Cerita Rumah Dewi: Membuka Lembaran Hidup Baru di Rumah Baru

·Bacaan 12 menit

Bagi Dewi Maharani, kehidupan barunya di Malang adalah pintu kebahagiaan baru dalam hidupnya. Bersama anak semata wayangnya, Hizkia Leandra Putra Sadewa, yang kini sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, mereka akhirnya menemukan oase yang nyaman di sebuah kabupaten di kota Malang.

Sebuah rumah di sudut, terlihat asri dengan hijaunya tanaman berjejer yang memberi kehangatan bagi Dewi dan Hizkia. Berada sekitar 7 kilometer dari pusat kota Malang, bagi Dewi yang sebelumnya tinggal di Surabaya hal tersebut tidak menjadi masalah.

Dan menurutnya, cerita pencarian rumah impiannya yang penuh lika-liku sempat bikin 'sport jantung’ juga. Namun akhirnya rumah di Perumahan Terra Wayang Regency yang berada di Kecamatan Pakisaji ini berhasil dimiliki Dewi jua. Rumah dari hasil jerih payahnya sendiri.

Mau punya hunian sekaligus investasi dengan harga di bawah Rp 500 jutaan di kota Malang? Cek aneka pilihan huniannya di sini!

Cerita Naik Jabatan Bikin Dewi Pindah dari Surabaya ke Malang

Cerita Naik Jabatan Bikin Dewi Pindah dari Surabaya ke Malang
Cerita Naik Jabatan Bikin Dewi Pindah dari Surabaya ke Malang

Atas izin dan restu dari ibunda serta suaminya saat itu, Dewi pun menerima tawaran promosi kenaikan jabatan itu dan pindah ke Malang.

Sejak tahun 2007 Dewi telah menjadi karyawan bagian finance di salah satu perusahaan provider telekomunikasi di kota Surabaya. Wanita berparas lembut ini di Surabaya tinggal di rumah orangtuanya, di area dekat Ciputra World yang hiruk pikuk.

Setelah 10 tahun bekerja di perusahaan tersebut, terjadi perubahan besar yang membuat perusahaan yang tadinya merupakan regional besar membawahi Surabaya, Bali, dan Lombok, dipecah menjadi dua region, East Java 1 dan East Java 2.

“Saya dipanggil atasan dan mendapat promosi naik jabatan, diminta menangani cabang baru yang kantornya di Malang. Saya saat itu menolak karena ibu saya habis jatuh dan cidera tulang panggul,” cerita Dewi. Sebagai anak sulung Dewi saat itu harus menemani proses recovery sang ibunda.

Tiga bulan berselang, atasannya kembali meminta Dewi untuk pindah ke Malang. Kebetulan saat itu sang ibu juga sudah pulih sehingga membuat Dewi berpikir untuk menerima tawaran tersebut. Atas izin dan restu dari ibunda serta suaminya saat itu, Dewi pun menerima tawaran itu dan siap pindah ke Malang.

“Saat itu saya cukup pede, karena di Malang ada adik ipar. Saya bisa tinggal untuk sementara waktu di sana,” jelas Dewi. Singkat kata Dewi akhirnya pindah ke Malang pada bulan Oktober 2017, dan tinggal di rumah kontrakan adik dari suaminya saat itu.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti
Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

“Saya duluan yang pindahan, karena anak masih sekolah. Perlu waktu untuk mengurus kepindahan anak sekolah, yang membuat saya setiap akhir pekan wira-wiri ke Surabaya untuk mengurus hal tersebut,” sambung Dewi lagi.

Walaupun selama dua minggu pertama kepindahan Dewi ke Malang ia mendapat fasilitas tempat tinggal selama dua minggu pertama, tetapi Dewi memutuskan untuk tinggal di rumah adik ipar.

Cerita Dewi Jual Aset Rumah Subsidi Buat Beli Rumah di Malang

Cerita Dewi Jual Aset Rumah Subsidi Buat Beli Rumah di Malang
Cerita Dewi Jual Aset Rumah Subsidi Buat Beli Rumah di Malang

Dewi memutuskan untuk menjual rumah subsidi miliknya di Krian buat modal beli rumah di Malang pikirnya.

Dahulu, saat Dewi baru mulai bekerja di perusahaan provider telekomunikasi ini, ia tergiur dengan promosi perumahan subsidi yang sedang dibangun di Krian, yang berada di Kabupaten Sidoarjo dengan jarak 35 kilometer dari Kota Surabaya.

Karena saat itu tergiur dengan harga yang ditawarkan, Dewi yang belum memiliki rumah tinggal kemudian memproses pembelian rumah subsidi tersebut. Segala syarat yang berlapis serta pengurusan segala surat-surat yang cukup banyak pun dipenuhinya.

Namun karena berada cukup jauh dari pusat kota, di mana ia harus bekerja setiap harinya, membuat rumah di Krian ini tidak ia tempati. Rumah tersebut kemudian ia kontrakkan, dan Dewi beserta keluarga kecilnya tetap tinggal di rumah ibundanya.

“Saya mikirnya waktu itu beli saja untuk investasi, asal punya. Harganya saat itu tergolong murah banget Rp80 juta dengan luas tanah 90 m2, tapi ya daerahnya di pinggir. Jauh sekali dari pusat kota,” jelas Dewi.

Cara Jual Rumah dalam Waktu Singkat
Cara Jual Rumah dalam Waktu Singkat

Menjual Rumah

Cara Jual Rumah dalam Waktu Singkat

Ia melanjutkan, “Nah, waktu di Malang ini saya berpikir, eman uangnya kalau buat ngontrak terus. Daripada sayang uangnya, kenapa nggak nyicil rumah ya, apalagi kalau anak sudah pindah ke Malang, masa nge-kost? Cari rumah kontrakan kan juga sulit yang cocok.”

Dewi pun akhirnya berpikir untuk menjual rumah miliknya di Krian tersebut. Paling tidak menjadi modal untuk beli rumah di Malang nanti pikirnya. Dengan berbagai cara Dewi pun mulai menjual rumah miliknya tersebut.

Cerita Dewi Berburu Rumah di Pameran Properti dan Listing Properti

Cerita Dewi Berburu Rumah di Pameran Properti dan Listing Properti
Cerita Dewi Berburu Rumah di Pameran Properti dan Listing Properti

Ternyata Terra properti memiliki listing perumahan di Rumah.com, sehingga Dewi bisa lebih leluasa menelusuri beberapa perumahan Terra yang diincarnya hanya lewat Rumah.com.

Suatu hari di saat suami Dewi datang ke Malang dari Surabaya, sang suami juga menyarankan agar Dewi sebaiknya mulai mencari rumah tinggal di Malang. Dewi jadi teringat akan informasi dari rekan sekantornya beberapa waktu sebelumnya bahwa sedang ada pameran properti di MOG (Mall Olympic Garden), Malang.

Setelah Dewi mendengar saran dari suaminya saat itu, ia pun mencari informasi hingga kapan pameran tersebut berlangsung, yang ternyata hari itu adalah hari terakhir pameran. Langsung Dewi berangkat ke MOG mengunjungi pameran properti tersebut.

“Langsung sore-sore saya ke MOG, saya datangi setiap stan mencari-cari yang harganya murah ha ha ha,” cerita Dewi. Karena sebelumnya Dewi sama sekali belum mencari-cari rumah, dengan datang ke pameran cukup membuka wawasannya, juga banyak brosur yang ia bawa pulang.

Harga-harga rumah yang ditawarkan sangat bervariasi, dari harga terendah Rp270 jutaan, hingga rumah-rumah di kawasan elit dengan harga diatas Rp1 milyar. Mengingat pengalaman membeli rumah dengan harga rendah letaknya sangat jauh dari pusat kota, kali ini Dewi mematok bujet di tengah-tengah, yaitu di kisaran harga Rp450 jutaan.

Di pameran tersebut Dewi tertarik dengan pengembang Terra Properti, karena memiliki beberapa perumahan dengan variasi harga rumah yang menurutnya bagus. Karena saat itu sudah sore, Dewi mencatat kontak sales marketing Terra Properti dan ingin mencari informasi lebih lanjut dari rumah.

Tips Beli Rumah Saat Pameran Properti
Tips Beli Rumah Saat Pameran Properti

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Tips Beli Rumah Saat Pameran Properti

Ternyata Terra properti memiliki listing perumahan di Rumah.com, sehingga Dewi bisa lebih leluasa menelusuri beberapa perumahan Terra yang diincarnya hanya lewat Rumah.com. Tidak buang waktu lagi, keesokannya Dewi langsung merencanakan survey ke Perumahan Terra Wayang Regency yang berada di Kecamatan Pakisaji, Malang.

“Lucu ya, dulu sebelum kerja dipindahkan ke Malang, saya sering main ke adik ipar di Malang dan pernah loh ramai-ramai ikut dia survei rumah ke beberapa daerah. Sama sekali nggak kepikiran jika suatu saat akan pindah ke Malang,” ujar Dewi.

Cerita Jual Rumah Lama Tak Laku-laku, Dewi Nekat Beli Rumah

Cerita Jual Rumah Lama Tak Laku-laku, Dewi Nekat Beli Rumah
Cerita Jual Rumah Lama Tak Laku-laku, Dewi Nekat Beli Rumah

Dengan keyakinan penuh saat itu, bahkan Dewi sempat menawar harga rumah dan meminta bonus dipasangkan pagar. Fitra, sales marketing yang menangani Dewi pun mengajukan permintaan ini ke atasannya, dan berhasil.

Setelah survey langsung ke lokasi, Dewi tertarik dengan rumah di Terra Wayang Regency, di Kecamatan Pakisaji yang berada sekitar 13 kilometer dari Kota Malang. Harga jual rumahnya dibandrol sekitar Rp450 juta, dan di perumahan tersebut juga hanya tersisa 3 unit saja.

Dewi tertarik dengan salah satu unit yang tersisa di bagian belakang, dengan luas tanah 100 m2. Perumahan tersebut bersistem inden, nantinya akan berdiri bangunan satu lantai dengan luas sekitar 45 m2.

“Saya ingin ambil rumah tersebut, tapi modalnya hanya ceplosan di mulut, modal nekat. Saya bilang ke sales-nya, ayo saya dikasih diskon! Ini kan harganya Rp450 juta, saya akan kasih DP separuhnya,” kata Dewi menirukan ucapannya saat itu.

Dalam hati Dewi sempat tertawa sekaligus deg-degan, karena saat itu ia tidak memegang uang sama sekali. Dewi yakin rumah miliknya di Krian bisa segera terjual, dengan perkiraan harga sekitar Rp250 juta.

Dengan keyakinan penuh saat itu, bahkan Dewi sempat menawar harga rumah dan negosiasi minta bonus dipasangkan pagar. Fitra, sales marketing yang menangani Dewi pun mengajukan permintaan ini ke atasannya, dan berhasil. Dewi diberi bonus pagar dan potongan harga sebesar Rp10 juta.

Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR
Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR

Duh gimana pikir saya, sudah dikasih diskon dan bonus tapi rumah di Krian belum juga laku,” kata Dewi. Dari awal Dewi mengambil tawaran dipindah ke Malang, ia memang sudah mulai mencoba jual rumah miliknya dengan segala cara.

Bahkan ia meletakkan tulisan DIJUAL TANPA PERANTARA di pagar rumah, tetapi tak kunjung jua ada yang tertarik dengan rumahnya.Tentu saja hati Dewi kebat-kebit, rumah impian sudah di depan mata tetapi satu-satunya modal untuk membayar DP belum di tangan, hanya booking fee sebesar Rp5 juta telah dibayarkan sebagai tanda pengikat.

Cerita Pengembang Perumahan yang Mau Menunggu Rumah Dewi Laku

Cerita Pengembang Perumahan yang Mau Menunggu Rumah Dewi Laku
Cerita Pengembang Perumahan yang Mau Menunggu Rumah Dewi Laku

Pengembang perumahan ini pun membolehkan Dewi menunggu hingga rumahnya laku. Mereka tidak memberi tenggat waktu agar Dewi segera menyelesaikan pembayaran uang muka rumah.

“Saya sempat curhat ke Mbak Fitra, sales yang menangani saya, bahwa saya benar-benar niat mau beli rumah. Cuma kondisinya harus menunggu rumah di Krian laku dulu. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang tertarik rumah itu,” tanya Dewi waktu itu.

Proses menjual rumah memang gampang-gampang susah, banyak yang tertarik tapi tidak ada kata jadi. Setiap ada orang yang tertarik, Dewi selalu menyampaikan informasi ini ke Fitra, sang sales marketing.

Dan ternyata Fitra telah menyampaikan kendala yang dihadapi Dewi ke atasannya, dari pengembang perumahan ini pun membolehkan Dewi menunggu hingga rumahnya laku. Mereka tidak memberi tenggat waktu agar Dewi segera menyelesaikan pembayaran uang muka rumah.

Saat itu Perumahan Terra Wayang Regency hanya tersisa 3 unit saja. Fitra bercerita bahwa suatu hari ada orang Bali, tertarik dengan rumah yang sudah diberi booking fee oleh Dewi ini. Bahkan orang ini sampai bertanya, Dewi sudah membayar DP berapa besar.

“Saya terharu sekali dibantu Mbak Fitra, ia mengatakan kepada orang tersebut: "maaf unit yang ini sudah laku." Padahal mereka terlihat ingin bersaing, mau memberi DP yang lebih besar lagi,” kenang Dewi.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Hingga 6 bulan lamanya perasaan cemas berkecamuk, sampai pada suatu ketika ada orang yang terlihat serius menawar rumah Dewi. Semua progres ia laporkan ke Fitra, demi mempertahankan rumah impiannya agar segera terbeli.

Proses tawar menawar rumah pun mencapai kata sepakat, dan langsung dilakukan proses pemeriksaan. Mulai dari surat-surat legalitas kepemilikan atas nama Dewi atau bukan, apakah rumah tersebut ada masalah atau tidak, dan sebagainya. Seluruh proses ini dilakukan cukup lama, proses di Badan Pertanahan Nasional saja hampir 1 bulan.

Cerita Rumah Lama Dewi Laku Terjual, Uangnya Cuma Numpang Lewat

Cerita Rumah Lama Dewi Laku Terjual, Uangnya Cuma Numpang Lewat
Cerita Rumah Lama Dewi Laku Terjual, Uangnya Cuma Numpang Lewat

Fitra, sebagai sales marketing yang menangani Dewi berperan sangat besar mulai dari awal proses hingga akhirnya Dewi berhasil membeli rumah tersebut.

“Alhamdulillah akhirnya rumah saya laku dengan harga Rp200 juta. Setelah selesai proses jual dan uang masuk ke rekening saya, langsung semua saya bayarkan untuk DP atau uang muka rumah. Uang tersebut benar-benar hanya numpang lewat di rekening saya. Ha ha ha,” kata Dewi.

Fitra, sebagai sales marketing yang menangani Dewi berperan sangat besar mulai dari awal proses hingga akhirnya Dewi berhasil membeli rumah tersebut. Di awal proses ‘berhitung’ dan tawar menawar, Dewi belum membayangkan jumlah cicilan dan besarnya plafon KPR untuk melunasi rumah tersebut.

Dengan modal nekat mengatakan akan membayar DP Rp200 juta, Fitra membantu menghitung berapa besar cicilan yang harus dibayar Dewi setiap bulan jika menggunakan KPR dengan tenor selama 15 tahun.

“Setelah saya bayar DP, semua proses KPR langsung diurus dibantu Fitra. Prosesnya kali ini nggak susah dan tidak mencemaskan, karena mungkin track record saya waktu beli rumah subsidi dulu bagus,” jelas Dewi. Salah satu kunci sukses KPR adalah dengan catatan ‘bersih’ pada semua cicilan yang dimiliki, yaitu dengan selalu membayarnya on time.

Tak menunggu lama, rumah impian Dewi pun langsung dibangun, bahkan tak disangka proses pembangunannya sangat cepat. Tidak sampai 1 tahun rumah dengan status kepemilikan SHM tersebut berdiri. Dewi pun bisa menempati rumah tersebut pada bulan Oktober 2018.

Tip Rumah

Salah satu kunci sukses pengajuan KPR adalah dengan catatan ‘bersih’ pada semua cicilan yang dimiliki, seperti kartu kredit, pinjaman, dan aneka jenis cicilan lainnya. Upayakan untuk selalu membayar cicilan tepat waktu.

“Saya ingat betul saat rumah sudah selesai dibangun. Di suatu hari Senin proses realisasi rumah dilakukan, saya ke BTN (Bank Tabungan Negara) untuk menandatangani surat serta penyerahan kunci,” cerita Dewi.

Tak menunggu lama, keesokannya yaitu di hari Selasa Dewi langsung memboyong baju-bajunya ke rumah baru, dan Rabu ia langsung menempati rumah tersebut. Seluruh furnitur dan barang elektronik esensial seperti kulkas, AC, mesin cuci dibelinya di Malang.

Cerita Dewi Berjodoh dengan Rumah, Berpisah dengan Pasangan

Cerita Dewi Berjodoh dengan Rumah, Berpisah dengan Pasangan
Cerita Dewi Berjodoh dengan Rumah, Berpisah dengan Pasangan

Kepindahannya ke rumah baru dirasakannya sebagai awal dari lembaran baru kehidupannya bersama Hizkia, anak semata wayangnya.

“Setelah punya rumah sendiri rasanya lega dan nyaman sekali. Bisa pulang ke rumah dan melepaskan rasa lelah selepas kerja,” ujar Dewi. Jarak rumah yang terletak 7 kilometer dari pusat kota tidak menjadi kendala.

Dewi mengakui, tinggal di kota besar Surabaya dengan di Malang apalagi di kecamatan Pakisaji ini sangat berbeda. Jika di Surabaya sudah terbiasa dengan jarak tempuh yang cukup jauh untuk melakukan aktivitas, di Malang 7 kilometer sudah terasa seperti ke luar kota.

“Di sini itu tenang walau jauh dari mana-mana, air tanahnya juga bersih dan jernih. Nyaman rasanya di sini,” jelas Dewi. Yang lucu ada seorang tante yang sebelumnya tinggal di Lawang ingin mencari rumah, dan Dewi mempromosikan unit rumah di perumahan tersebut.

Namun keluarga kerabat tersebut mengatakan bahwa Dewi senang pindah ke ‘desa’ karena sebelumnya tinggal di kota (Surabaya), sedangkan mereka kan tinggal di desa jadinya ingin pindah ke kota. Mendengarnya Dewi hanya geleng-geleng ketawa.

Kepindahannya ke rumah baru ini ternyata membuat Hizkia, anak Dewi, juga merasa nyaman. Walau di awal sangat menentang ketika harus meninggalkan teman-temannya di Malang, namun kekompakan ibu dan anak ini membuat masalah cepat terselesaikan.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya
Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Jodoh, takdir, dan rezeki, semua memang rahasia Illahi. Dewi benar-benar merasa berjodoh dengan rumah impian yang berhasil dibelinya ini. Seluruh kepemilikan rumah, surat-surat, dan KPR atas namanya sendiri tanpa ada join income dari suaminya saat itu.

Di tahun 2018, sebelum rumah Dewi jadi, ia akhirnya harus berpisah dengan suaminya setelah melewati konflik prinsip yang berkepanjangan. Kepindahannya ke rumah baru dirasakannya sebagai awal dari lembaran baru kehidupannya bersama Hizkia, anak semata wayangnya.

Cerita Dewi di Rumah Baru dengan Membuka Lembar Hidup Baru

Cerita Dewi di Rumah Baru dengan Membuka Lembar Hidup Baru
Cerita Dewi di Rumah Baru dengan Membuka Lembar Hidup Baru

Kegigihan dan rasa optimis yang dimiliki Dewi menjadi modal bagi terwujudnya rumah impian untuk keluarga kecilnya.

“Dulu rumah Krian saya yang membeli, sempat berpikir kalau tidak bisa mencicil hingga lunas bagaimana. Tapi Tuhan berkata lain, setelah pindah ke Malang, mendapatkan rumah yang lebih mahal dari hasil jerih payah sendiri, membuat saya harus mandiri dan kuat,” ungkap Dewi.

Kondisi menjadi orangtua tunggal bagi Hizkia tak membuatnya tenggelam dalam kesedihan meski pada akhirnya harus berpisah dengan mantan suami setelah 13 tahun menikah. Keputusannya mencari rumah di Malang dengan harga ‘sesuai kantong’ dirasanya sebagai keputusan yang tepat ketimbang mengincar rumah mewah di kawasan elit yang cicilan bulanannya lebih tinggi.

Kini Dewi menikmati hidup barunya. Berdua dengan Hizkia setiap akhir pekan diisinya dengan kegiatan bersih-bersih rumah. Wanita pekerja keras ini menyadari ke depannya masih panjang dan membutuhkan banyak biaya untuk cicilan KPR, cicilan mobil, juga menyiapkan dana untuk pendidikan Hizkia.

Kegigihan dan rasa optimis yang dimiliki Dewi menjadi modal bagi terwujudnya rumah impian untuk keluarga kecilnya. Berbagai aral melintang berhasil dilaluinya, rumah baru menjadi sumber kebahagiaan baginya.

Itulah cerita perjalanan Dewi yang penuh percaya diri berhasil menemukan jodoh rumah impiannya, meski di lain sisi harus berpisah dengan pasangannya. Masih banyak lagi kisah inspiratif lainnya seputar perjuangan untuk mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

 

Teks: Meta Oepadi, Foto: Doddy S.Mawardi