Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Melonjak di Tahun Keempat, Refinancing KPR Jadi Penyelamat

·Bacaan 12 menit
Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Melonjak di Tahun Keempat, Refinancing KPR Jadi Penyelamat
Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Melonjak di Tahun Keempat, Refinancing KPR Jadi Penyelamat

Begitulah Ratna Tjahyo memaknai rumah miliknya yang disebut Rumah 3G, diambil dari singkatan nama ketiga anaknya: Ghiza, Gwyncielo, dan Gwynzia. Kegigihan usaha Ratna dan suami, Bimo Tjahyo, berhasil mewujudkan rumah impian yang nyaman.

Rumah 3G berada di Taman Jati Sari Permai, Jatiasih, Bekasi, dengan luas tanah 163 m2 dan luas bangunan 47 m2. Bangunan telah dikembangkan bertahap menjadi 180 m2 dengan dekor inspiratif. Sentuhan rustic-japan di dipilih sebagai konsep hunian mereka.

Tak disangka pula, kehadiran Rumah 3G semakin mengasah talenta Ratna sebagai decor creator yang memberi inspirasi tentang rumah tumbuh melalui akun Instagram rumahnya, @rumah_3G. Jika menoleh ke belakang, cukup panjang proses yang dilalui Ratna dan suami untuk bisa menikmati rumah yang mereka bangun bersama ini.

Mereka sempat terpaksa harus tinggal terpisah - termasuk dengan anak pertamanya - karena tuntutan pekerjaan, hingga berpindah-pindah rumah kontrakan. Lelahnya berpindah-pindah rumah kontrakan menjadi alasan utama bahwa sebuah rumah harus mereka miliki.

Mau punya rumah di kawasan Jatiasih, Bekasi, seperti rumah Ratna yang kawasan sekitar perumahannya terus berkembang pesat, dan aksesnya mudah ke Jakarta? Temukan pilihan rumahnya dengan harga mulai dari Rp400 jutaan di sini!

Cerita Rumah Ratna: Pindah-pindah Kontrakan Melulu, Beli Rumah Masih Ragu

Cerita Rumah Ratna: Pindah-pindah Kontrakan Melulu, Beli Rumah Masih Ragu
Cerita Rumah Ratna: Pindah-pindah Kontrakan Melulu, Beli Rumah Masih Ragu

Awalnya Ratna mengontrak rumah petak di kawasan Tebet. Kurang cocok dengan lingkungannya yang ramai dan padat, Ratna pindah lagi dan mengontrak rumah di Pasar Minggu. Suasananya lebih tenang.

Ratna memang tak pernah membayangkan jika dirinya akan tinggal dan menetap di Jakarta. Pindah dari Surabaya ke Jakarta, ia rencanakan hanya sementara karena ditugaskan di kantor cabang di Ibu Kota ini. Saat itu, ia bekerja sebagai sales di perusahaan otomotif Astra Group.

Sedangkan sang suami bertugas di Bandung, Jawa Barat. Tak hanya menjalani LDR dengan suami, Ratna pun harus berpisah dengan buah hatinya, Ghiza. Dengan pertimbangan, ia sendirian di Jakarta dan usia anaknya baru satu tahun. Orang tua Ratna meminta agar si kecil tidak dibawa dulu.

Di tahun 2006 itulah, kehidupan Ratna di Jakarta dimulai. Ia memilih kontrakan yang dekat lokasi kantornya. Diawali dari rumah petak di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, karena kurang cocok dengan lingkungannya yang ramai dan padat maka Ratna pindah lagi dan mengontrak rumah di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Suasananya lebih tenang.

9 Kesalahan Saat Beli Rumah yang Harus Dihindari
9 Kesalahan Saat Beli Rumah yang Harus Dihindari

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

9 Kesalahan Saat Beli Rumah yang Harus Dihindari

“Walau rumahnya agak kecil, tetapi waktu itu cukup untuk ditempati bersama anak saya dan pengasuhnya. Tapi tidak ada tempat parkir untuk mobil, jadi nambah biaya sewa parkir mobil. Dihitung-hitung pengeluaran jadi lebih besar,” papar wanita kelahiran 1980 ini.

Setelahnya, Ratna pindah ke rumah yang lebih besar dan ada garasi mobil di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Kebetulan pula, Ratna dipindahkan ke kantor cabang Cilandak, Jakarta Selatan, sehingga mobilitas dari rumah ke kantor lebih mudah diakses melalui tol.

Kemudahan itulah yang membuatnya bertahan cukup lama di rumah tersebut. Bahkan Ratna dan suami berniat membeli rumah di Cibubur, hingga sempat survei. Namun mereka masih ragu.

Cerita Rumah Ratna: Pertimbangkan Kenyamanan, Niat Beli Rumah Dimantapkan

Cerita Rumah Ratna: Pertimbangkan Kenyamanan, Niat Beli Rumah Dimantapkan
Cerita Rumah Ratna: Pertimbangkan Kenyamanan, Niat Beli Rumah Dimantapkan

Perjalanan Ratna mengontrak rumah memang melelahkan. Dengan dua anak dan terpisah dengan suami, hal ini membuatnya memantapkan hati untuk segera punya rumah sendiri.

“Jujur saja, awalnya kami ingin balik lagi ke Surabaya. Kami nggak mau tinggal selamanya di Jakarta. Kami mau tetap dekat dengan orangtua dan keluarga di Surabaya. Jadi keinginan beli rumah di Jakarta kami pikir-pikir lagi, tak mau terburu-buru,” ungkapnya.

Saat masih ragu itulah, Ratna kembali pindah ke kantor cabang di Kalimalang, Jakarta Timur. Perjalanan rumah-kantor yang ditempuh Ratna butuh waktu lebih lama karena rawan macet. Saat itu Ratna sedang mengandung anak kedua.

Atas persetujuan suami, Ratna pindah ke rumah kontrakan dekat kantor di Kalimalang setelah anak keduanya lahir. Ia mengaku kurang nyaman dengan lingkungan di Kalimalang yang lebih padat dan ramai dibandingkan Cibubur.

Ciri-Ciri Orang Siap Beli Rumah. Apakah Anda Salah Satunya?
Ciri-Ciri Orang Siap Beli Rumah. Apakah Anda Salah Satunya?

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Ciri-Ciri Orang Siap Beli Rumah. Apakah Anda Salah Satunya?

Perjalanan Ratna mengontrak rumah memang melelahkan, Tebet Pasar MingguCibuburKalimalang. Dengan dua anak dan terpisah dengan suami, hal ini membuatnya memantapkan hati untuk segera punya rumah sendiri.

“Cari kontrakan yang sesuai bujet dan hati tidak gampang. Capek loh, pindah sana-sini, apalagi memikirkan kenyamanan anak-anak. Kami tidak bisa seperti ini terus. Jadi kami mantapkan menetap di Jakarta dan harus punya rumah. Tidak ada yang tau jalan takdir,” paparnya.

Cerita Rumah Ratna: Dana Terbatas Ingin Rumah dengan Tanah Luas

Cerita Rumah Ratna: Dana Terbatas Ingin Rumah dengan Tanah Luas
Cerita Rumah Ratna: Dana Terbatas Ingin Rumah dengan Tanah Luas

Dengan dana yang terbatas, Ratna dan suami berencana membuat rumah tumbuh. Ukuran bangunan bagi mereka tidak mutlak harus besar, terpenting tanahnya luas agar bisa dibangun saat ada dana nanti.

Pencarian rumah pun dimulai oleh Ratna dan suami. Mereka sempat cek harga rumah di Jakarta. Tetapi dana yang mereka miliki belum cukup untuk membeli rumah sesuai dengan kebutuhannya.

“Kami survei daerah Pasar Minggu. Bujet yang kami punya cuma dapat rumah ukuran kecil, tidak cukup buat kami plus dua pengasuh anak. Jadi harus geser ke pinggiran Jakarta,” tutur Ratna.

Kebetulan ada rekan kerja Ratna yang baru menikah dan sedang mencari rumah sekitar Bekasi. Ratna dapat info bahwa daerah Jatiasih, Bekasi, dibangun banyak klaster dengan harga yang masih terjangkau.

Jurus Menemukan Rumah Idaman Bersama Pasangan
Jurus Menemukan Rumah Idaman Bersama Pasangan

Membeli Rumah, Ruko, dan Properti Lainnya

Jurus Menemukan Rumah Idaman Bersama Pasangan

Lantaran masih awam dengan kawasan Bekasi, Ratna mencari informasi tambahan tentang prospek properti di Bekasi melalui laman AreaInsider di Rumah.com. Dari hasil pencariannya, daerah Jatiasih, Bekasi, diproyeksi akan berkembang pesat. Dengan target area Jatiasih yang dekat pintu tol, Ratna dan suami keliling mencari rumah di sana.

“Rata-rata rumah klaster, ukuran tanahnya kecil sekitar 72 m2 sampai 108 m2. Kami kurang sreg karena butuh rumah lebih luas. Dengan dana yang terbatas, paling tidak kami niat membuat rumah tumbuh,” jelasnya. Ukuran bangunan tidak mutlak harus besar, terpenting tanahnya luas, agar bisa dibangun saat ada dana nantinya.

Dan kini mencari rumah tak lagi sulit, hanya dengan mencarinya melalui listing properti di jual di Rumah.com, berbagai filter bisa dipasang agar pencarian semakin mudah. Di masa pandemi, pameran properti virtual juga bisa menjadi pilihan tepat saat mencari rumah idaman Anda.

Cerita Rumah Ratna: Beli Rumah Harga Rp327 Juta, Pilih Lokasi Rumah di Pinggir Jalan Utama

Cerita Rumah Ratna: Beli Rumah Harga Rp327 Juta, Pilih Lokasi Rumah di Pinggir Jalan Utama
Cerita Rumah Ratna: Beli Rumah Harga Rp327 Juta, Pilih Lokasi Rumah di Pinggir Jalan Utama

Perumahan yang mereka incar ini menyediakan unit rumah yang berada di dalam klaster dan beberapa rumah yang di luar klaster di jalan utama.

Setelah keliling langsung, mereka menemukan sebuah perumahan yang menyediakan unit rumah dengan ukuran tanah cukup luas, di Taman Jati Sari Permai. Selain itu, mereka kepincut dengan lingkungannya yang tenang dan asri, bahkan masih ada suara jangkrik di malam hari.

Pasangan ini sampai mengecek suasana pagi, sore, dan malam hari di perumahan yang mereka taksir itu untuk memastikan kondisinya aman. Mengingat sebagai orangtua bekerja, mereka akan meninggalkan anak-anak dengan pengasuh saja.

Namun ada hal yang membuat mereka agak ragu. “Sewaktu kami survei, akses jalan masih tanah merah. Kondisi jalan hancur. Pengorbanan banget deh,” kenangnya. Agar keputusannya lebih mantap, Ratna mencari informasi lagi kepada teman kerjanya yang telah membeli rumah di daerah tersebut.

“Katanya, kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik. Bahkan berkembang cepat. Harga tanah di sana cepat naik. Dia sarankan beli saja kalau sudah menemukan rumah yang cocok. Itu yang bikin kita makin mantap,” ucap Ratna.

Informasi mendalam seputar area pencarian properti
Informasi mendalam seputar area pencarian properti

AreaInsider

Informasi mendalam seputar area pencarian properti

Perumahan Taman Jati Sari Permai menyediakan unit rumah yang berada di dalam klaster dan beberapa rumah di luar klaster berada di jalan utama. Ratna dan suami memilih yang ada di luar klaster.

Alasannya? “Kami suka jalan, jadi nggak bisa terikat jam. Apalagi teman-teman kami banyak yang suka main ke rumah sampai malam. Kami pilih rumah yang di jalan utama, bebas keluar masuk, tidak dibatasi portal. Risikonya terdengar suara kendaraan lalu lalang,” jawabnya.

Akhirnya sebuah rumah dengan luas tanah 163 m2 dan bangunan 47 m2 dipilih Ratna. Saat itu tahun 2012, rumah tersebut dijual dengan harga Rp327 juta, telah dilengkapi pagar keliling dan pagar depan.

Cerita Rumah Ratna: Estimasi DP Rumah Rp30 Juta, Perhitungan Tiga Bank KPR Beda-beda

Cerita Rumah Ratna: Estimasi DP Rumah Rp30 Juta, Perhitungan Tiga Bank KPR Beda-beda
Cerita Rumah Ratna: Estimasi DP Rumah Rp30 Juta, Perhitungan Tiga Bank KPR Beda-beda

Kendala Ratna saat pengajuan KPR adalah pada dana DP rumah yang terbatas. Untuk tambahan DP rumah, mereka menjual mobil yang baru dibeli tiga bulan.

Proses pencarian rumahnya memang terbilang cepat, cuma satu bulan walau dengan cara berkeliling langsung. Namun proses pengajuan KPR di bank yang cukup lama, sekitar empat bulan karena harus ganti bank sampai tiga kali.

Pihak pengembang menghitung estimasi biaya DP rumah sekitar Rp30 juta dan membantu pengajuan KPR ke tiga bank. Tetapi saat dikalkulasi oleh pihak bank, ternyata dibutuhkan DP rumah yang lebih besar.

Ternyata, angka join income pasangan inilah yang menentukan nilai DP rumah, batas plafon, dan tenor KPR. Pihak bank menghitung maksimal nilai cicilan KPR adalah 30 persen dari total penghasilan atau join income Ratna dan suami.

Saat itu, pekerjaan Ratna dan suami mendapatkan dua jenis penghasilan yaitu gaji pokok dan insentif. Joint income yang dihitung berdasarkan gaji pokok, jumlahnya lebih kecil dibandingkan insentif. Sehingga plafon KPR tidak bisa besar, otomatis DP rumahnya harus ditambahkan lagi.

Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR
Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

Tips Negosiasi dengan Bank Saat Ajukan KPR

Sementara, kendala Ratna justru pada dana DP rumah yang terbatas. Bank pertama, sempat meminta DP rumah sampai Rp120 juta. “Kami keberatan karena angka tersebut jauh banget buat kami. Kami hanya siapkan dana Rp50 juta, itu untuk DP rumah dan biaya lainnya, termasuk renovasi kecil,” ungkapnya.

Bank kedua menentukan DP rumah menjadi Rp80 juta, lebih kecil dari bank pertama. Namun pilihan bank ketiga justru lebih rendah, DP-nya Rp68 juta, dihitung dengan biaya administrasi, total jadi sekitar Rp71 jutaan. Akhirnya inilah yang mereka pilih. Untuk tambahan DP rumah, mereka menjual mobil yang baru dibeli tiga bulan.

“Kami baru ganti mobil. Anak-anak sudah besar, jadi butuh mobil lebih besar buat bawa stroller. Itu harus kita kalahin untuk nambah DP dan renovasi. Dijual lagi mobilnya dan ganti mobil seken, yang penting bisa dipakai kerja,” kenang Ratna yang membuatnya termotivasi makin giat mencari penghasilan tambahan.

Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Cicilan Mengalami Kenaikan, Refinancing KPR Jadi Jawaban

Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Cicilan Mengalami Kenaikan, Refinancing KPR Jadi Jawaban
Cerita Rumah Ratna: Suku Bunga Cicilan Mengalami Kenaikan, Refinancing KPR Jadi Jawaban

Hingga tahun 2019 dengan cicilan KPR yang telah berjalan sekitar 7 tahun, kabar gembira pun datang. Ratna mendapat penawaran pembiayaan dari bank yang satu grup perusahaan tempatnya bekerja.

Ratna mengambil KPR dengan tenor 15 tahun. Cicilan flat selama dua tahun sekitar Rp3,5 juta per bulan. Baru setelah itu, cicilannya naik mengikuti suku bunga. Sampai tahun keempat, tiba-tiba naiknya cukup tinggi hingga mencapai Rp5 jutaan.

“Kami kaget, kok tiba-tiba auto debit di rekening jumlahnya berubah. Kami konfirmasi ke bank dan memang ada kenaikan bunga. Dari suku bunga awal 7,9 persen menjadi 13 persen. Suami sempat mencak-mencak karena tidak diinfo sebelumnya untuk kenaikan yang cukup besar,” ujar Ratna.

Kekecewan itu membuat mereka berniat lakukan refinancing, cara pembayaran atau pelunasan pinjaman dengan mengajukan pinjaman baru yang bunganya lebih rendah. Tapi mereka berpikir lagi, refinancing dengan pindah bank tidak mudah juga.

Hingga tahun 2019 dengan cicilan KPR yang telah berjalan sekitar 7 tahun, kabar gembira pun datang. Ratna mendapat penawaran pembiayaan dari bank yang satu grup perusahaan tempatnya bekerja. Kesempatan ini tak mau mereka sia-siakan.

Refinancing dan Pelunasan Sebagian Bikin Cicilan KPR Ringan
Refinancing dan Pelunasan Sebagian Bikin Cicilan KPR Ringan

Mengajukan KPR dan Mengatur Cicilan

Refinancing dan Pelunasan Sebagian Bikin Cicilan KPR Ringan

Sama halnya dengan mengajukan KPR, pembiayaan ulang atau refinancing juga memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Mulai dari cicilan yang lancar sampai syarat-syarat administrasi. Selain itu, ada syarat lain seperti:

  1. Rumah yang sedang dicicil menjadi jaminannya.

  2. Penghasilan bulanan. Bank tetap melihat kemampuan cicilan pada KPR baru ini.

  3. Sudah mencicil dalam batas waktu minimal. Batas waktu minimal ini tergantung pada bank bersangkutan, biasanya minimal satu tahun.

Meskipun pihak bank pemberi KPR pertama tidak kooperatif dan terkesan menghambat proses refinancing, namun akhirnya berhasil dilakuan karena dipermudah oleh bank yang baru.

Cerita Rumah Ratna: Renovasi dari Dana Refinancing KPR dan Pensiun Dini

Cerita Rumah Ratna: Renovasi dari Dana Refinancing KPR dan Pensiun Dini
Cerita Rumah Ratna: Renovasi dari Dana Refinancing KPR dan Pensiun Dini

Ratna memutuskan berhenti kerja untuk mengurus sendiri anak-anaknya di rumah. Supaya betah di rumah, ia meminta renovasi dapur, agar punya dapur bagus seperti yang dilihatnya di media sosial.

Dengan refinancing ini, Ratna membuat akad kredit baru dengan pihak bank pengganti. Ia ambil tenor KPR 15 tahun, plafon cicilan Rp5 juta per bulan yang flat selama 5 tahun pertama. Sebagai solusi agar bisa melunasi pinjaman lebih cepat, bank membaginya dalam dua bentuk yaitu KPR dan pinjaman tunai.

“Jika ada dana, kami secara fleksibel bisa lunasi pinjaman tunai dulu, atau menutup KPR. Kami targetkan dalam lima tahun selama cicilan masih flat, minimal bisa melunasi salah satunya. Atau, setidaknya bisa memperkecil tenor agar bisa kurang dari 15 tahun,” paparnya.

Setelah melakukan refinancing KPR dengan bank yang satu grup perusahaan tempatnya bekerja, di tahun yang sama Ratna memutuskan berhenti kerja untuk mengurus sendiri anak-anaknya di rumah. Supaya betah di rumah, ia meminta renovasi dapur, agar punya dapur bagus seperti yang dilihatnya di media sosial.

Dengan dana pensiun dini yang diperoleh Ratna saat resign serta tambahan dana dari hasil refinancing KPR, rumah mereka direnovasi kedua kali. Sesuai konsep rumah tumbuh, rumah satu lantai diubah menjadi dua lantai dengan luas bangunan menjadi 180 m2.

Panduan Lengkap Renovasi Rumah Idaman
Panduan Lengkap Renovasi Rumah Idaman

Tips Rumah dan Apartemen

Panduan Lengkap Renovasi Rumah Idaman

Hasil renovasi tetap ada tiga kamar tidur namun ukurannya diperluas. Karena tergolong renovasi besar dan mereka tidak bisa memantau langsung, agar tak terulang kesalahan seperti renovasi pertama, mereka pakai vendor pemborong.

Jadi dulu, setelah serah terima kunci Ratna melakukan renovasi darurat. Dari dua kamar tidur ditambah jadi tiga kamar plus satu gudang. Tanpa bekal pengalaman renovasi, biayanya jadi membengkak dan waktu pengerjaan yang lebih lama.

“Salahnya kami, sih. Belum paham soal renovasi tapi nggak cari informasi buat persiapan. Kami dapat pemborong yang tidak amanah. Walau pakai pemborong, sebaiknya kita tetap pantau langsung,” tutur Ratna. Dari rencana empat bulan, pengerjaan pun molor hingga tujuh bulan.

Cerita Rumah Ratna: Renovasi dengan Konsep Eklektik Multi-desain, Unsur Industrial, Rustic, dan Japandi

Cerita Rumah Ratna: Renovasi dengan Konsep Eklektik Multi-desain, Unsur Industrial, Rustic, dan Japandi
Cerita Rumah Ratna: Renovasi dengan Konsep Eklektik Multi-desain, Unsur Industrial, Rustic, dan Japandi

Ratna menata sendiri rumahnya dengan konsep eklektik multi-desain, ada unsur industrial, rustic, japandi, dan natural dengan sentuhan tanaman.

Belajar dari pengalaman renovasi pertama, mereka antisipasi biaya renovasi agar tidak over bujet lagi. Mereka hanya membuka 75 persen saja, sekitar Rp300 juta, dari total dana Rp400 juta yang disediakan untuk keperluan renovasi.

Sisanya menjadi cadangan apabila dibutuhkan dana tambahan. Seperti yang telah diantisipasi, total renovasi menghabiskan dana Rp400 juta. Pembayaran renovasi dilakukan bertahap.

Sebagai jaminan, Ratna meminta pelunasan dilakukan setelah renovasi selesai. Benar saja, baru ditempati, rumah mereka malah kebanjiran saat hujan deras karena kesalahan tukang yang menutup bak kontrol tanpa sepengetahuan mereka.

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya
Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Tanya Rumah

Temukan jawab seputar properti dari ahlinya

Beberapa bulan kemudian, Ratna lanjutkan renovasi tahap akhir untuk area lantai atas. Selesai renovasi, ia menata sendiri rumahnya dengan konsep eklektik yang memadukan multi desain, ada unsur industrial, rustic, japandi (peranakan dari desain ruangan Japanese dan Scandinavian), dan natural dengan sentuhan tanaman.

“Supaya nyaman, kita tidak pakai patokan tertentu untuk konsep desain. Terpenting adalah penghuni rumah merasa nyaman. Setiap pasangan pasti berbeda keinginan. Dalam satu rumah, kita bisa kok menerapkan beberapa konsep atau gaya menjadi suatu paduan gaya yang harmonis,” saran Ratna.

“Urusan rumah sementara ini telah selesai. Sekarang fokus finansial kami untuk pendidikan anak-anak. Kebetulan anak paling besar sudah kelas 11 dan tahun depan persiapan mencari perguruan tinggi,” cerita Ratna yang tak bisa menutupi kebahagiannya.

Itulah cerita perjuangan Ratna mewujudkan rumah impian setelah 'kenyang' berpindah-pindah rumah kontrakan. Berhasil punya rumah yang luas meski dengan dana terbatas. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Siti Rahmah. Foto: Tody Harianto

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel