, memungkinkan bagi pemilik modal terbatas untuk investasi dengan berbagi keuntungan sekaligus berbagi risiko apabila terjadi sesuatu hal yang merugikan,” ungkap Ari yang kini telah memiliki unit apartemen di The Nove Residence, Batam, dan Fleekhouse di BSD Tangerang.

Ari menambahkan, “Kami memang belum memetik hasilnya, karena masih tahap cicilan DP sehingga belum bisa disewakan juga. Jadi kami belum tahu apakah sistem konsorsium ini sebagai good investment atau bad investement. Tapi, menurut saya properti adalah produk investasi yang bagus untuk orang yang tidak pernah berbisnis seperti saya untuk punya penghasilan tambahan.”

Namun begitu, Ari mengingatkan banyaknya kasus pengembang bodong atau penipuan properti, sebaiknya ekstra berhati-hati sebelum membeli properti, dipertimbangkan lebih seksama agar terhindar dari risiko kerugian.

Itulah cerita perjalanan Ari bersama suami yang rela berhemat, bekerja lebih giat, demi punya rumah yang hangat. Punya rumah sendiri untuk anak-anak mereka nanti. Masih banyak lagi kisah inspiratif lainnya seputar perjuangan untuk mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Siti Rahmah, Foto: Zaki Muhamad