Cerita Teman Sekolah Tentang Anak Ridwan Kamil: Pemuda Sederhana & Tanggung Jawab

Merdeka.com - Merdeka.com - Peristiwa hilangnya anak Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz di Sungai Aare, Bern, Swiss terus menyedot perhatian khalayak. Ragam simpati dan doa terus mengalir agar Pemuda 23 tahun yang akrab disapa Eril itu segera ditemukan.

Selain doa dan harapan, kenangan manis akan sosok anak Ridwan Kamil pun lantas teringat. Terutama bagi mereka yang telah mengenal lama pemuda kelahiran New York 25 Juni 1999 itu.

Salah satunya, Septiandi, teman sekolah Eril semasa di SMAN 3 Bandung. Melalui unggahan thread di akun twitternya, ia mengenang Eril sebagai sosok anak pejabat yang bertanggung jawab dan tidak neko-neko.

merdeka.com telah diizinkan pemilik akun @Septiannrs98 untuk mengutip cuitan dalam threadnya.

"Rekan-rekan satu sekolah saya sudah doa bersama melalui zoom di instagram ikasma3bdg," kata Septian saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (1/6).

Berikut kenangannya akan sosok anak Ridwan Kamil:

Eril

Hampir 8 tahun lalu, mungkin. Ketika itu saya masih kelas X di SMA, masih ingat dalam ingatan. Untuk pertama kalinya, anak seorang walikota itu berinteraksi dengan saya. Sore hari menjelang pulang sekolah, dia meminjam sepatu saya. Untuk kegiatan kaderisasi, katanya.

"Saya mau pulang Ril, lama tidak?" bingung juga, karena rumah saya jauh, tidak mungkin menunggu dia sampai selesai, pasti keburu gelap. Tapi, saya tetap tunggu dia di depan perpustakaan dengan sepatu penggantinya. Sudah pukul 5 sore, saya harus pulang, tapi tidak

mungkin saya minta sepatunya, dia di ruang mana pun saya tidak tahu. Dengan berat hati saya pakai sepatunya walaupun sedikit aneh karena saya tidak biasa pakai barang orang lain, apalagi dia anak pak RK.

Sepanjang jalan saya membiasakan diri dengan sepatu itu, ya... rasanya aneh ya, memakai sepatu yang tidak biasanya. Saya pikir, sudahlah, besok juga kembali lagi. Saya memberi kabar kalau saya tidak lagi menunggu, karena mau tidak mau harus pulang. Eril pun tidak membalas

Ya, pasti dia jauh dari ponselnya karena sedang ada kegiatan. Setelah pukul 7 malam saya sampai rumah, pukul 8 Eril membalas line saya, dia meminta untuk bertukar sepatu. Saya pikir, "besok saja Ril, rumah saya jauh, apalagi dengan jarak rumah kamu, ujung ke ujung". Tapi, dia

Kekeuh mau sepatunya balik di hari itu juga. Eh jadi saya khawatir, saya tau dia tidak pakai sepeda motor, hanya membawa sepeda. Masa iya harus ke rumah saya, bolak balik dg jarak rumahnya jadi 35km bersepeda? Apalagi, soekarno hatta yang ramai dan gelap membuat saya semakin

Khawatir kalo sampai Eril kenapa-napa hanya karena urusan tukar sepatu. Tapi akhirnya saya mengalah, saya pun mengiyakan tapi bertemu di Metro Indah Mall. Karena kalau ke rumah saya akan lebih jauh lagi dan dia pasti tersesat karena komplek rumah saya seperti labirin.

Sambil khawatir karena gara-gara saya pulang ke rumah, saya bikin anak pak wali harus bersepeda jauh di malam hari. Maklum, saya orangnya dulu mudah sekali overthinking. Saya menunggu kabar dia dan terus menanyakan dimana. Akhirnya, dia sampai di MIM

Menunggu saya bersama sepedanya yang khas, saya tau dia sudah lelah berkegiatan seharian penuh, ditambah lagi dengan kejadian ini, alasannya ternyata sepatu yany ia tukar dengan saya juga bukan sepenuhnya milik Eril? Mungkin milik saudaranya yg hanya ia

Pinjam untuk hari itu, saya tidak tahu. Sambil masih khawatir karena ia harus pulang bersepeda lagi, saya pun tidak bisa mengantarnya karena saya belum punya sim untuk mengendarai mobil, baginya pun tidak keberatan. Benar" bikin khawatir sampai pulang ke rumah saya masih ovt

Dari situ saya pikir, dia orang yang sangat bertanggung jawab.

Eril, kekhawatiran itu sekarang datang lagi ril, Hari jumat aku mendapatkan kabar telpon bahwa Yangti meninggal dunia, aku juga mendapat kabar kalau kamu hilang terseret arus di Aare. Eril, kenapa seperti ini?

Dalam harap cemas semua orang, terutama keluargamu, saya hanya bisa berharap kamu kembali dalam keadaan selamat, Eril. Berharap rahasia Allah adalah rahasia terbaik. Dimanapun ya Ril, bertahan ya 😔. Saya tidak ingin hanya sampai mengenang sepatu saya mengenal kamu

Saya masih ingin melihat kamu meneruskan langkah ayahmu yang hebat, dengan lebih hebat lagi Ril, pasti. Kamu bisa Ril. Pulang ya Ril, Eril?

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel