Cerita Rumah Arnold: Pindah Kontrakan Sana-sini, Akhirnya Berhenti Demi Keluarga yang Dicintai

Cerita Rumah Arnold: Pindah Kontrakan Sana-sini, Akhirnya Berhenti Demi Keluarga yang Dicintai
Cerita Rumah Arnold: Pindah Kontrakan Sana-sini, Akhirnya Berhenti Demi Keluarga yang Dicintai

Arnold Herman Taihuttu, seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang istri dan anak ini, memiliki keseharian bekerja sebagai karyawan swasta sebagai sales. Seperti sales pada umumnya, area kerja Arnold sangat dinamis, sampai-sampai ia sempat dipindah tugaskan ke beberapa daerah di luar Ibu Kota Jakarta.

Faktor pekerjaan inilah yang membuat Arnold dan keluarga memutuskan untuk mengontrak rumah. Namun, hal ini bukan menjadi alasan, serta hambatan bagi Arnold dan keluarga untuk berusaha membeli rumah impiannya.

Setelah sering berdiskusi dengan sang istri, tentang “dimana kita akan memiliki rumah,” pada akhirnya waktulah yang menjawabnya. Anak satu-satunya Arnold kini sudah mau memasuki Sekolah Dasar, dan Arnold merasa, sekarang saatnya untuk lebih serius mencari rumah impian.

“Kita tidak boleh tunda lagi, ketika semua sudah ada, ya sudah harus dijalankan. Kalaupun tetap dipindah tugaskan ke luar kota pun, tidak apa-apa, yang penting istri dan anak sudah nyaman, ada hunian,” jelas Arnold.

Cerita Rumah Arnold: Dari Sebuah Impian yang Ditanamkan Orang Tua, Menjadi Kenyataan yang Manis untuk Keluarga

Cerita-Rumah-Arnold-Dari-Sebuah-Impian-yang-Ditanamkan-Orang-Tua-Menjadi-Kenyataan-yang-Manis-untuk-Keluarga
Ajaran dari keluarga Arnold untuk lebih mandiri, serta mengutamakan kebahagiaan keluarga adalah motivasi terbesar Arnold untuk membeli rumah impiannya.

Arnold meyakini bahwa setiap keluarga yang sudah menikah, pasti punya impian untuk memiliki rumah. Tambah lagi orang tuanya juga mengajarkan meski secara tidak langsung, apabila sudah menikah harus tinggal sendiri, punya rumah sendiri.

“Jadi memiliki rumah bagi saya bukan hanya untuk sekedar punya saja, untuk investasi, atau apapun namanya, tetapi lebih kepada kita punya lebih banyak waktu untuk keluarga inti. Lalu yang ke dua, kita juga punya ruang pribadi gitu ya. Jadi dua hal itulah yang benar-benar saya lihat bahwa, kita harus punya rumah memang.” ujar Arnold.

Di sini sudah jelas, bahwa ajaran dari keluarga Arnold untuk lebih mandiri, serta mengutamakan kebahagiaan keluarga adalah motivasi terbesar Arnold untuk membeli rumah impiannya. Didukung dengan niat sejak dulu, untuk terus menabung agar bisa membeli rumah, akhirnya Arnold mulai mencari rumah impiannya di berbagai macam portal properti dan developer.

Cerita Rumah Arnold: Datang dengan Ketidaktahuan, Pulang dengan Segudang Pengetahuan

Cerita Rumah Arnold: Datang dengan Ketidaktahuan, Pulang dengan Segudang Pengetahuan
Arnold bertemu dengan salah satu tim Rumah.com untuk berkonsultasi pencarian rumah impiannya. Di momen ini Arnold mendapatkan berbagai macam pengetahuan yang sebelumnya belum didapatkan.

‘Kalau memang rezeki, pasti tidak akan kemana’ adalah kiasan yang sangat cocok dalam perjalanan Arnold mencari rumah impian. Berawal dari menyusuri banyak portal properti, dan mengontak developer, Arnold bahkan sampai mengisi kuesioner yang diberikan oleh Rumah.com.

“Awalnya saya berlangganan email dan membuat akun Rumah.com, selain itu saya juga sering memperhatikan artikel-artikel yang ada di Rumah.com. Nah, ketika itu ada email tentang survei. Saya sebagai orang yang mau punya rumah dan penasaran, lalu saya mengisi survei tersebut. Ada beberapa pertanyaan yang menurut saya, kayaknya ingin bantuin, nih,” urainya dengan antusias.

“Menurut saya sebagai orang yang awam di bidang properti, saya coba aja, kenapa nggak? Dan ternyata pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner tersebut sangat detail, mulai dari ingin membeli rumah di mana, saat ini sudah menyiapkan dana berapa, dan lain sebagainya. Ini sangat membantu buat saya,” tambah Arnold.

“Jadi survei Ini bukan seputar pertanyaan formalitas. Bukan hanya sekadar mencari tahu atau jajak pendapat, jadi benar-benar ingin membantu pencari rumah pertama seperti saya,” ujar Arnold.

[article thumbnail=”https://cdn-cms.pgimgs.com/static/2020/11/Cek-14-Hal-Penting-Saat-Beli-Rumah-Pertama-e1605606520481.png”title=”14 Tips Membeli Rumah Pertama Bagi Milenial dan Pasangan Baru Menikah”category=”Panduan Properti”]https://www.rumah.com/panduan-properti/beli-rumah-pertama-1420[/article]

Setelah itu, Arnold bertemu dengan salah satu tim Rumah.com untuk berkonsultasi seputar pencarian rumah impiannya. Di momen ini Arnold mendapatkan berbagai macam pengetahuan yang sebelumnya belum didapatkan.

Seperti, Arnold baru tahu ternyata selama ini bisa bernegosiasi dengan bank untuk mendapatkan promo dalam bentuk apapun. Serta sangat direkomendasikan untuk mengajukan kredit ke banyak bank, bukan hanya 2-3 bank saja. Karena pada saat proses pembelian rumah debitur sebenarnya memiliki banyak peluang ketika akan mengajukan KPR, bank pun sangat terbuka untuk diskusi maupun negosiasi.

Arnold juga mengira hanya ada sedikit alternatif metode pembiayaan yang tersedia. Namun sebaliknya, tim Rumah.com membantu Arnold untuk mendapatkan pembayaran terbaik. Tidak hanya itu, tim Rumah.com juga memberi saran agar arus keuangan bulanan Arnold tetap sehat. Selain itu, juga mencari alternatif cara untuk mendapatkan kredit dengan cara surat rekomendasi dari HRD.

Cerita Rumah Arnold: Dilema Antara Memiliki Rumah yang Diinginkan atau Dibutuhkan

Cerita Rumah Arnold: Dilema Antara Memiliki Rumah yang Diinginkan atau Dibutuhkan
Arnold ingin tinggal di daerah yang sudah berkembang, dekat dengan sekolah, rumah ibadah, dekat dengan tol, serta memiliki transportasi yang memadai. Menurut Arnold, daerah Cibubur dan Tambun termasuk kriteria daerah yang ia inginkan.

Dilema memilih rumah, pasti terjadi bagi Anda yang sedang mencari rumah, begitu juga Arnold. Tentu, ia juga memiliki harapan untuk menempati rumah di pemukiman, bukan daerah yang dekat pabrik, padat penduduk, di pinggir jalan, dan juga yang paling primer adalah ada sumber air yang bagus, ada PAM.

Selain itu, Arnold ingin tinggal di daerah yang sudah berkembang, dekat dengan sekolah, rumah ibadah, dekat dengan tol, serta memiliki transportasi yang memadai. Menurut Arnold, daerah Cibubur dan Tambun termasuk kriteria daerah yang ia inginkan.

Setelah mencari-cari dan berdiskusi dengan tim Rumah.com, akhirnya Arnold survey dua rumah berdasarkan rekomendasi dari Rumah.com, di Tambun.

Agar proses pembangunan rumah tumbuh berjalan dengan lancar, simak beberapa tahapan dalam membangun rumah tumbuh yang bisa Anda ikuti pada video ini.

Pada survey rumah pertama, dengan luas tanah 6×15 meter, dan siap huni, ada 2 kamar dan 1 kamar mandi, dengan kebutuhannya keluarganya sekarang, Arnold merasa rumah ini cukup memenuhi ekspektasinya.

“Saya sebenarnya sudah pernah melihat rumah ini, tetapi sekarang baru bisa melihat dalam rumah. Ternyata rumahnya memanjang ke belakang. Terus rumah ini juga sudah siap huni, artinya jika kita sudah siap ambil, artinya sudah tidak banyak renovasi, dan harapannya mau menambah ini (kanopi) supaya lebih adem, dan sebenarnya itu juga hanya renovasi ringan lah,” jelas Arnold soal rumah rekomendasi pertama.

cerita rumah arnold survei rumah kedua
Di tengah dilema dan kegalauan memilih diantara dua rumah, dengan kelebihan, kekurangan, serta kebutuhan keluarga Arnold sekarang, tim Rumah.com membantu mencari solusi dengan baik dan arahan yang jelas.

“Soal kekurangannya, sebenernya rumah tersebut bagian belakangnya sudah tertutup semua, namun untuk ventilasi sebenarnya agak kurang. Karena, ventilasi salah satu faktor penting juga dalam memilih rumah,” ujar Arnold,

Untuk survey rumah kedua, Arnold memberi kesan, “Rumah kedua ini masih terkesan sangat baru, karena klaster perumahannya baru jalan 2-3 tahun. Yang kedua, walaupun secara ukuran lebih kecil, tapi secara bangunan, dan kualitas memang lebih menarik ini.”

“Secara material, dinding juga sudah dikasih marmer, terus juga kamar mandinya ada dua, atas dan bawah. Lalu kamarnya tiga, walaupun ukurannya kecil ini sudah cukup. Ventilasi, aliran udaranya juga udah enak banget,” terang Arnold yang merasa cocok dengan rumah kedua.

Di tengah dilema dan kegalauan memilih di antara dua rumah dengan kelebihan dan kekurangannya, serta menimbang kebutuhan keluarganya saat ini, tim Rumah.com membantu mencari solusi dengan baik dan arahan yang jelas.

Cerita Rumah Arnold: Rumah Tumbuh Menjadi Pilihan, Supaya Kualitas Hidup Tidak Menjadi Korban

Cerita Rumah Arnold: Rumah Tumbuh Menjadi Pilihan, Supaya Kualitas Hidup Tidak Menjadi Korban
Tim Rumah.com menyarankan untuk memakai konsep rumah tumbuh sebagai jawaban dari problematika Arnold, dan disambut dengan baik olehnya.

Akhirnya pencarian berakhir, Arnold memilih rumah rekomendasi Rumah.com yang pertama. Pemilihan ini juga tidak luput dari bantuan tim Rumah.com yang menuntun Arnold dari hulu ke hilir. Mulai dari mengatur keuangan, memilih lokasi, mempertimbangkan bangunannya. Arnold juga didampingi agen properti andal sehingga penjelasan soal rumah lebih detail dan bisa dipahami sehingga rumah yang ditawarkan tidak asal-asalan, benar-bener rumah rekomendasi yang bagus, sesuai dengan kebutuhan Arnold.

Mengapa Arnold lebih memilih rumah yang pertama?

“Ibu Ike (tim Rumah.com) rupanya memberikan inspirasi baru buat saya. Saya menjelaskan ada dua rumah yang berbeda, yang satu luasnya lebih besar, dengan harga Rp900 juta, yang satu luasnya lebih kecil, dengan harga Rp1,1 milyar,” ujarnya dengan mantap.

“Yang menjadi kendala adalah rumah kedua lebih tinggi biaya cicilan per bulannya kalau kita ngitung pakai KPR. Jadi pengelolaan keuangan jadi kurang baik. Memang bisa dijangkau, tapi agak ngos-ngosan kalau dipaksakan,” urainya jujur.

[AskGuru][/AskGuru]

Oleh karena itu tim Rumah.com menyarankan untuk memakai konsep rumah tumbuh ke Arnold, dan disambut dengan baik olehnya.

“Konsep rumah tumbuh yang dibicarakan bu Ike, menurut saya sangat menarik, karena kita bisa mengobrol dengan arsitek kalau ke depannya ada tambah keluarga, tambah ruangan, sehingga kemampuan kita juga menyesuaikanlah. Sebenarnya itu hal yang baru bagi saya, dan saya merasa mendapatkan paket komplit bersama Rumah.com”, ucapnya dengan lugas.

Ike memang menyarankan Arnold bahwa investasi untuk properti jangan lebih dari 40% agar arus keuangannya tidak goyah. Jangan sampai niat memiliki hunian yang dipaksakan tapi malah menyebabkan kualitas hidup yang dijalani jadi terganggu. Dengan strategi konsep rumah tumbuh, ini adalah solusi terbaik untuk pak Arnold.

Begitulah cerita perjalanan Arnold dan keluarga yang berhasil mendapatkan rumah impiannya. Bukan hanya impian, Arnold juga mendapatkan rumah sesuai kebutuhannya saat ini, yang bisa dikembangkan di masa depan. Berawal dari sebuah mimpi, yang dijalani dengan serius, serta disiplin, kisah ini bisa jadi inspirasi Anda dalam memiliki rumah impian. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel