Cerita Siswa SMP yang Nilainya Kosong Selama 1 Semester karena Tak Punya Gawai

·Bacaan 4 menit
Siswa SMP di Jakarta Tak Mampu Membeli Handphone Sehingga Tak Bisa Belajar Online.(Foto:Istimewa).
Siswa SMP di Jakarta Tak Mampu Membeli Handphone Sehingga Tak Bisa Belajar Online.(Foto:Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta Keresahan yang dirasakan Aditya, siswa di SMP 286 Tomang, Jakarta Barat karena mendapat nilai nol selama satu semester gara-gara tak punya handphone kini terobati.

Pasalnya pihak sekolah akhirnya memberikannya sebuah telepon pintar untuk membantunya mendapatkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sebelumnya diberitakan, pelajar bernama lengkap Aditya Akbar ini tak memiliki handphone lantaran sang ayah kehilangan pekerjaan akibat Covid-19. Sementara, kakaknya yang diketahui bernama Rivai, saat ini sedang menganggur.

Adalah pihak Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat yang akhirya menjawab semua keluh-kesah yang dirasakan siswa SMP ini lewat komunikasi secara virtual.

"Kami menanyakan sebenarnya seperti apa? Ternyata yang kita tanya bahwa dia awalnya punya handphone tetapi kini handphone dia rusak. Nah itu disitulah dia tidak bisa mengikuti secara PJJ atau daring," ungkap Kasudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat, Uripasih, Selasa (27/10/2020).

Dari maraknya pemberitaan yang dihadapi Aditya inilah, hingga membuat Kasudin Pendidikan Jakbar mengumpulkan semua kepala sekolah untuk mendata para siswanya yang mendapat kesulitan saat PJJ berlangsung.

Berikut sejumlah hal terkait Aditya, siswa SMP Tomang yang nilainya kosong selama 1 semester lantaran tak punya handphone:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Sang Ayah Kehilangan Pekerjaan

Tak memiliki handphone, satu dari sekian banyak permasalahan yang kini dirasakan banyak siswa di Tanah Air saat belajar daring mulai diberlakukan. Saperti yang bari-baru ini dirasakan siswa SMP Tomang, Aditya Akbar.

Akibatnya siswa kelas VII ini tidak bisa mengikuti belajar daring dan selama 1 semester nilainya nol.

Bukan tanpa alasan Aditya tak bisa membeli gawai sebagai penunjang belajar online. Ayahnya yang seorang montir, kini kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Sedangkan kakaknya bernama Rivai, hanya lulusan SD dan masih menganggur.

Sang kakak, Rivai menuturkan, pihak sekolah mengetahui kendala yang dialami adiknya. Bahkan pihak sekolah sempat mengunjungi Aditya.

Menurutnya, adiknya diberikan kesempatan melakukan ulangan susulan. Meskipun, tetap diminta agar pihak orangtua bisa mengusahakan kebutuhan belajar di tengah pandemi Covid-19 ini.

"Mereka katanya hanya bisa membantu untuk memberi kesempatan ulangan susulan kepada adik saya. Tapi mereka juga harap orangtua dapat memenuhi kebutuhan Adit," kata Rivai, Senin, 26 Oktober 2020.

Harapan Sang Kakak, Tak Putus Sekolah

Melihat kondisi sang adik, saat itu Rivai berharap, adiknya mendapat bantuan ponsel pintar sebagai penunjang belajar daring.

Karena menurutnya, Aditya tergolong anak pintar di sekolah. Rivai menuturkan, dengan diberikan pertolongan, maka adiknya tak putus sekolah.

"Saya harap adik saya bisa lanjutkan sekolah. Jangan seperti saya yang sudah putus sekolah," tutup Rivai.

Tanggapan Kemendikbud

Lantas, apa tanggapan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyusul pemberitaan soal adanya seorang siswa SMP di Jakarta yang mengaku nilainya selama satu semester kosong lantaran tak memiliki telepon pintar?

Menurut Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Evy Mulyani mengatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bukan hanya dilakukan secara daring menggunakan telepon pintar maupun laptop.

Dia menyebut terdapat sejumlah alternatif lain agar siswa bisa tetap menjalankan PJJ di tengah masa pandemi Covid-19.

"Berbagai alternatif PJJ telah diterapkan, sehingga tidak hanya melalui daring yang memerlukan gawai dan akses internet, tetapi juga Belajar Dari Rumah di TVRI, radio edukasi Kemendikbud," ujar Evy saat dikonfirmasi Liputan6.com pada Senin malam, 26 Oktober kemarin.

Evy menjelaskan, pihaknya juga menyediakan beragam modul pembelajaran yang bisa diunduh oleh berbagai pihak yang berkepentingan, termasuk orang tua siswa.

"Kemendikbud juga telah menyediakan berbagai modul sederhana bagi guru, orang tua, dan siswa, sehingga dapat dipergunakan atau dipelajari mandiri dengan kolaborasi guru dan orang tua," jelasnya.

Evy mengatakan, PPJ semestinya tidak menjadi beban bagi peserta didik. Dia menerangkan bahwa model pembelajaran serta penugasan tak melulu mesti mengandalkan daring.

Pihak Sekolah Beri Aditya Handphone

Usai beritanya banyak menyita perhatian banyak kalangan, siswa SMP Tomang yang masih duduk di Kelas VII ini akhirnya dapat mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pihak sekolah memberikan sebuah handphone.

Demikian yang diutarakan oleh Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat, Uripasih saat dihubungi awak media, Selasa (27/10/2020).

"Sudah, dari pihak sekolah sudah memberikan (handphone)," kata dia.

Uripasih mengaku langsung bergerak cepat ketika membaca berita terkait Aditya Akbar. Dia pun memanggil seluruh kepala sekolah untuk segera mendata siswa kurang mampu yang terkendala dalam hal proses belajar-mengajar. Salah satunya yang didata adalah Aditya Akbar.

Dia pun memastikan, Aditya telah kembali bersekolah.

"Tadi itu anak sudah ke sekolah sudah menerima handphone dan hari ini sudah bisa belajar PJJ lagi," ucap dia.

Sementara itu, terkait nilainya yang selama ini kosong, Uripasih mengatakan, pihaknya telah meminta Aditya untuk membawa tugas-tugas yang sempat diberikan oleh gurunya ke sekolah hari ini.

"Kami minta dibawa yang sudah diisi ke sekolah agar dinilai guru. Dan saya tanya harian-harian ada tidak? Kalau harian ada maka saya cek lagi ke guru agar harian itu direkap ke guru mata pelajaran agar disampaikan ke wali kelas," ucap dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini: