Cerita Rumah Erna: Perempuan Mandiri, Lakukan Semua Demi Anak dari Hasil Keringat Sendiri

Cerita Rumah Erna: Perempuan Mandiri, Lakukan Semua Demi Anak dari Hasil Keringat Sendiri
Cerita Rumah Erna: Perempuan Mandiri, Lakukan Semua Demi Anak dari Hasil Keringat Sendiri

Erna mulia aprianti, 36 tahun, single parent, memiliki 3 anak. Anak pertamanya laki-laki sudah berumur 13 tahun yang sebentar lagi akan memasuki jenjang sekolah SMP. Anak keduanya perempuan berumur 5 tahun, dan anak ke tiganya laki-laki berumur 4 tahun.

Erna bekerja di bidang pengadaan alat-alat kesehatan yang menyuplai alat ke instansi pemerintah maupun perusahaan swasta. Pada awal COVID-19 menyerang Indonesia, Erna sempat dipindah tugaskan ke Pekanbaru. Di sana, ia mendapatkan fasilitas rumah yang cukup, seperti kamar untuk dirinya, kamar anak, kulkas, ruangan ber-AC, dapur, dan lain-lain.

Kini Erna sudah kembali lagi ke jakarta, dan sudah tidak diberi fasilitas sebaik di Pekanbaru. Selain itu, banyak perabotan rumah yang masih ditinggalkan di sana. Alhasil, Erna dan keluarga sekarang menyewa rumah petakan ala kadarnya, untuk dijadikan tempat tinggal.

Mau punya rumah di area Cilodong, Depok, seperti rumah Erna yang fasilitas kawasannya lengkap, akses ke Jakarta mudah dan juga cepat? Cek pilihan rumah dengan 3 kamar tidur harga di bawah Rp1 M di sini!

Cerita Rumah Erna: Sadar Bahwa Rumah Adalah Investasi Terbaik Bagi Keluarga

Cerita-Rumah-Erna-Sadar-Bahwa-Rumah-Adalah-Investasi-Terbaik-Bagi-Keluarga-C0102T01
Erna menyadari investasi rumah adalah jalan terbaik untuk masa depan keluarga. Erna memikirkan pentingnya memiliki aset yang bisa dinikmati anak-anaknya di kemudian hari.

“Alangkah baiknya saya membeli rumah yang sederhana, dengan 2 kamar, yang cukup untuk keluarga saya. Daripada ngontrak, bayar 15 juta atau 20 juta satu tahun, dan ujung-ujungnya rumah tersebut bukan milik saya, masih miliki orang lain. Buat apa?” Ujar Erna.

Di sini sudah bisa disimpulkan, bahwa Erna sudah sadar akan investasi rumah adalah jalan terbaik untuk masa depan keluarga. Erna memikirkan pentingnya memiliki aset yang bisa dinikmati anak-anaknya di kemudian hari, daripada terus mengontrak dan anak-anaknya tidak bisa menikmati hasil kerja keras Erna.

[article thumbnail=”https://cdn-cms.pgimgs.com/static/2020/11/3.7.-Lakukan-Survei-Secara-Langsung-Ganett-cdn.png”title=”12 Tips Beli Rumah Baru Dengan Cermat Agar Tidak Salah Pilih”category=”Membeli Rumah, Ruko, dan Properti lainnya”https://www.rumah.com/panduan-properti/tips-beli-rumah-baru-6542[/article]

Selain itu, Erna juga berkata bahwa, “selama umur masih ada, rezeki masih dikasih sama Allah saya masih bisa bekerja, gitu kan. Entah besok atau lusa akan bagaimana jadinya, yang penting sekarang anak-anak saya sudah terjamin tempat tinggalnya. Apalagi anak saya yang pertama sudah SMP, sudah (harus) punya kamar sendiri untuk privasi.”

Bukan sekedar investasi, faktor privasi anak juga sudah dipikirkan dengan matang oleh Erna. Semua demi kebaikan anak sudah dipikirkan matang-matang oleh Erna.

Cerita Rumah Erna: Pengajuan KPR Terkendala Utang di Bank

Cerita Rumah Erna: Pengajuan KPR Terkendala Utang di Bank
Secara bertahap Erna berusaha menyelesaikan satu-persatu utang yang harus dibayarkan ke bank agar pengajuan KPR rumahnya tak ada kendala.

Tidak bisa dipungkiri, kalau masih memiliki utang yang harus dibayarkan ke bank, atau pihak lain, proses pengajuan KPR tidak bisa dilakukan, dan inilah kendala utama yang dihadapi oleh Erna.

“Saya memiliki kendala di utang-piutang. Sekarang saya secara bertahap berusaha menyelesaikan satu persatu utang yang harus dibayarkan ke bank ataupun dengan yang lain agar bisa mengajukan KPR untuk membeli rumah,” jelas Erna yang yakin bahwa ia pasti mampu melunasinya.

Erna, seperti orang kebanyakan, juga berharap bisa segera mewujudkan rumah impiannya. Namun, dengan keadaan finansial seperti sekarang, Erna tidak mau muluk-muluk untuk memilih kriteria rumah yang diinginkan. Ia hanya ingin rumah yang ditempatinya bisa membahagiakan anak-anaknya.

Meskipun harus sedikit mengencangkan ikat pinggang. Punya rumah itu jauh lebih banyak enaknya, ketimbang enggak enaknya. Nggak percaya? Nih, simak video tentang 7 fakta enaknya punya rumah sendiri!

Cerita Rumah Erna: Utamakan Kebahagiaan dan Kebutuhan Anak dalam Memilih Lokasi Rumah

Cerita Rumah Erna: Utamakan Kebahagiaan dan Kebutuhan Anak dalam Memilih Lokasi Rumah
Dalam memilih daerah perumahan yang ingin ditinggali adalah demi kebahagian anak. Inilah yang menjadi bahan bakar Erna untuk berjuang mendapatkan rumah impiannya.

Dengan sederhana Erna berkata bahwa, “kalau saya sih keinginannya pengen punya rumah di daerah Depok. Depok itu aksesnya ke arah Bogor lebih dekat, jadi kebiasaan saya sebulan sekali itu, selalu bawa anak-anak ke Kebun Raya Bogor, naik kereta. Situasi dan kondisi akses transportasi, juga lokasi nyaman untuk anak-anak, dekat dengan taman bermain.

Hal pertama yang diungkapkan oleh Erna dalam memilih daerah perumahan yang ingin ditinggali adalah demi kebahagian anak. Kasih sayang inilah yang menjadi bahan bakar Erna untuk berjuang mendapatkan rumah impiannya.

Kota satelit lainnya seperti Bekasi dan Depok sudah dicoret dari pilihan mereka. Area-area tersebut dirasa sudah terlalu padat sehingga aksesnya menjadi terhambat. Dalam proses pencarian, area BSD pun kemudian dikeluarkan dari daftar karena harga tanah di atas anggaran yang mereka tetapkan.

[article thumbnail=”https://cdn-cms.pgimgs.com/static/2019/05/Rumah-DP-0-Persen-4.jpg” title=”Cara Mengumpulkan DP Rumah dalam 12 Bulan” category=”Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya”]https://www.rumah.com/panduan-properti/cara-mengumpulkan-dp-rumah-dalam-12-bulan-15580[/article]

Bicara soal lokasi rumah incaran, Erna menjelaskan, ”kebetulan saya bekerja di daerah Jakarta Pusat. Untuk akses dari Depok ke Jakarta juga sangat gampang, tinggal naik kereta api, tanpa macet dan murah juga. Selain itu, ada juga busway Jabodetabek yang memudahkan akses ke kantor.”

Oleh karena itu, Erna sendiri yang memilih perumahan mana yang ingin ia survei nantinya. Untuk area incarannya di Depok adalah kawasan Cilodong dan Pondok Rajeg, sedang kisaran bujet yang ia sanggupi di antara Rp300 juta – Rp600 juta.

Cerita Rumah Erna: Survei Rumah Pilihan, agar Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan

Cerita Rumah Erna: Survei Rumah Pilihan, agar Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan
Dilema yang dihadapai Erna saat survei rumah, kedua rumahnya sama-sama memiliki keunggulan meski juga punya kekurangannya masing-masing.

Bersama tim Rumah.com dan agen properti rumah tersebut, Erna, Ibunya, berserta 3 anaknya dijemput tim Rumah.com untuk survei rumah yang sudah ditentukan.

“Untuk survei yang pertama saya mendatangi perumahan di Cilodong. Saya dipertemukan oleh agennya yang bernama mas Beni. Beliau menyambut saya dengan baik, memberikan berbagai informasi dari beberapa tipe rumah di perumahan Cilodong itu. Dia menjelaskan mulai dari harga, besaran DP rumahnya, tipe-tipe bangunannya, sampai ke bahan-bahan material bangunannya juga diinfokan ke saya,” urai Erna yang merasa puas dengan informasi yang diterimanya.

Untuk perumahan di Villa Ababil, rumah pertama yang disurvei, Erna menilai lokasinya cukup bagus, strategis. Dari pintu gerbang masuk ke dalam dan keluar perumahan kita bisa menggunakan angkot. Untuk ke pasar, sekolahan, bisa ditempuh dengan waktu sekira 10 menit sampai 15 menit.

“Harga sesuai, tidak terlalu murah dan juga tidak terlalu mahal. Harganya nett di angka Rp550 juta. Dan yang lebih menariknya lagi material bangunannya menggunakan bata merah. Kokoh jika suatu saat saya ingin meningkat rumahnya. Perumahan di Cilodong ini juga saya bisa merombaknya dari depan sampai belakang,” tutur Erna.

[PropertyTip]Agar cicilan KPR rumah Anda tak menemui kendala di perjalanan, pahami skema suku bunganya. Ada suku bunga KPR tetap (fix rate) yang nilai suku bunganya akan tetap selama masa kredit berjalan, dan ada suku bunga KPR mengambang (floating rate) yakni nilai suku bunganya dapat berubah-ubah sesuai aturan suku bunga Bank Indonesia. Sebaiknya Anda cari produk KPR dengan bunga rendah dan tetap dalam periode yang panjang.[/PropertyTip]

“Tetapi, ada satu yang saya rasa menjadi kekurangannya, itu bukan rumah baru. Istilahnya sudah ditempati dengan orang (lain). Jadi saya mau membandingkan, apakah saya suka dengan rumah pertama atau kedua,” ujar Erna tentang survei rumah yang pertama.

Untuk survei rumah yang kedua, Erna terkesan dengan bentuk rumahnya yang minimalis, sederhana. Selain itu juga belum pernah ditempati siapapun, harga yang sesuai kantong, serta akses yang sama-sama strategis. Namun, tetap ada kekurangannya yang membuat Erna merasa janggal.

“Untuk pilihan rumah kedua yang saya kunjungi, memang sama-sama strategis jalanannya. Akses ke stasiun dekat, bahkan rumah ini juga dekat ke beberapa stasiun. Dan saya juga suka model rumahnya yang minimalis, sederhana gitu. Untuk lingkungan juga cukup nyaman untuk anak-anak saya bermain,” bebernya.

“Untuk harga, standar di angka Rp310 juta. Mungkin rumah ini menjadi salah satu pilihan rumah dengan bujet yang terendah untuk saya. Cuma ada satu yang saya kurang suka, yaitu bangunannya terbuat dari batu hebel atau bata putih, bukan batu bata merah,” jelas Erna tentang survei rumah yang kedua.

Cerita Rumah Erna: Disiplin Membenahi Keuangan, Demi Mendapat Rumah yang Diidam-idamkan

Cerita Rumah Erna: Disiplin Membenahi Keuangan, Demi Mendapat Rumah yang Diidam-idamkan
Tim Rumah.com memberi saran untuk memilih rumah ke dua, dengan pertimbangan perhitungan dan melihat kemampuan bayar Erna.

Setelah survei ke dua rumah yang Erna inginkan, akhirnya Erna berkonsultasi ke Rumah.com untuk menemukan solusi bagaimana cara mendapatkan rumah sesuai kebutuhan dan kemampuan, serta kendala yang mungkin terjadi pada proses pembelian dan pengajuan KPR.

Erna pun menceritakan hasil dari sesi konsultasinya dengan tim Rumah.com. “Setelah berbincang-bincang dengan mbak Ike, tim dari rumah.com, saya jadi paham solusinya seperti apa jika saya memilih rumah yang pertama, kendalanya nanti gimana. Mbak Ike menjelaskan semuanya dengan terperinci. Bahka juga memastikan, apakah perumahan tersebut ada sertifikat rumahnya atau tidak,” urainya.

“Untuk masalah keuangan, mbak Ike juga sudah meluruskan, memberi tahu saya, apa yang harus diutamakan. Terutama untuk melunasi utang yang ada. Untuk pilihan dari kedua rumah itu, saya memang lebih sreg yang ke dua, dengan desain yang berbentuk minimalis, rumah baru, bener-bener pure bangunan baru, dan belum ditempatin,” tukas Erna dengan mantap.

“Untuk harga, sangat lumayan terjangkau buat kantong. Saya juga sudah ngobrol bareng kakak, saudara dan orang tua. Mereka berpikir, kalau dengan harga seperti itu memang sesuai kemampuan saya, silakan, demi tempat tinggal anak-anak kelak,” tambah Erna.

Memang, kendala Erna akan utang-utangnya membuatnya jadi lebih sulit untuk mendapatkan rumah yang ‘lebih’ dibandingkan kedua pilihan rumah. Oleh karena itu, tim Rumah.com memberi saran untuk memilih rumah ke dua, dengan pertimbangan memperhitungkan dan melihat kemampuan membayar Erna.

“Cita-cita saya saat ini, ingin segera memiliki rumah di tahun depan. Satu tahun kan ada 12 bulan, sekarang sudah masuk ke Maret, berarti tinggal sisanya lagi. Dalam waktu 6 bulan pembayaran hutang selesai, tahun depan saya sudah mengajukan bisa KPR. Lebaran tahun depan insya Allah bisa punya rumah,” ujar Erna mantap dan yakin.

Agar arus keuangan Erna bisa lancar dengan target yang ditentukan, tim Rumah.com menyarankan Erna untuk mengatur keuangannya dengan disiplin. Cara menyisihkannya: 30% untuk tabungan DP rumah, 10% untuk keluarga dan menafkahi orang tua atau zakat, 20% untuk kebutuhan sehari-hari, dan 40% untuk melunasi utang-utang. Kedisiplinannya dalam membenahi utang-utang tersebut adalah PR utamanya agar bisa mendapatkan rumah impiannya.

Begitulah cerita perjuangan Erna dan keluarga dalam pencariannya mendapatkan rumah impian sesuai dengan bujetnya. Mengetahui kemampuan diri dan disiplin finansial adalah kunci untuk mewujudkan rumah idaman. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel