Cerita Warga Hong Kong Terjebak Semalaman di Salon karena Aturan Lockdown Mendadak

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - "Gaya penyergapan" seolah diadopsi pemerintah Hong Kong dalam memberlakukan aturan penguncian wilayah alias lockdown demi menekan laju gelombang ke-4 serangan virus corona baru. Pemberlakuan secara tiba-tiba ini ternyata membuat sejumlah warga terjebak di dalam toko, bahkan salon, di mana beberapa di antaranya berdiam hingga semalaman.

Melansir laman South China Morning Post, Kamis (4/2/2021), kejadian ini sempat menimpa seorang gadis 10 tahun yang berada di salon untuk merapikan rambut saat ibunya pergi membeli makanan saat aturan berlaku. Pihak berwenang baru mengizinkan anak itu bertemu kembali dengan orangtuanya setelah mencatat data pribadinya.

Strategi menutup daerah, sering kali dalam semalam, sementara warga diujicobakan ini pun dikritik beberapa pakar kesehatan. Sementara salah satunya menyarankan perbaikan pendekatan, yang lain memperingatkan penduduk agar tak meninggalkan rumah larut malam.

Pihak berwenang mengunci 17 blok di Sham Shui Po Selasa, 2 Februari 2021, tapi setelah menyaring warga, mereka gagal mengungkap kasus COVID-19. Salah satu foto yang viral pada kejadian ini, yakni seorang pelanggan salon antre untuk diuji dengan rambutnya masih dibungkus plastik, menandai pewarnaan baru setengah jalan.

Pemilik salon, seorang pria bermarga Chan berusia 30-an, mengatakan pelanggan "marah" atas penutupan tiba-tiba. "Ia (pelanggan salon) berhasil pulang dan akhirnya bisa keramas. Ia akan kembali dan melanjutkan pemotongan rambutnya setelah bekerja nanti," kata Chan.

Dua pelanggan lain juga terjebak di salon bersamanya dan harus menunjukkan hasil negatif tes COVID-19 sebelum pihak berwenang mengizinkan mereka pergi pada larut malam. Karyawan paruh waktu Chan untungnya telah pergi sebelum operasi dimulai. Tapi, si pemilik salon harus menginap dan baru bisa membuka bisnisnya setelah pukul 10 pagi ketika petugas polisi melepas pita pembatas.

Pelanggan Meningap Semalaman

Petugas kesehatan mengenakan APD berjaga di area tertutup di distrik Jordan, di Hong Kong, Minggu (24/1/2021). Kawasan tersebut telah mengkonfirmasi 162 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi bulan ini. (AP Photo/ Kin Cheung)
Petugas kesehatan mengenakan APD berjaga di area tertutup di distrik Jordan, di Hong Kong, Minggu (24/1/2021). Kawasan tersebut telah mengkonfirmasi 162 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi bulan ini. (AP Photo/ Kin Cheung)

Ketika pihak berwenang mengunci Majestic House di Tsim Sha Tsui pada Senin malam, 1 Februari 2021, sekitar 30 orang terjebak di salon Hair Peace. Sekali lagi, tak ada kasus baru yang ditemukan selama operasi.

"Staf kami, tamu, atau orang di seluruh gedung aman," kata bisnis itu dalam unggahan Facebook pada Selasa, 2 Februari 2021. "Untuk semua tamu yang menginap di toko kami tadi malam, kami sangat menyesal atas malam yang sulit."

Gadis berusia 10 tahun itu ada di antara mereka dan baru bisa bersatu kembali dengan ibunya sekitar pukul 11 malam. "Setelah Departemen Dalam Negeri mengetahui situasinya, gadis itu diuji dan informasinya didaftarkan, kemudian ia diizinkan pergi bersama ibunya atas kebijaksanaan kami," kata seorang perwakilan departemen.

Pihak berwenang tak secara langsung menjawab pertanyaan tentang bagaimana mereka dapat menangani situasi seperti itu, di mana penduduk terkunci di dalam lokasi bisnis secara berbeda atau apakah mereka akan mengubah strategi demi mencegah kejadian serupa.

Pro Kontra Aturannya

Sejumlah petugas kesehatan mengenakan APD berjaga di area tertutup di distrik Jordan, di Hong Kong, Minggu (24/1/2021). Lockdown diterapkan di distrik Jordan dan Sham Shui Po yang yang mencakup sebagian kecil kota, tapi padat penduduk di Semenanjung Kowloon. (AP Photo/ Kin Cheung)
Sejumlah petugas kesehatan mengenakan APD berjaga di area tertutup di distrik Jordan, di Hong Kong, Minggu (24/1/2021). Lockdown diterapkan di distrik Jordan dan Sham Shui Po yang yang mencakup sebagian kecil kota, tapi padat penduduk di Semenanjung Kowloon. (AP Photo/ Kin Cheung)

Setidaknya tujuh dari 10 operasi lockdown telah dilakukan sejak 23 Januari, dan gagal mengidentifikasi infeksi baru. Pemerintah mengatakan, tak adanya kasus dari operasi baru-baru ini memang "diharapkan," karena tujuannya menyaring warga sebelum rantai transmisi terbentuk.

Tapi, ahli pernapasan, Dr Leung Chi-chiu meminta pemerintah mengevaluasi kembali tindakan penguncian karena telah membawa "risiko yang tak perlu" pada orang-orang, mencatat jumlah kasus lokal telah menurun.

"Bahkan, jika kami menemukan beberapa kasus dari beberapa ribu, itu hanya jumlah yang sangat kecil," kata Leung. "Tak logis untuk menahan pelanggan di toko dan gedung. Orang-orang ini secara tak perlu dihadapkan pada risiko lebih lanjut (dengan terjebak bersama). Mereka harus dilepaskan segera setelah pengujian untuk mengurangi kemungkinan paparan."

Namun demikian, ahli penyakit menular, Dr Joseph Tsang Kay-yan, tak setuju. Ia mengatakan bahwa penguncian itu "sesuai harapan" dan hanya sedikit yang dapat dilakukan pemerintah untuk membuat tindakan seperti itu lebih nyaman bagi masyarakat.

Infografis Gejolak Panjang di Hong Kong

Infografis Gejolak Panjang di Hong Kong. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Gejolak Panjang di Hong Kong. (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: