Cerita WNI Berlindung di Bunker Nazi dari Serangan Roket Rusia di Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Sewaktu Iskandar menyadari dirinya terjebak di tengah perang Rusia-Ukraina akhir Februari lalu, pekerja pabrik itu memperkirakan dia hanya punya 10 persen kesempatan untuk hidup.

"Saya hanya punya sekeping harapan saya masih bisa hidup di antara kondisi hidup dan mati," kata warga negara Indonesia berusia 46 tahun itu. Iskandar bekerja sebagai petugas quality control di pabrik plastik di Ukraina ketika perang dimulai.

Iskandar yang bekerja di Kota Chernihiv itu mengetahui pasukan Rusia menyerang Ukraina pertama kali dari situs berbagi video YouTube pada pagi hari 24 Februari.

"Tak lama setelah video di YouTube itu selesai, suara penembakan dimulai," kata Iskandar yang bekerja di Ukraina sejak 2017.

Bersama sembilan pekerja asal Indonesia, dua Nepal, dan sisanya pegawai Ukraina, mereka berkumpul di lantai bawah pabrik memikirkan apa yang harus dilakukan.

"Semua terlihat muram dan penuh tekanan. Saya tak bisa tersenyum dan kami mulai panik. Bos menyuruh kami mematikan mesin. Kami hanya berkumpul di situ dan mendengar suara-suara roket di luar sana," kata Iskandar yang berbicara dari rumahnya di Binjai, Sumatera Utara, seperti dilansir laman Aljazeera, Selasa (10/5).

Iskandar dan rekannya sesama pekerja pabrik kemudian mengalami apa yang disebut Pengepungan Chernihiv. Kota itu penting secara strategis. Terletak di sebelah utara Ibu KOta Kiev dan dekat dengan perbatasan Belarusia.

Lebih buruknya lagi, Iskandar berada di Ukraina bersama anaknya, Aris Wahyudi, 23 tahun.

"Semua tim Indonesia di pabrik ini berusia 20-an kecuali saya," kata bapak empat anak itu kepada Aljazeera.

"Mereka semua menunggu jawaban saya tentang apa yang harus dilakukan. Sementara saya tidak tahu harus berkata apa. Sebagian dari mereka juga tidak bisa berkata-kata karena terlalu takut."

Iskandar dan timnya yang biasa membuat plastik belanja dan sarung tangan kemudian memanfaatkan bentuk bangunan pabrik itu sebagai tempat berlindung.

Setiap hari ketika dia berjalan di pabrik, Iskandar sering melihat bangunan kecil di luar yang dia pikir adalah toilet yang sudah tidak dipakai. Tapi kemudian bangunan kecil itu menyimpan rahasia: itu adalah pintu masuk menuju bunker di bawah tanah dan terowongan yang terletak di bawah pabrik.

Rencana menyelamatkan diri

Di masa Perang Dunia Kedua, Chernihiv dikuasai Jerman dari 1941 hingga 1943 dan di sana menjadi lokasi penjara Nazi. Bunker bawah tanah yang dibuat di masa Nazi itu yang kini dipakai Iskandar dan teman-temannya untuk bersembunyi dari serangan roket Rusia.

"Suhu di situ minus 5 derajat Celcius dan kami semua memakai tiga jaket dan topi," kata dia.

"Kami tidur di palet kayu yang kami jadikan tempat tidur dan kami hanya makan buah dan roti. Kami punya satu mesin penghangat kecil tapi rasanya benda itu sama sekali tidak bisa menghangatkan kami."

Di hari keempat di bawah tanah, sekelompok tentara Ukraina tiba untuk beristirahat dan memulihkan diri di dalam bunker. Mereka membawa sebuah mobil yang berisi rekan mereka yang gugur.

"Saya bisa melihat kaki dari salah satu tentara yang gugur itu ketika mereka membuka pintu mobil," kata dia.

"Kami lalu memutuskan untuk berpindah ke atas lagi setelah itu. Seiring makin banyaknya tentara yang datang kami berpikir, pabrik ini sudah tidak aman lagi karena bisa jadi target serangan."

Berkat bentuk bangunan pabrik yang sedemikian rupa, ada banyak tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi. ISkandar dan rekan-rekannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidur di lokasi yang berbeda setiap malam.

"Suara bom terdengar sangat keras setiap hari. Tapi kami beruntung. Mungkin memang belum saatnya bagi kami untuk mati," kata dia.

Ketika Iskandar memikirkan nasibnya di Chernihiv, istrinya, Ayi Rodiah, juga berusaha bisa menolong suaminya dari rumah di Binjai.

"Jelas, saya kaget waktu perang terjadi dan suami saya terjebak di tengah perang," kata dia kepada Aljazeera. "Tapi kalau saya berpikir suami saya mati, takutnya itu jadi kenyataan. Jadi saya hanya berpikir positif saja."

Kedutaan Indonesia di Kiev berupaya menyelamatkan WNI di pabrik itu tapi gagal.

Mereka sempat menerima telepon dari pejabat kedutaan yang menyuruh mereka bersiap untuk dijemput. Tapi kemudian penjemputan dibatalkan di menit-menit terakhir karena alasan keamanan. Suatu hari mereka berhasil masuk ke mobil dan berkendara selama 15 menit tapi kemudian balik lagi ke lokasi semula.

Pada 17 Maret, tiga pekan setelah invasi Rusia bermula, Iskandar akhirnya bisa menyelamatkan diri. Dia pergi dari Chernihiv ke Kiev dengan sebuah mobil sewaan dari kedutaan dan kemudian ke Kota Lviv di dekat perbatasan Polandia.

Pada hari itu sore harinya pabrik plastik itu sebagian hancur terkena serangan bom dan terbakar hebat.

Dari Lvivm Iskandar menyeberang ke Polandia dan terbang dari Warsawa menuju Jakarta via Doha, Qatar, sebelum lanjut ke Medan dan naik mobil ke rumahnya di Binjai. Perjalanan sepanjang lebih dari 8.000 kilometer.

Selain bantuan dari Kedutaan Indonesia, Iskandar berterima kasih atas bantuan warga Ukraina yang menolongnya di perjalanan, memberinya perlindungan dan kendaraan ke tempat aman, termasuk sejumlah rekan kerjanya yang kini masih bertahan dan mengangkat senjata melawan tentara Rusia.

"Rasanya aneh melihat orang yang biasa bekerja dengan kita kemudian memanggul senjata. Tapi mereka sangat baik pada saya. Jika bukan karena bantuan orang Ukraina, saya tak bisa pulang." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel