Cerita Survival Pelari Hilang di Gunung Arjuno, Sampai Disebut Luar Biasa

Merdeka.com - Merdeka.com - Yurbianto Basri (46) tidak diketahui keberadaannya setelah melewati Pos Puncak Arjuno, Sabtu (2/7) pukul 19.10 WIB. Pelari peserta Mantra Summits Challenge (MSC) 2022 Kategori 116K itu seharusnya menuju Budug Asu melewati jalur pendakian menurun ke arah Mahapena.

Panitia tidak menemukan peserta nomor 18 tersebut di Pos Budug Asu (Singosari) maupun pos WS Wonorejo (Lawang) pada jam yang seharusnya.

Upaya pencarian dilakukan, baik oleh penyelenggara even, UPT Tahura R Soeryo dan Basarnas. Sebanyak 11 Search and Rescue Unit (SRU) dilibatkan menyisir sejumlah titik lokasi, kendati saat itu belum juga membuahkan hasil.

Hingga akhirnya, Selasa (5/7) sekira pukul 11.00 WIB datang titik terang saat pria asal Jakarta itu berhasil mengirimkan shareloc pada keluarga. Tim selanjutnya dikonsentrasikan menyisir sesuai dengan titik koordinat tersebut.

Survivor baru diketemukan Selasa (5/7) Pukul 21.04 WIB di Curah Seriti Dusun Seriti, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Selama sekitar tiga hari, pelari ultra trail itu tersesat di hutan lebat dalam kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R Soeryo di lereng Gunung Arjuno-Welirang.

Kepala Taman Hutan Rakyat (Tahura) R Soeryo, Ahmad Wahyudi mengungkapkan, saat ditemukan kondisi survivor hanya mengalami luka ringan berupa lecet di telapak tangan, sekitar dada, lengan, punggung dan kaki. Luka itu kemungkinan karena gesekan dengan pepohonan atau ilalang yang dilintasi selama perjalanan.

"Ini tergolong luar biasa, malah masih kuat berjalan. Kondisi (ditemukan) lokasinya curam kalau toh pakai tandu agak kesulitan, masih bisa berjalan," kata Ahmad Wahyudi kepada Merdeka.com, Kamis (7/7).

Kondisi stamina fisik dan mental survivor tergolong tangguh dengan cuaca hujan dan kabut di lokasi. Kemungkinan karena faktor latihan, apalagi dengan latar belakang seorang pelari rute-rute yang tergolong tidak biasa.

Selain itu survivor memiliki perbekalan yang cukup baik secara pemahaman maupun peralatan pendukung. Sehingga dapat menggunakan peralatan dan pengetahuannya itu saat dalam situasi darurat.

"Saat ditemukan oleh SRU (Search and Rescue Unit) kondisinya tidak memakai baju karena basah, saat itu memang sempat hujan," tegasnya.

Ketika baju atau kaos terpakai akan menyimpan air yang membuat tubuh semakin kedinginan. Suvivor dengan pengetahuannya memilih melepas baju atau kaosnya agar tidak kedinginan.

Survivor juga melengkapi diri dengan emergency blanked yakni sejenis selimut tipis berbahan aluminium foil. Perbekalan itu tentu sangat bermanfaat digunakan bertahan hingga bantuan pertolongan tiba di lokasi.

"Hari pertama masih bisa bertahan dengan bekalnya. Bertahan juga membawa emergency blanked, biasanya memang sudah disiapkan oleh pendaki profesional," katanya.

Gadget yang dibawa survivor, baik handphone atau lainnya dilengkapi fasilitas signal SOS maupun GPS. Sehingga Survivor dapat mengirimkan titik koordinat hingga mempermudah petugas menemukan posisi berdasarkan data yang dikirim.

"Signal yang terakhir diberikan sudah tidak bergerak, memang itu cara yang paling benar, memang harus begitu, setelah memberi tahu posisi jangan sampai bergerak lagi," terangnya.

Yurbianto Basri pun akhirnya ditemukan tersesat di Curah Seriti dengan kedalaman sekitar 100 meter. Jalur menuju lokasi tersebut berupa sebuah perlintasan dari atas punggungan bukit menuju ke lembah.

"Ketika menemukan jalur ini pendaki biasanya akan mengikuti terus jalur ini, sampai curah kemudian bingung mencari arah," katanya.

Jalur tersebut diduga merupakan jalur tradisional yang menjadi jalan masyarakat sekitar menuju puncak Gunung Arjuno. Sesuai namanya, lokasinya merupakan perbukitan dengan aliran sebuah sungai.

Suvivor dievakuasi dari lokasi penemuan di Curah Seriti menuju Budug Asu Dusun Sumbul, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sementara tim lain dengan ambulans menjemput di Pos Perbatasan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) yang kemudian membawa ke rumah sakit.

Ahmad Wahyudi berpesan kepada masyarakat yang hendak mendaki Gunung Arjuno untuk membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, terutama tentang survival. Selain itu harus dengan bekal yang cukup dan didukung oleh stamina fisik. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel