Cerita Takmir Masjid Kenapa Lurah Susan Ditolak

TEMPO.CO, Jakarta - Suhandi, Ketua Takmir Masjid As-Siddiqiyah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan penolakan terhadap Lurah Susan Jasmine Zulkifli yang memimpin Lenteng Agung memang ada. Mereka sebagian tokoh, ulama serta kalangan orang tua. Alasan menolak Susan karena Lurah yang diangkat pada Juli 2013 lalu itu beragama Kristen.

Menurut Suhandi, warga Lenteng Agung memang mayoritas muslim dan cukup fanatik.  Karena itu dirinya tidak kaget kalau kemudian muncul penolakan terhadap Lurah Susan. "Memang dari dulu di sini agak fanatik. Termasuk saya. Tapi saya masih bisa mengikuti perkembangan," kata Suhandi Sabtu, 24 Agustus 2013. Penolakan itu masih melekat pada sejumlah tokoh dan ulama. "Terutama mereka yang tua-tua."

Dia membantah ada ceramah di masjidnya yang isinya menolak Lurah Susan. Dia membenarkan masjid yang dia kelola kerap ada ceramah, termasuk saat tarawih Ramadan lalu. "Penceramah yang diundang sepengetahuan orang kelurahan," ujar Suhandi, Sabtu 24 Agustus 2013.

Dia tak ingat kapan persisnya ada penceramah yang melontarkan penolakan kepemimpinan Lurah Susan. Sepengetahuannya, selama ini tidak ada penceramah yang menyinggung keyakinan Lurah Susan. "Termasuk ceramah saat subuh, tidak ada yang menyoal masalah itu," kata pria berusia 62 tahun itu.

Sebelumnya ramai diberitakan  adanya ajakan menolak Lurah Susan. Ajakan itu diduga dilontarkan oleh penceramah saat tarawih Ramadan lalu. Seorang warga yang mengikuti ceramah itu mengatakan sang penceramah mengajak warga untuk menolak pemimpin nonuslim yang menjadi pimpinan warga yang mayoritas muslim.

KHAIRUL ANAM

Topik Terhangat:

Suap SKK Migas| Penembakan Polis| Sisca Yofie |Konvensi Partai Demokrat| Rusuh Mesir

Berita Terkait

Rizieq Syihab Calon Presiden 2014 

Puan: Jokowi Hanya Maju Lewat PDIP 

Bursa Capres, PDIP Jateng Tak Usulkan Jokowi  

 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.