Cerita Rumah Islah: Pindah-pindah Rumah Hingga Punya Rumah di Lokasi Idaman

·Bacaan 13 menit

Impian atau harapan adalah penggerak kehidupan. Disertai doa dan usaha, impian atau harapan tak mustahil untuk diwujudkan. Itulah yang dibuktikan oleh Islah Hayati, ibu dari tiga anak kelahiran Yogyakarta 47 tahun silam ini.

Setelah sempat berpindah-pindah tugas di sejumlah kota, akhirnya Islah bersama suami, Tri Widdyanto bisa menetap di suatu kota. Bahkan, mereka berhasil mewujudkan impian saat menikah dahulu, yaitu memiliki rumah di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB), Semarang, Jawa Tengah.

Tertarik ingin memiliki hunian yang nyaman di area Semarang, Jawa Tengah? Cek aneka pilihan rumahnya di sini!

Butuh waktu lebih dari 10 tahun bagi pasangan ini untuk mewujudkan rumah impian yang berdiri di lokasi idaman. Demi mewujudkan impiannya, mereka bahkan rela menjual rumah yang pertama dibeli. Tak hanya itu, mereka juga hampir saja ‘kehilangan’ rumah yang telah membuat mereka jatuh hati sejak melihatnya pertama kali.

Keikhlasan memang menjadi kunci kesuksesan perjuangan cerita rumah mereka. Pasangan ini sangat bersyukur berhasil mewujudkan rumah impian yang berdiri di lokasi idaman, rumah berlantai dua dengan luas tanah 128 m2 dan bangunan 145 m2 di Graha Taman Bunga, BSB City.

Cerita Rumah Islah Dimulai dengan Berpindah-Pindah Rumah

Cerita Rumah Islah Dimulai dengan Berpindah-Pindah Rumah
Cerita Rumah Islah Dimulai dengan Berpindah-Pindah Rumah

Islah dan keluarganya berpetualang, mengikuti penempatan tugas Tri, sang suami, yang berpindah-pindah kota, hingga harus berpindah-pindah rumah.

“Siap jalan-jalan gratis ya, alias pindah-pindah sesuai tugas suami,” pesan Tri kepada Islah sebelum pasangan ini menikah. Pesan itu pun terbukti. Islah harus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti suaminya yang bekerja di sebuah bank syariah yang secara berkala pindah tugas ke luar kota.

Setelah menikah, pasangan ini memang ingin mandiri dengan tinggal terpisah dari orangtua. Mereka berencana mengontrak rumah. Namun, mertua Islah bersikeras agar pasangan ini tinggal di rumah mereka yang berada di Boja, Kendal, Jawa Tengah.

“Kebetulan rumah mertua cukup besar dan hanya dihuni oleh mereka serta adik ipar. Kata bapak mertua, uang yang buat kontrak rumah ditabung saja, nanti buat beli rumah,” kenang Islah.

Saat itu, Tri berkantor di Semarang. Dari rumah di Boja ke kantor di Semarang yang berjarak sekitar 20km masih dapat dijangkau pulang-pergi. Jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu tidak sampai 1 jam.

Sampai tahun 2004, ia ditugaskan pindah ke Purwokerto yang masih berada di Provinsi Jawa Tengah. Seperti pesan sang suami sebelum menikah, Islah pun turut mengikuti suaminya tinggal di kota tersebut.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti
Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Bersama buah hatinya, Hammam Fathi Yakan yang lahir pada tahun 2002 dan Asyam Palli Sakha Naufal yang lahir tahun 2004, keluarga ini pun mulai berpetualang, mengikuti penempatan tugas Tri, sang suami. Berpindah-pindah kota, berpindah-pindah rumah. Di tempat dinas, mereka mendapatkan tunjangan sewa tempat tinggal dari perusahaan.

Setelah tiga tahun bekerja di Purwokerto, Tri ditugaskan ke ibukota. Di Jakarta, kantor suami Islah terletak di wilayah Fatmawati, Jakarta Selatan. Mereka pun cukup selektif untuk urusan memilih rumah kontrakan yang kondusif karena memiliki dua anak kecil.

Setelah mereka survei, biaya sewa rumah yang sesuai keinginan mereka dan dekat kantor, ternyata terbilang tinggi. Dengan pertimbangan biaya kontrak rumah yang cukup tinggi, mereka akhirnya tergerak untuk sekalian saja membeli rumah.

Cerita Rumah Islah Diwarnai Penugasan Dinas Kerja ke Luar Kota

Cerita Rumah Islah Diwarnai Penugasan Kerja Dinas ke Luar Kota
Cerita Rumah Islah Diwarnai Penugasan Kerja Dinas ke Luar Kota

Sekitar dua tahun Islah dan keluarga menikmati tinggal di rumah sendiri, hingga akhirnya ada panggilan tugas buat Tri ke kota yang baru.

Jadi uang sewa rumah yang didapatkan dari tunjangan perusahaan dapat disisihkan untuk tabungan. Padahal saat itu belum ada kepastian Tri akan menetap tugas di Jakarta. Mereka juga tidak mau berhutang atau mengambil KPR karena menghindari riba, jadi mereka membeli rumah secara tunai sesuai dana yang dimiliki.

Lantaran jumlah tabungan yang masih terbatas, mereka memilih rumah seken di daerah pinggiran Jakarta. Karena ada saudara mereka yang tinggal di Bekasi, mereka mendapatkan rekomendasi rumah seken yang sedang dijual. Di tahun 2007 mereka membeli rumah pertama seluas 120 m2 di Villa Nusa Indah Jatiasih, Bekasi.

Sekitar dua tahun Islah dan keluarga menikmati tinggal di rumah sendiri, hingga akhirnya ada panggilan tugas datang buat Tri ke kota yang baru. Kali ini ke Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dengan pertimbangan baru melahirkan anak ketiga, Khansa Tabita Sakhi yang saat itu masih berusia 6 bulan, untuk pertama kalinya Islah tidak ikut pindah menemani suami.

“Selain anak-anak masih sangat kecil, tentunya butuh adaptasi lagi di lingkungan baru. Kami juga agak kesulitan mencari sekolah karena di lingkungan yang mayoritasnya non-muslim. Pendidikan anak-anak yang kami utamakan,” cerita ibu yang pernah bekerja di perusahaan supplier Caltex di Pekanbaru, Riau sebelum menikah ini.

Lagi cari rumah untuk dihuni atau untuk investasi? Simak 100 Rumah Dijual Terpopuler di Indonesia

Kondisi tersebut membuat pasangan ini tinggal terpisah. “Kami menjalani LDR (Long Distance Relationship). Suami di Kupang, Islah bersama anak-anak tetap di Jakarta. Ternyata LDR cukup menantang. Tanpa kehadiran suami di rumah dengan ketiga anak yang masih kecil rasanya lebih terbebani karena tanggungjawab jadi semakin besar.

Usai menjalani masa dinas di Kupang, tahun 2010 Tri kembali ditugaskan ke pulau Jawa, tepatnya di Gombong, Jawa Tengah. Dengan pengalaman menjalani LDR sebelumnya, Islah berharap tidak mengulangi lagi kondisi tersebut. Setidaknya, sang suami bisa pulang setiap akhir pekan dan berkumpul di rumah.

Namun, jarak Jakarta-Gombong relatif jauh jika harus ditempuh setiap minggu. Melihat kondisi pelik tersebut, orangtua Tri kembali menyarankan pasangan ini untuk tinggal di rumah mereka lagi di Boja. Jarak Boja-Gombong tentu lebih dekat sehingga akhir pekan Tri bisa pulang.

“Kami sedang menikmati tinggal di rumah sendiri, tapi harus ditinggalkan. Anak-anak juga beranggapan kami sudah menetap di Bekasi dan tidak akan pindah lagi karena sudah punya rumah sendiri,” jelas Islah.

Cerita Islah Beli Rumah Seken di Perumahan Kota Mandiri

Cerita Islah Beli Rumah Seken di Perumahan Kota Mandiri
Cerita Islah Beli Rumah Seken di Perumahan Kota Mandiri

Tabungan yang mereka miliki tidak cukup untuk membeli rumah baru secara tunai, dan opsi lainnya adalah membeli rumah seken.

Namun karena mengutamakan kebersamaan dengan keluarga, akhirnya Islah sekeluarga boyongan dari Jakarta ke Boja. Kebetulan adik ipar mereka yang bekerja di Jakarta bisa menempati sekaligus mengurus rumah mereka di Bekasi.

Dan pendidikan anak memang jadi prioritas bagi pasangan ini. Untuk itulah, sebelum pindah ke Boja, mereka telah mempersiapkan sekolah bagi kedua anaknya. Setelah survei, dari pilihan sekolah Islam yang sesuai kriteria mereka, yang terdekat adalah SDI Al Azhar 29 di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB), Semarang.

BSB yang terletak di Kecamatan Mijen, Semarang merupakan Kota Satelit yang menyediakan sarana perumahan, industri, rekreasi dan fasilitas pendidikan yang lengkap. Namun, terkendala jarak antara Boja dan BSB yang terbilang jauh.

“Karena saya adalah ibu rumah tangga dan bisa mengantar jemput anak-anak sekolah, jadi kami putuskan untuk menyekolahkan anak kami di sana,” jelas Islah. Setelah dijalani selama tiga tahun, ia prihatin melihat anaknya seperti kelelahan di perjalanan pulang pergi dari Boja ke sekolah di Semarang.

Tips Investasi Properti di Kawasan Sekitar Kota Mandiri
Tips Investasi Properti di Kawasan Sekitar Kota Mandiri

Investasi Properti

Tips Investasi Properti di Kawasan Sekitar Kota Mandiri

Ia melanjutkan, “Setiap pagi anak-anak harus bergegas supaya tidak terlambat. Berangkat telat lima menit saja akan terkena macet dan terlambat masuk sekolah. Kalau kondisi normal, waktu tempuh dari rumah ke sekolah sekitar 45 menit.”

Terpikir untuk pindah sekolah, namun mereka teringat keinginan anak sulungnya yang tidak mau pindah sekolah lagi, karena sudah pindah sekolah sampai empat kali karena mengikuti kepindahan orangtuanya. Untuk kenyamanan anak, kalau tidak pindah sekolah, solusinya adalah pindah rumah.

Kawasan BSB sendiri dirancang sebagai kota mandiri di Semarang dengan perkembangan yang pesat serta fasilitas lengkap dan berkualitas. Pindah ke kawasan tersebut agaknya menjadi pilihan yang paling tepat, selain nyaman sebagai hunian, juga investasi bagus untuk masa depan. Namun, harga properti di sana terbilang cukup tinggi. Tabungan yang mereka miliki tidak cukup untuk membeli rumah baru secara tunai.

Hingga salah satu orang tua dari teman sekolah anak mereka merekomendasikan sebuah rumah seken yang sedang dijual di Graha Taman Bunga, BSB City. Kompleks tersebut merupakan hunian terpadu yang terdiri dari 500 unit rumah dengan fasilitas lengkap mulai dari taman bermain, lapangan basket, sampai masjid di dalam perumahannya.

Cerita Islah Beli Rumah dengan Konsep Hemat Energi

Cerita Islah Beli Rumah dengan Konsep Hemat Energi
Cerita Islah Beli Rumah dengan Konsep Hemat Energi

Pemilik rumah seken tersebut adalah seorang arsitek, rumahnya dibuat dengan menerapkan konsep hemat energi.

Mereka akui kali ini sangat berhati-hati dalam membeli rumah seken, karena akan dijadikan tempat tinggal untuk jangka panjang. Apalagi mengingat Tri seringkali tugas di kota lain sehingga harus meninggalkan Islah hanya bersama ketiga anaknya di rumah.

“Banyak hal yang harus diperhatikan, mulai dari lingkungan yang aman, fasilitas di sekitarnya lengkap, juga lokasinya strategis supaya mudah diakses. Kami lakukan survei dulu untuk melihat kondisi rumah serta kelengkapan dokumennya. Proses ini dilakukan langsung dari tangan pertama, tanpa perantara,” ungkap Islah lagi.

Ketika survei ke rumah tersebut, pasangan ini langsung merasa cocok. Pemiliknya adalah seorang arsitek, rumah tersebut dibuat dengan menerapkan konsep hemat energi. Desainnya memperhatikan penggunaan bahan dinding dan jendela kaca sebagai akses cahaya masuk ke dalam rumah dan sirkulasi udara yang baik sehingga hemat listrik, dan menjadi hunian yang sehat bagi penghuni.

“Dari pengalaman rumah pertama yang saat kami beli bangunan rumahnya sudah berumur 10 tahun. Kami tidak lakukan cek kondisi rumah secara rinci sehingga baru ketahuan ada kondisi yang bermasalah setelah kami tempati,” ujar Islah.

Tip Rumah

Jika membeli rumah seken lakukan pengecekan secara cermat, baik dokumen legalitas maupun kualitas bangunannya. Untuk memastikan kualitas dan kekuatan bangunannya Anda bisa menggunakan jasa ahli bangunan, sedang urusan legalitas bisa memanfaatkan jasa notaris.

Tidak mau mengulang kesalahan yang sama, saat survei Islah dan Tri benar-benar melakukan pengecekan dengan cermat, terutama bagian yang tidak terlihat, seperti instalasi listrik dan saluran air, apakah memang dalam kondisi baik untuk menghindari masalah di kemudian hari.

Dibandingkan rumah pertama, rumah ini lebih luas dengan tiga kamar dan masih terdapat lahan untuk perluasan bangunan sehingga mendukung untuk tempat tinggal bagi pasangan ini dengan ketiga anaknya untuk jangka panjang. Apalagi, meskipun rumah seken, namun bangunan baru dibangun tiga tahun sebelumnya, sehingga masih dalam kondisi bagus.

Begitupun bahan bangunan yang digunakan berkualitas baik. Pemilik rumah sebenarnya agak berat menjualnya karena rumah tersebut adalah rumah idamannya. Tetapi terpaksa dijual dengan alasan ingin melunasi hutang di bank. Selama setahun rumah tersebut telah dipasarkan, namun belum berhasil terjual.

Islah dan suami tertarik membeli rumah tersebut, kalau memang harganya cocok. Dari harga Rp750 juta yang ditawarkan, mereka mencoba negosiasi harga. Akhirnya empunya rumah melepas di harga Rp610 juta.

Cerita Islah Beli Rumah Kedua dengan Skema Cash Bertahap

Cerita Islah Beli Rumah Kedua dengan Skema Cash Bertahap
Cerita Islah Beli Rumah Kedua dengan Skema Cash Bertahap

Dengan tekad bulat mereka niatkan membeli rumah tersebut, dengan pertimbangan masih ada aset lain seperti mobil dan rumah pertama yang harus direlakan kalau perlu dijual.

“Kami setujui dengan catatan diperbolehkan membayar tunai dalam tiga termin selama enam bulan atau cash bertahap. Jadi uang muka akan diberikan 50% dari harga rumah dan sisanya akan dibayarkan secara bertahap. Pemilik rumah pun menyetujui,” ujar Islah.

Diakui pasangan ini, tabungan yang mereka miliki hanya setengah dari harga rumah. Namun dengan tekad bulat mereka niatkan membeli rumah tersebut, dengan pertimbangan masih ada aset lain seperti mobil dan rumah pertama yang harus direlakan kalau perlu dijual.

Tabungan rumah mereka dalam bentuk giro, maka mereka meminta waktu seminggu untuk membayarkan uang muka. Belum sampai seminggu dan masih proses pencairan giro, pemilik rumah menghubungi bahwa ada yang mau membeli secara tunai karena ia membutuhkan uang tunai secepatnya untuk membayar hutang.

Kata pemilik rumah kalau kami ada uang cash, kami akan diprioritaskan untuk mendapatkan rumah tersebut. Sayangnya kami tidak punya uang cash saat itu juga. Agak kecewa sih, tapi mau gimana lagi. Akhirnya kami ikhlaskan untuk melepas rumah tersebut,” kenang Islah.

Beli Rumah: Pilih Bayar Cash atau Kredit?
Beli Rumah: Pilih Bayar Cash atau Kredit?

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Beli Rumah: Pilih Bayar Cash atau Kredit?

Karena telah mencairkan giro, mereka segera mencari rumah pengganti. Di lokasi yang sama, ada rumah seken lain yang juga dijual. Namun Islah dan Tri lebih menyukai rumah yang gagal didapatkan sebelumnya.

“Jadi sewaktu kami ingin melihat sertifikat rumah, pemilik rumah seken kedua ini justru menghindar dan bilang rumah tidak jadi dijual. Membuat kami jadi berpikir apa mungkin ada masalah di dokumen rumahnya,” kenang Islah.

Selang seminggu kemudian, tiba-tiba Tri menanyakan apakah ada kabar lagi dari pemilik rumah pertama. Mungkin saja, rumah tersebut tidak jadi dibeli, demikian dugaannya. Benar saja, seminggu kemudian, pemilik rumah menghubungi Islah dan menanyakan, apakah masih tertarik untuk membeli rumahnya karena calon pembeli yang akan membayar tunai ternyata membatalkan.

“Alhamdulillah, kami senang sekali mendengar kabar tersebut. Tapi kami berterus terang bahwa dana yang kami cairkan sudah ada yang terpakai, jadi kami minta harga bisa diturunkan menjadi genap Rp600 juta,” papar Islah.

Cerita Rumah Islah, Rumah Impian di Lokasi Idaman Sejak Awal Menikah

Cerita Rumah Islah, Rumah Impian di Lokasi Idaman Sejak Awal Menikah
Cerita Rumah Islah, Rumah Impian di Lokasi Idaman Sejak Awal Menikah

“Sebenarnya sejak kami menikah tahun 2001, saat BSB belum melejit seperti sekarang, kami sudah melirik rumah di sana. Tapi saat itu kami terpikir mau bayar pakai apa, namanya pengantin baru," kenang Islah.

Pemilik rumah ternyata setuju karena ia sudah mendapatkan Rp10 juta dari uang muka calon pembelinya yang kemudian hangus. Akhirnya rumah impian yang sudah sangat diimpikan pun jatuh ke tangan Tri dan Islah. Pengalaman pasangan ini dalam mendapatkan rumah idaman membuktikan kalau rezeki memang tidak ke mana.

“Yang menarik, ketika proses pembayaran uang muka, kami baru tahu kalau sertifikat rumah masih dijaminkan di bank. Jadi kami pun harus ikut ke pihak bank untuk pelunasan hutang. Alhamdulillah, walau ada kendala sedikit tetapi dapat terselesaikan,” ujar Islah. Proses akad jual beli rumah selanjutnya pun berjalan lancar.

Bahkan pemilik rumah mengizinkan mereka untuk langsung menempati rumah tersebut, tidak perlu menunggu sampai akhir termin pembayaran. Tepat di malam Lebaran pada tahun 2015, mereka pindah ke rumah impian yang menjadi kenyataan tersebut.

“Sebenarnya sejak kami menikah tahun 2001, saat BSB belum melejit seperti sekarang, kami sudah melirik rumah di sana. Tapi saat itu kami terpikir mau bayar pakai apa, namanya pengantin baru. Melihat perkembangan properti di BSB dengan nilai yang terus naik juga jadi salah satu alasan kami untuk beli rumah di BSB,” kenang Islah.

Panduan Memilih Lokasi Rumah Bagi Pemula
Panduan Memilih Lokasi Rumah Bagi Pemula

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Panduan Memilih Lokasi Rumah Bagi Pemula

Rumah pertama mereka di Bekasi dan sebuah unit mobil pun akhirnya dijual untuk sisa pembayaran rumah baru. “Kebetulan adik ipar kami yang menempati rumah tersebut berminat untuk membeli rumah kami tersebut. Kalau kami ke Jakarta, kami masih bisa tinggal di rumah tersebut,” ungkap Islah.

“Sekarang kita nggak bakal terlambat sekolah lagi ya, Dek,” ujar si sulung kepada adiknya setelah mereka menempati rumah baru yang membuat hati Islah merasa lega. Agar ketiga anaknya masing-masing mendapatkan kamar sendiri, Islah menambahkan satu kamar lagi.

Tak hanya itu, karena hobi memasak dan membuat kue tentunya Islah membutuhkan dapur yang luas. Karena dapur awal di rumah tersebut cukup kecil, akhirnya taman belakang dipakai untuk memperluas area dapur.

Setelah pasangan ini sempat menjalani hubungan jarak jauh, akhirnya sang suami bisa menetap tinggal di rumah baru mereka. Tri akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari bank syariah dan mengembangkan bisnis rental mobil yang telah dirintisnya sejak masih bekerja kantoran sekitar tahun 2010.

Cerita Rumah Islah yang Berujung Indah

Cerita Rumah Islah yang Berujung Indah
Cerita Rumah Islah yang Berujung Indah

Kini di rumah impian di lokasi idaman, berkumpul bersama ditemani camilan yang khusus dibuatkan oleh Islah adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga.

Sejak 2016, Tri telah menetap di rumah. Namun kali itu Islah harus tinggal terpisah dengan kedua anaknya yang masuk pesantren. Dimulai dengan anak kedua yang masuk pesantren di Salatiga saat kelas 1 SMP. Sedangkan anak pertama mulai masuk pesantren di Yogyakarta waktu kelas 1 SMA tahun 2018.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti di Panduan Rumah.com.

Ketika anak-anak pulang ke rumah, momen kebersamaan pun jadi hal yang begitu berharga. Kini di rumah impian di lokasi idaman, berkumpul bersama ditemani camilan yang khusus dibuatkan oleh Islah adalah momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga.

Itulah cerita perjalanan Islah mewujudkan rumah impian di lokasi idaman, yang memang tidak mudah karena sebelumnya harus berpindah-pindah rumah. Masih ada banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah.

Teks: Siti Rahmah, Foto: Permei Setyo