Cerita Rumah Riri dan Edo: Dulu Beli Rumah Rp2,6 Miliar, Kini Harganya Sudah Rp4 Miliar

Cerita Rumah Riri dan Edo: Dulu Beli Rumah Rp2,6 Miliar, Kini Harganya Sudah Rp4 Miliar
Cerita Rumah Riri dan Edo: Dulu Beli Rumah Rp2,6 Miliar, Kini Harganya Sudah Rp4 Miliar

“Rumah adalah tempat yang aman dan nyaman untuk menghabiskan keseharian, berkegiatan sebagai keluarga ataupun menjalani kehidupan profesional.” – Cerita Rumah Riri dan Edo.

Home is where the heart is, begitu peribahasa menyebutkan. Rumah tidak terikat pada satu lokasi tertentu, tetapi berada bersama orang-orang yang kita sayangi. Contohnya pasangan Riri dan Edo yang ‘rela’ meninggalkan rumah di pusat kota Jakarta di area Tebet, Jakarta Selatan.

Lokasi yang strategis ternyata bukan jaminan sebagai tempat tinggal idaman. Riri dan Edo menempati rumah peninggalan orang tua semenjak menikah pada tahun 2007 bersama putri semata wayangnya, Kayla. Dari Tebet, tentunya mobilitas setiap hari sangat efisien, perjalanan ke kantor, jika tidak macet, dapat ditempuh sekitar 20 menit menggunakan mobil.

Keinginan pasangan ini untuk membeli rumah dan mencari lokasi baru terjadi pada saat mencari sekolah menengah incaran untuk Kayla. Bukan hanya pertimbangan Riri dan Edo, pilihan pribadi sang anak pun turut mempengaruhi keputusan.

Rangkaian proses pencarian rumah dilakukan Riri dan Edo dengan penuh kehati-hatian. Alhasil, kini mereka telah mendiami rumah dengan luas tanah 135 m2 serta luas bangunan 152 m2 yang sesuai kriteria di area Sektor 9 Bintaro, Tangerang Selatan.

Mau punya rumah di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan yang fasilitas kawasannya lengkap dan punya banyak akses mudah ke Jakarta seperti Riri dan Edo? Cek pilihan huniannya di bawah Rp1 miliar di sini!

Cerita Rumah Riri dan Edo: Cari Rumah Manfaatkan Listing Properti, Agen Properti, dan Pengamatan Pribadi

Cerita Rumah Riri dan Edo: Cari Rumah Manfaatkan Listing Properti, Agen Properti, dan Pengamatan Pribadi
Memilih hunian bisa dibilang rasanya seperti orang jatuh cinta. Semakin lama menghabiskan waktu semakin nyaman rasanya.

“Pilihan kami BSD atau Bintaro,” ujar Edo. Kebetulan sebagian besar keluarga dari pihak Riri dan Edo bermukim di kedua area tersebut. Awal pencarian dilakukan dengan cara browsing melalui internet ke situs-situs properti, seperti listing properti dijual di Rumah.com.

Tak hanya itu, Riri dan Edo juga mencari tahu dari cerita dan pengalaman orang-orang sekitar yang terpercaya, dan tentunya melakukan pengamatan pribadi. Segala cara dicoba, bahkan Riri dan Edo juga menggunakan jasa agen properti terpercaya dalam proses pencarian rumah idamannya ini.

Berbekal informasi dan listing properti tersebut, setelah dikerucutkan, bertemulah mereka dengan lima agen properti yang menangani penjualan rumah yang masuk ke dalam daftar incaran Riri dan Edo. Ada agen dari agensi properti, salah satunya Ray White, ada pula agen properti lepasan.

[article thumbnail=”https://cdn-cms.pgimgs.com/static/2020/11/3.7.-Lakukan-Survei-Secara-Langsung-Ganett-cdn.png”title=”12 Tips Beli Rumah Baru Dengan Cermat Agar Tidak Salah Pilih”category=”Membeli Rumah, Ruko, dan Properti lainnya”https://www.rumah.com/panduan-properti/tips-beli-rumah-baru-6542[/article]

“Dari semua yang kami temui, kami paling sreg dengan dua agen yang berlokasi di Bintaro,” ujar Riri. Dari sang agen yang cukup komunikatif, mereka diberikan beberapa pilihan, tentunya di seputar kawasan BSD atau Bintaro sesuai lokasi incaran.

Riri dan Edo mencari rumah dengan kamar tidur minimal empat dan, jika rumah itu bertingkat, harus ada satu kamar di lantai bawah. Hal ini dikarenakan ibunda Riri akan tinggal bersama mereka.

Memilih hunian bisa dibilang rasanya seperti orang jatuh cinta. Semakin lama menghabiskan waktu semakin nyaman rasanya. Dan jika sudah jatuh cinta, kita rela memalingkan muka jika si pencuri hati memiliki sedikit atau bahkan banyak kekurangan.

Cerita Rumah Riri dan Edo: Cari Rumah Idaman Pakai Perasaan, Survei Tiga – Empat Kali, Tidak Langsung Beli

Cerita Rumah Riri dan Edo: Cari Rumah Idaman Pakai Perasaan, Survei Tiga - Empat Kali, Tidak Langsung Beli
Saat menemukan lokasi klaster yang akhirnya menjadi rumah mereka sekarang, keputusan pun tidak langsung diambil saat itu juga, memakan waktu dua bulan.

Selain mempertimbangan hal-hal fisik seperti kondisi bangunan, lokasi rumah, jumlah kamar, dan harga, mereka juga mempertimbangkan perasaan yang tertambat di hati saat berada di suatu lokasi tertentu. “Ada beberapa yang kami datangi, hawanya langsung terasa enggak enak,” ujar Riri.

Ada juga informasi tentang properti yang membuat mereka enggan. “Sempat ada rumah yang sudah kami sukai. Daerahnya asri, nyaman,” Edo bercerita. Namun setelah tahu area tersebut dulunya adalah pemakaman, mereka segera mencari lokasi yang baru.

Saat menemukan lokasi klaster yang akhirnya menjadi rumah mereka sekarang, keputusan pun tidak langsung diambil saat itu juga. “Kami lihat rumah ini tiga atau empat kali, dirasa-rasa dulu, tidak langsung beli,” Edo menjelaskan. Bahkan keputusan pun diambil setelah mempertimbangkannya selama dua bulan.

Ketika sudah memutuskan untuk membeli rumah, penting untuk memerhatikan pengembang perumahannya. Seperti apa pengembang yang terpercaya? simak di video berikut ini!

Riri dan Edo sudah menetapkan anggaran sebesar Rp2,5 miliar untuk membeli rumah. Setelah berkeliling survei dari satu rumah ke rumah yang lain, baik dari yang ditemukan di internet maupun rumah yang infonya didapat dari agen properti, pencarian pun berakhir di Discovery Flamine, sebuah klaster di Bintaro Jaya Sektor 9, Tangerang Selatan.

Pencarian rumah ini kurang lebih berjalan selama satu tahun. Akhirnya, di tahun 2015, sebuah rumah dengan luas tanah 135 m2 dan luas bangunan 152 m2 resmi menjadi milik mereka berdua.

Rumah ini ideal karena merupakan rumah baru yang berada dalam klaster. Mulai dari keamanan, one gate system, serta tersedianya fasilitas menjadi alasan rumah dalam klaster begitu menggiurkan.

Cerita Rumah Riri dan Edo: Beli Rumah di Lokasi Tepat, 7 Tahun Harga Rumah Naik Hampir 2 Kali Lipat

Cerita Rumah Riri dan Edo: Beli Rumah di Lokasi Tepat, 7 Tahun Harga Rumah Naik Hampir 2 Kali Lipat
Tahun 2015, sebuah rumah dengan luas tanah 135 m2 dan luas bangunan 152 m2 resmi menjadi milik mereka. Rumah ini dianggap ideal karena merupakan rumah baru yang berada dalam klaster.

“Di klister ini ada taman bermain anak, lapangan basket, mushola. Di sekitar sini juga ada fasilitas umum antara lain masjid, club house, dan rumah sakit. Ini penting karena ada orang tua yang sudah lansia,” ujar Riri. Rumah sakit terdekat dari klaster mereka adalah RS Pondok Indah – Bintaro Jaya yang berjarak kurang lebih 1,1 kilometer.

Sekolah Kayla pun hanya berjarak sekitar 2,3 kilometer dari rumah. Aksesnya pun baik. Sebelum pandemi, hanya Edo saja yang perlu berangkat ke kantor di Jakarta Selatan, sementara Riri adalah pekerja lepas yang bisa bekerja di rumah.

“Bisa naik KRL karena stasiun lumayan dekat atau bisa juga naik shuttle ke Stasiun MRT Fatmawati,” Edo menjelaskan alternatif cara ia pergi ke kantor jika tidak membawa kendaraan pribadi. Perjalanan ini kira-kira ditempuhnya dalam waktu satu jam.

Temukan juga beragam tips, panduan, dan informasi mengenai pembelian rumah, KPR, pajak, hingga legalitas properti pada Panduan Rumah.com

Harga rumah ini Rp 2,6 miliar, di atas anggaran yang telah ditetapkan. Tapi Riri dan Edo rela mengeluarkan uang lebih banyak karena telah jatuh cinta dengan rumah dan areanya. Mereka berpikir rumah tersebut menjadi investasi properti yang prospektif.

“Ini juga bentuk investasi. Daerah ini perkembangannya bagus sehingga harga jualnya terus naik. Sekarang saja (2022) untuk rumah yang sama harganya sudah sekitar Rp3,8 miliar hingga 4 miliar,” Edo menjelaskan. Dalam kurun waktu 7 tahun peningkatannya hampir 2 kali lipat.

Rumah ini sudah siap pakai, dan sudah menjadi milik dari pembeli sebelumnya. Namun tergolong baru karena tidak pernah ditempati. Riri dan Edo merasa sreg, selain secara fisik rumah tersebut sudah tertambat di hati. Pembelian rumah dilakukan secara cash keras. Alasannya simpel, “Karena ada dananya,” ujar Riri.

Cerita Rumah Riri dan Edo: Beli Rumah Rp25 Juta Uang Tanda Jadi, Tapi Belum Ada Akta Jual Beli

Cerita Rumah Riri dan Edo: Beli Rumah Rp25 Juta Uang Tanda Jadi, Tapi Belum Ada Akta Jual Beli
Rumah sakit terdekat dari klaster mereka adalah RS Pondok Indah – Bintaro Jaya yang berjarak kurang lebih 1,1 kilometer. Sekolah Kayla pun hanya berjarak sekitar 2,3 kilometer dari rumah.

Beli rumah secara cash keras memang banyak keuntungannya. Di antaranya, harga yang dibayarkan adalah harga rumah yang disepakati. Berbeda dengan pembelian secara kredit yang lebih tinggi dari harga aslinya karena ada bunga dengan jumlah tertentu yang dibayarkan bersama cicilan.

Dengan membeli secara cash keras, Anda juga bebas dari rasa was-was fluktuasi suku bunga kredit. Dan tentunya perasaan lega karena rumah telah menjadi milik pribadi seutuhnya. Lagi-lagi dengan catatan, jika Anda memang telah memiliki anggarannya. Bila tidak, pembelian secara KPR dengan tenor cicilan dalam jangka waktu pendek dapat menjadi pilihan.

Proses pembeliannya sendiri tidak berbelit, tapi tergolong tidak biasa. Pertama, ada pembayaran awal ke pemilik rumah sekitar Rp 25 juta, sebagai uang tanda jadi. Pembayaran ini sendiri tidak melalui notaris karena pembelian pemilik awal belum lunas ke pihak pengembang sehingga belum ada Akta Jual Beli (AJB).

[PropertyTip]Ketika mencari rumah yang akan dibeli, selain mempertimbangkan kredibilitas pengembang dan fasilitas yang ditawarkan, kenali juga fasilitas umum terdekat. Pelajari fasilitas publik yang ada di sekitar, seberapa dekat jaraknya, adakah yang kurang yang bisa jadi malah Anda butuhkan.[/PropertyTip]

Selanjutnya, pelunasan pembelian dibayarkan kepada pemilik awal dan pengembang setelah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Setelah itu baru ada serah terima dokumen dari pengembang Jaya Property.

Sertifikat kepemilikan baru mereka dapatkan sekitar setahun kemudian. “Kami menunggu pengembang memecah sertifikat dulu. Setelah itu baru melanjutkan AJB ke notaris, bayar biaya-biaya pajak, dan lain sebagainya,” cerita Riri.

Saat ini rumah pasangan Riri dan Edo telah didekorasi sesuai dengan gaya hidup seluruh anggota keluarga. Kegiatan yang dilakukan bersama-sama lebih banyak dilakukan di ruang makan yang sekaligus dapur. Edo lebih banyak menghabiskan waktu di ‘kantor’, sebuah kamar tidur yang telah ‘disulap’ menjadi kantor.

Cerita Rumah Riri dan Edo: Masih Menyimpan Angan, Bangun Rumah dengan Ruang Sesuai Kebutuhan

Cerita Rumah Riri dan Edo: Masih Menyimpan Angan, Bangun Rumah dengan Ruang Sesuai Kebutuhan
Karena memasak sendiri dan tidak menggunakan asisten rumah tangga (ART), keduanya merasa dapur kotor tersebut menjadi mubazir sifatnya karena tidak terpakai.

Sementara Riri dapat ditemukan sedang merawat anak-anak hijaunya di taman tengah rumah. Selain di sini, tanaman-tanaman tersebut juga bisa pindah sementara ke teras depan, tergantung kebutuhan. Sedangkan area favorit Kayla tak lain dan tak bukan kamar tidurnya sendiri.

Meski telah mendekorasi hunian sesuai selera, Riri dan Edo masih menyimpan angan-angan. “Kami ingin membangun rumah yang sesuai dengan kebutuhan,” ujar Riri. “Tidak perlu terlalu luas tapi efisien, jangan ada ruangan yang tidak diperlukan, jadi lebih gampang dibersihkan,” Edo menambahkan.

Seperti sebagian besar rumah orang Indonesia, rumah tersebut memiliki dua dapur, dapur bersih dan dapur kotor. Karena memasak sendiri dan tidak menggunakan asisten rumah tangga (ART), keduanya merasa dapur kotor tersebut menjadi mubazir sifatnya karena tidak terpakai.

[AskGuru][/AskGuru]

Ada pula area ART di lantai atas dengan tangga tersendiri di dapur kotor. Terdiri dari satu kamar tidur dan satu kamar mandi yang kini kosong. Walau ada ruang yang tidak terpakai, ada yang ingin ditambahkan pasangan ini jika suatu hari mereka dapat membangun rumah sendiri.

“Kami perlu ruang penyimpanan,” kata Edo. “Dengan begitu, semua barang dapat diletakkan di tempat yang layak,” ujarnya lagi. Keduanya juga sepakat ingin memiliki rumah dengan taman belakang sehingga udara dapat berganti dengan leluasa dan ‘anak-anak hijau’ dapat ditata dengan lebih baik.

Tips Berburu Rumah Impian ala Cerita Riri dan Edo

Tips Berburu Rumah Impian ala Cerita Riri dan Edo
Walau ada ruang yang tidak terpakai, mereka ingin menambahkan ruang penyimpanan jika suatu hari mereka dapat membangun rumah sendiri.
  • Riset – Kemudahan internet mempermudah proses pencarian rumah, atau filterisasi awal. Bahkan kini kita bisa melihat pameran properti secara virtual, seperti yang rutin diselenggarakan oleh Rumah.com.

  • Gunakan Jasa Agen Properti – Jika memilih browsing melalui internet, kerucutkan area dan mintalah bantuan jasa agen properti jika ingin praktis.

  • Aksesibilitas – Pilih yang memiliki akses lancar, yang mudah mencapai pusat kota. Jika membawa kendaraan pribadi, bagaimana kondisi jalannya? Untuk transportasi umum, apakah banyak dan mudah ditemukan?

  • Kenali Berbagai Tipe Rumah – Kalau tidak bisa membeli rumah baru tidak perlu berkecil hati. Banyak rumah seken yang harganya terjangkau. Anda bisa mencari di portal properti seperti listing properti dijual di Rumah.com.

Itulah cerita pencarian rumah Riri dan Edo, beli rumah di lokasi yang tepat, 7 tahun harga rumahnya naik hampir 2 kali lipat. Masih banyak lagi kisah seputar perjuangan mewujudkan mimpi punya rumah sendiri lainnya yang juga tak kalah menginspirasi. Temukan kisahnya hanya di Cerita Rumah.

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah

Teks: Nofi Firman, Foto: Adi Rachman

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel