Cerita Warga Wonogiri Takut Anaknya Masuk Sekolah Khilafatul Muslimin

Merdeka.com - Merdeka.com - Khilafatul Muslimin Wonogiri memiliki sebuah sekolah setingkat madrasah ibtidaiyah, di Dukuh Jaten, Desa Wonorejo, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan keterangan polisi, Madrasah Ibtidaiyah Usman Bin Affan Sekolah Ukhuwah Islamiah (PPUI) Khilafatul Muslimin tersebut didirikan bulan Februari 2021 lalu.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, pendirian sekolah yang memanfaatkan rumah kontrakan salah satu pengurus itu pada awalnya mendapatkan penolakan dari warga. Para pengurus kemudian mengajukan izin ke pemerintah desa.

Pemerintah desa yang merasa tidak memiliki kewenangan pun akhirnya tidak berani mengeluarkan izin. Namun kegiatan pendidikan tetap berjalan meski hanya diikuti beberapa siswa. Itupun berasal dari luar daerah.

Sutrisno, warga Dukuh Jaten mengaku tidak berani mengikuti kegiatan Khilafatul Muslimin maupun kegiatan pendidikan di madrasah untuk anaknya. Apalagi, lanjut dia, para pengurus kelompok tersebut tidak menggunakan dasar Pancasila.

"Warga kampung sini yang ikut kelompok mereka belum ada. Anak-anak sing masuk TPA (madrasah ibtidaiyah) juga belum ada," ujar Sutrisno saat ditemui wartawan, Kamis (16/6).

Ketua RT 01 RW 09 Dukuh Jaten, Ridiyanto para pengurus Khilafatul Muslimin di desanya memang hampir tidak pernah melakukan interaksi dengan warga. Demikian juga warga setempat juga enggan berkomunikasi.

"Mereka itu nggak bermasyarakat di sini kok. Masyarakat juga nggak mau ke dalam sini (kompleks Khilafatul Muslimin), takut gitu lho masuk lokasi sini," katanya.

Dengan ditutupnya sekolah tersebut, dikatakan Ridiyanto, warga merasa lega. Terlebih sebelumnya warga sudah sepakat dan menandatangani surat pernyataan penolakan.

"Semua pada nggak mau (ada sekolah dan tempat kegiatan Khalifatul Muslimin), sudah memberi pernyataan pada aparat desa, kecamatan. Warga sudah pada tanda tangan di atas materai. Tanda tangan penolakan," tandasnya.

Sebelumya diberitakan, Polres Wonogiri mengamankan 7 orang untuk diperiska. Mereka terdiri dari kepala sekolah, pengasuh dan guru. Ketujuh orang tersebut berinisial YH, SG, IZ, SB, MI, RW dan AR.

"Terduga pelaku merupakan warga dari luar wilayah Wonogiri," ujar Kapolres.

Selain pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, sebuah buku silabus kurikulum, 5 buah buku materi kegiatan belajar, dan surat pernyataan kesanggupan orang tua murid tentang mengikuti kegiatan belajar di PPUI Madrasah Ibtidaiyah.

"Kelompok Khilafatul Muslimin ini diduga telah melanggar pasal 71 UURI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 65 UURI no.11 tahun 2020 tentang cipta kerja," katanya.

Saat ini, lanjut Kapolres, kegiatan PPUI Khilafatul Muslimin telah dihentikan. Papan nama sekolah pun juga tekah diturunkan. Sementara para murid yang berusia 5-7 telah dikembalikan ke orang tua dengan pendampingan dari perlindungan anak (PPKB dan P3A). [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel